
Menristek Dikti Muhammad Natsir. (Hendra Eka/Jawa Pos)
RENCANA Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengundang akademisi luar negeri untuk menjadi rektor menuai pro dan kontra. Apa dan bagaimana strateginya menghadapi gelombang penolakan? Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Folly Akbar dengan Menristekdikti Mohamad Nasir di Istana Kepresidenan Bogor kemarin (4/8).
---
Apa yang membuat Anda ngotot menjalankan kebijakan itu di tengah banyak penolakan?
Kolaborasi antarnegara dalam pengajaran dan penelitian itu hal biasa. Tapi, Indonesia melihat itu tabu. Karena itu, Indonesia kalau mau memasuki persaingan dunia mau nggak mau harus kolaborasi. Misalnya, NTU Singapura didirikan pada 1980-an, masih muda sekali, tapi mengapa sudah ranking 12 besar dunia? Dia kolaborasi.
Pengalaman network penting. Karena itu, rektor yang akan kami masukkan, pertama, harus punya network yang baik. Kedua, punya experience memimpin perguruan tinggi di luar negeri. Ketiga, publikasi, riset, dan inovasinya terbukti mampu meningkatkan reputasi pada saat memimpin.
Anda yakin sekali cara itu bisa mendongkrak ranking? Apakah sudah ada kajian?
Saya melihat negara lain di dunia berhasil karena itu. Tak usah riset, Singapura melakukan hal itu. Hongkong, Taiwan, Tiongkok, bahkan Arab Saudi berhasil karena itu. Apa perlu riset lagi? Wong sudah hal yang nyata. Sekarang yang jadi masalah kita tidak mau berubah. Dianggap sudah segala-galanya.
Proses rekrutmen rektor asing melalui bidding?
Kalau yang di negeri pasti bidding. Global bidding. Supaya nanti kita mendapatkan rektor yang berkualitas sesuai dengan apa yang diinginkan.
Kalau ada penolakan dari senat di universitas bagaimana?
Itu pasti terjadi awalnya. Kami akan jelaskan. Apa yang ditolak.
Bagaimana menanggapi resistansi. Sebab, mungkin ada yang merasa dilangkahi karirnya?
Karena itu harus berkolaborasi. Kalau you punya kemampuan yang sama, saya challenge seperti itu. Lima tahun ke depan bisa ranking sekian sanggup tidak? Saya nanti antara yang dalam negeri dan luar negeri akan kita tantang hal yang sama.
Kalau sekarang ranking masih 300, bagaimana empat tahun ke depan bisa 200 besar? Apa strategi yang akan Anda lakukan?
Harusnya tidak ada yang ditakutkan. Tapi, saya heran, semua kok mem-bully saya?
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
