JawaPos.com - Keputusan Twitter baru-baru ini untuk menghentikan sistem verifikasi lamanya dan mulai mengenakan biaya untuk verifikasi telah menimbulkan kontroversi. CEO perusahaan, Elon Musk menyebut sistem lama sebagai "omong kosong" dan menjanjikan sistem baru yang lebih transparan.
Namun, tampaknya sistem baru ini bukannya tanpa kekurangan. Beberapa selebritas dunia termasuk penulis Neil Gaiman, aktor Ron Perlman, Halaman Twitter Institut Teknologi Massachusetts, dan komik Twitter, menerima tanda centang biru untuk verifikasi tetapi mengklaim bahwa mereka tidak membayar untuk layanan tersebut.
Hal ini kemudian membuat banyak pengguna bingung dan heran, bahkan ada yang mempertanyakan legalitas tindakan Twitter. Tidak ada yang tahu berapa banyak pengguna yang telah diverifikasi ulang Twitter dengan cara ini, dan apakah mereka diverifikasi secara gratis atau jika seseorang membayar untuk verifikasi mereka.
Yang jelas, keputusan Twitter tersebut menimbulkan kebingungan dan reaksi di kalangan penggunanya. Salah satu aspek yang sangat memprihatinkan dari situasi ini adalah bahwa Twitter menyarankan agar beberapa pengguna membayar untuk verifikasi padahal sebenarnya tidak.
Ini adalah dukungan palsu, yang ilegal menurut Lanham Act, undang-undang federal di Amerika Serikat. Situasi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kurangnya transparansi dan komunikasi Twitter dengan para penggunanya.
Dilansir via Engadget, perusahaan tidak mengoperasikan departemen hubungan masyarakat yang dapat dihubungi untuk memberikan komentar, yang membuat banyak pengguna merasa frustrasi dan diabaikan.
Di dunia di mana platform media sosial memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk opini dan wacana publik, transparansi dan akuntabilitas menjadi lebih penting dari sebelumnya. Tindakan Twitter baru-baru ini menunjukkan bahwa jalan perusahaan masih panjang dalam hal ini.
Karena Twitter terus meluncurkan sistem verifikasi barunya, penting bagi perusahaan untuk berkomunikasi secara jelas dengan penggunanya dan memastikan bahwa sistem tersebut adil dan transparan untuk semua orang.
Hanya dengan begitu platform dapat berharap untuk mendapatkan kembali kepercayaan penggunanya dan mempertahankan posisinya sebagai alat vital untuk komunikasi dan ekspresi.