Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juni 2024 | 00.09 WIB

Sebelum Diserang Hacker, Server Pusat Data Nasional Sempat Mengalami Gejala Anomali

Ilustrasi: Ilustrasi: Gejala aneh sempat dirasakan sebelum server PDN diserang ransomware. (Security Magazine) - Image

Ilustrasi: Ilustrasi: Gejala aneh sempat dirasakan sebelum server PDN diserang ransomware. (Security Magazine)

 
JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Telkom Sigma, dan beberapa Kementerian/Lembaga pengguna Pusat Data Nasional (PDN) masih dibuat sibuk oleh serangan ransomware yang menyerang PDN tersebut. Pusat Data Nasional memang belakangan diketahui mendapat serangan ransomware dengan jenis Braincipher Lockbit 3.0.
 
Mulanya, pada Kamis (20/6), tepat sepekan lalu, layanan keimigrasian mengalami gangguan dengan pendataan di Bandara Soekarno-Hatta baik di kedatangan dan keberangkatan internasional dilaporkan menumpuk. Belakangan diketahui, gangguan tersebut akibat terganggunya sistem atau server di Pusat Data Nasional.
 
Sampai pada Senin (24/6) kemarin, akhirnya pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo dan BSSN beserta perwakilan Telkom membenarkan bahwa server Pusat Data Nasional atau PDN mendapatkan serangan ransomware. Masalah tersebut sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh para pakar keamanan siber.
 
 
Menelisik sedikit sebelum lumpuhnya server PDN, ternyata komputer Pusat Data Nasional sempat mengalami gejala anomali. Hal ini beberapa waktu lalu disampaikan oleh Juru Bicara BSSN Ariandi Putra. Dirinya menjelaskan, berdasarkan hasil analisis forensik sementara, diketemukan adanya upaya penonaktifkan fitur keamanan Windows Defender mulai 17 Juni 2024 pukul 23.15 WIB.
 
Hal tersebut pada akhirnya memungkinkan aktivitas malicious dapat berjalan. Hingga terjadilah serangan ransomware.
 
“Aktivitas malicious mulai terjadi pada 20 Juni 2024 pukul 00.54 WIB, diantaranya melakukan instalasi file malicious, menghapus filesystem penting, dan menonaktifkan service yang sedang berjalan. Diketahui tanggal 20 Juni 2024, pukul 00.55 Windows Defender mengalami crash dan tidak bisa beroperasi,” jelas Ariandi melalui keterangannya.
 
Menurut Ariandi, tim BSSN saat itu masih terus berproses mengupayakan investigasi secara menyeluruh setelah mengidentifikasi sumber serangan Brainchiper ransomware yang merupakan pengembangan terbaru dari ransomware lockbit 3.0.
 
“Akan dilakukan analisis lebih lanjut terhadap sampel ransomware dengan melibatkan entitas keamanan siber lainnya. Hal ini menjadi penting untuk lesson learned dan upaya mitigasi agar insiden serupa tidak terjadi lagi,” tuturnya.
 
Sampai pada Senin (24/6) dipastikan bahwa serangan ransomware benar adanya. Pasrah, pemerintah tak bisa menangkal atau menghadapi serangan peretas tadi. Data PDN dipastikan tercuri.
 
Seperti sudah diberitakan sebelumnya, Windows Defender adalah perangkat lunak yang berfungsi memberikan perlindungan dari malware. Sejak Windows 8, Windows Defender merupakan bagian dari sistem operasi (pre- installed). 
 
Perangkat lunak ini berfungsi mengidentifikasi dan menghapus virus, spyware, serta perangkat lunak berbahaya lainnya (malware) termasuk ransomware. Sayangnya, sistem yang merupakan layanan gratisan ini berhasil dilumpuhkan oleh peretas dengan sangat mudah.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore