
Founder perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pendidikan, PT Reformasi Generasi Indonesia (REFO), Pepita Gunawan (kiri). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat dan kini mulai banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Dari aplikasi pembelajaran adaptif hingga chatbot penjawab pertanyaan, teknologi ini menawarkan efisiensi serta akses belajar yang lebih luas bagi siswa.
Namun, di balik kemajuan tersebut muncul pertanyaan besar, apakah AI berpotensi menggantikan peran guru di ruang kelas? Sejumlah pihak pun bertanya-tanya akan kemungkinan terjadinya hal ini.
Menanggapi hal ini, founder perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pendidikan, PT Reformasi Generasi Indonesia (REFO), Pepita Gunawan, menegaskan bahwa AI sejatinya tak akan menggantikan peran seorang guru. "AI itu tidak akan menggantikan peran guru, bukan dari saya nih, quote-nya dari internet ya AI itu tidak akan menggantikan peran guru. Tapi, AI itu akan menggantikan guru yang tidak menggunakan AI," kata Pepita di Jakarta, Rabu (20/8).
Dia pun menekankan, bahwa REFO sendiri memang tak bisa menjamin jika AI tak menggantikan peran guru. Namun, REFO bisa menjamin bahwa perusahaan ingin bersama-sama dengan guru untuk mendukung dunia pendidikan.
"REFO memberikan support sebesar-besarnya Supaya pemangku kepentingan pendidikan itu tahu caranya pakai AI, tahu bahayanya, tahu baiknya dan tahu bagaimana cara menyeimbangkannya," ungkap dia.
Terkait dengan itu, REFO sendiri akan menggelar Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2025 pada Sabtu (23/8). Dalam kesempatannya, mereka mengajak lebih dari 300 pemangku kepentingan pendidikan dari seluruh Indonesia untuk bersama membentuk masa depan pendidikan yang adaptif, manusiawi, dan berkelanjutan.
IFLS 2025 mengusung tema 'AI-ducated: Unlocking The Future with AI Skills and Beyond', yang mencerminkan era baru di mana menjadi terdidik berarti memahami kekuatan dan dampak AI, mampu beradaptasi dengan percaya diri, serta bijak dalam memanfaatkan AI untuk kebaikan umat manusia.
"Menjadi AI-ducated berarti memahami kapan dan untuk apa kita menggunakan AI. Tentunya dengan tujuan baik dan memperkaya kehidupan manusia. Kita tak bisa memprediksi masa depan, tapi bisa mempersiapkan generasi untuk memimpinnya lewat pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan," tukas dia.
Peran AI dalam pendidikan semakin tak bisa dihindari, sehingga penggunaannya perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab serta empati. Generasi dewasa memiliki kewajiban untuk membekali anak muda menuju Indonesia Emas 2045. Bukan hanya lewat literasi digital dan pemahaman AI, tetapi juga melalui penguasaan keterampilan penting yang mendukung mereka untuk berkembang dan berdaya saing di era yang didominasi teknologi dan AI.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
