Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 00.09 WIB

Fitur Baru, Google Cloud Perkenalkan Deteksi Ransomware Berbasis AI di Google Drive

Serangan Ransomware di Google Cloud. (Istimewa) - Image

Serangan Ransomware di Google Cloud. (Istimewa)

JawaPos.com - Ransomware terus menjadi salah satu ancaman siber paling merusak di dunia. Dampaknya bukan hanya kerugian finansial besar, tetapi juga penghentian operasional hingga kebocoran data sensitif. 

Laporan Mandiant (bagian dari Google Cloud) mencatat, pada 2024 sekitar 21 persen dari seluruh kasus penyusupan global terkait dengan serangan ransomware. Rata-rata kerugian per insiden bahkan melampaui USD 5 juta.

Di kawasan Jepang dan Asia Pasifik (JAPAC), 89 persen organisasi yang terkena ransomware baru mengetahui adanya serangan setelah diberi tahu pihak luar, seperti penyerang atau aparat hukum. Fakta ini menegaskan lemahnya deteksi internal dan rendahnya kesiapan organisasi menghadapi serangan siber.

Ngerinya, selama ini, masih banyak organisasi masih mengandalkan antivirus tradisional yang berfungsi mendeteksi kode berbahaya sebelum aktif di sistem. Namun, pendekatan ini terbukti tidak cukup. 

Jenis ransomware baru kerap mampu melewati lapisan perlindungan tersebut dan langsung melumpuhkan operasional bisnis. Karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya mencegah masuknya ransomware, tetapi juga meminimalkan dampaknya ketika serangan berhasil menembus sistem.

Menjawab tantangan tersebut, Google Cloud meluncurkan fitur deteksi dan intervensi ransomware berbasis AI di Google Drive for Desktop. Fitur ini dapat otomatis menghentikan sinkronisasi file yang terindikasi terinfeksi, mencegah penyebaran lebih luas, dan memberi opsi pemulihan cepat hanya dengan beberapa klik.

Fanly Tanto, Country Director Google Cloud Indonesia, menjelaskan, lapisan pertahanan baru ini bukan hanya menghentikan ransomware agar tidak masuk, tetapi juga memastikan serangan yang berhasil menembus sistem tidak bisa merusak file penting pengguna. 

"AI kami mampu mengenali pola serangan ransomware, lalu segera menciptakan ‘perlindungan’ sebelum kerusakan meluas," kata dia melalui keterangannya.

Google Drive for Desktop, yang tersedia di Windows dan macOS, kini dibekali model AI yang dilatih dari jutaan sampel ransomware nyata. Sistem ini terus belajar dari data ancaman global, termasuk melalui integrasi dengan VirusTotal.

Begitu aktivitas mencurigakan terdeteksi—misalnya upaya enkripsi massal pada file—Google Drive akan menghentikan sinkronisasi, mengirimkan notifikasi ke pengguna, dan menawarkan opsi pemulihan file secara instan melalui antarmuka web. 

Proses ini jauh lebih cepat dan sederhana dibanding metode tradisional yang biasanya memerlukan reinstall sistem atau software pihak ketiga berbiaya tinggi.

Selain itu, administrator TI juga mendapatkan visibilitas penuh lewat konsol Admin, termasuk notifikasi, log audit, dan opsi konfigurasi. Fitur ini diaktifkan secara default bagi pelanggan Google Workspace, namun tetap bisa disesuaikan sesuai kebutuhan organisasi.

Fitur deteksi dan intervensi ransomware berbasis AI ini mulai tersedia dalam open beta dan disertakan tanpa biaya tambahan pada sebagian besar paket komersial Google Workspace. Sementara itu, kemampuan pemulihan file juga dapat dinikmati oleh seluruh pengguna.

Dengan meningkatnya kompleksitas serangan siber, kehadiran AI dalam melawan ransomware menjadi langkah penting untuk melindungi bisnis, rumah sakit, sekolah, hingga lembaga pemerintah. 

Solusi ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan digital sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat serangan yang terus berevolusi.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore