
Ilustrasi mobil listrik. (istockphoto)
JawaPos.com - Selain karena fasilitas atau infrastruktur pengisian ulang daya yang masih belum memadai, salah satu penghambat penetrasi mobil listrik di Indonesia adalah anggapan bahwa harga jual kembali mobil listrik yang cenderung cepat jatuh.
Harga jual kembali atau resale value memang kerap jadi pertimbangan banyak orang sebelum membeli kendaraan, khususnya mobil baru. Belum dibeli ko sudah berpikir harga jual kembali? Ya, seringnya demikian.
Nggak ada yang salah dengan hal tersebut. Mengingat harga mobil di Indonesia tidak murah, mereka dengan keuangan terbatas namun berkeinginan punya mobil pribadi, kerap memikirkan aspek harga jual kembalinya bahkan sebelum mobil itu dibeli.
Demikian pula dengan mobil listrik. Benarkah bahwa mobil listrik cenderung jatuh harganya? Fakta di pasaran menunjukkan demikian. Banyak mobil listrik berusia muda yang dijual bekas, harga jual kembalinya terjun bebas.
Alasannya? Mengutip Euronews dan PodPoint, mobil listrik mengalami depresiasi yang cepat karena kombinasi berbagai faktor. Termasuk pesatnya kemajuan teknologi, kekhawatiran tentang masa pakai baterai, dan insentif pemerintah.
Harga awal kendaraan listrik yang tinggi, didorong oleh teknologi yang rumit, juga dapat menyebabkan hilangnya nilai yang signifikan seiring munculnya model yang lebih baru dan lebih terjangkau di kemudian hari.
Industri kendaraan listrik, khususnya mobil, terus berkembang, dengan model-model baru yang memiliki jangkauan lebih jauh, pengisian daya lebih cepat, dan teknologi baterai yang lebih baik muncul secara berkala.
Laju inovasi yang cepat ini berarti bahwa kendaraan listrik lama dengan cepat menjadi kurang diminati. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan penyusutan nilai atau depresiasi mobil listrik terjadi begitu cepat.
Selain itu, mekhawatiran utama bagi banyak calon pembeli kendaraan listrik adalah masa pakai dan potensi penurunan kinerja baterainya. Meskipun baterai kendaraan listrik dirancang untuk bertahan selama bertahun-tahun, kinerjanya dapat menurun seiring waktu, yang berpotensi mengurangi jarak tempuh dan nilai jual kembali.
Bahkan di Indonesia, jaminan atau garansi baterai dianggap putus jika mobil listrik tersebut dipindahtangankan. Dengan kata lain, pembeli mobil listrik bekas, tidak akan dijamin oleh garansi resmi baterainya walaupun mungkin mobil listrik tersebut masih berusia sangat muda.
Yang paling berpengaruh terhadap resale value mobil listrik bekas saat ini adalah kebanyakan konsumen masih ragu-ragu tentang keandalan jangka panjang dan biaya kepemilikan kendaraan listrik, terutama karena kekhawatiran tentang penggantian baterai dan infrastruktur pengisian daya.
Keraguan tersebut sedikit banyak berpengaruh dalam hal penurunan nilai jual kembali mobil listrik.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
