Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Oktober 2020 | 23.59 WIB

Negara “Nol” Kasus Covid-19, Ekonomi Masih StabiL ?

Photo - Image

Photo

DUNIA kini tengah tergoncang akibat penyakit baru yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome-Related Coronavirus 2 atau SARS-CoV-2. Kini penyakit baru yang muncul pada 2019 itu, lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 atau Coronavirus Disease.

Virus Covid-19 pertama kali muncul di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019. Namun seiring dengan berjalannya waktu virus Covid-19 menyebar ke beberapa negara sekitar dan berkembang menjadi pandemi global.

Versi Pemerintah China, asal mula penyebaran virus Covid-19 adalah pasar laut di Wuhan. Namun, justru ditemukan beberapa kasus awal yang tidak berkaitan dengan lokasi ini. Melansir The Guardian, Sabtu, 2 Mei 2020, menuliskan kalau laboratorium di Wuhan meneliti beberapa virus, salah satunya adalah kelelawar yang diklaim sebagai inang penyebaran virus Covid-19. Hal ini kemudian menjadi sorotan bagi dunia, karena pandemi yang semakin meluas di ranah global.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus berupaya mengidentifikasi penyebab dan penanganan virus Covid-19. Pada 9 April 2020, WHO menerbitkan kronologi komunikasinya dengan Komisi Kesehatan Kota Wuhan, Hubei, pada 31 Desember 2020, yang berisikan laporan penemuan kasus pneumonia. Pada hari tersebut, layanan informasi epidemi WHO dengan mengambil dari laporan berita lain, kemudian ditransmisikan oleh jaringan pengawasan epidemiologi internasional ProMed – program Masyarakat Internasional untuk Penyakit Menular- bahwa ditemukan kelompok kasus pneumonia serupa -yang dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Kota Wuhan – dengan penyebab yang tidak diketahui. Hal ini kemudian mendorong pemerintah China dan pihak yang berwenang di China, untuk menjelaskan kasus tersebut.

Pada 5 Januari 2020, WHO mengeluarkan laporan Berita Wabah Penyakit untuk pertama kalinya. Platform ini digunakan untuk memublikasi informasi teknis yang ditujukan kepada komunitas ilmiah dan kesehatan masyarakat, maupun media global. Disusul dengan adanya laporan kematian pertama di Wuhan akibat virus Covid-19. Pasca laporan kematian, beberapa negara kemudian melaporkan kepada WHO adanya impor kasus virus Covid-19 yang dimulai dari Negara Thailand, Jepang, Amerika Serikat, Prancis, dan Uni Emirat Arab pada Januari 2020.

Virus Covid-19 sangat berkaitan dengan sindrom pernafasan akut SARS, sehingga Covid-19 juga mengandung SARS dalam penyebutannya. Diketahui sebelumnya SARS telah menjadi wabah global pada tahun 2002 sampai 2003 dengan jumlah kasus positif 8.000 orang. Namun virus ini dapat dihentikan, sehingga jumlah kasus tidak semakin bertambah. Pencegahan ini lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan virus Covid-19, karena pasien positif menunjukkan gejala signifikan. Berbeda dengan Covid-19 yang mana spektrum penyakitnya hanya menunjukkan gejala infeksi ringan hingga tanpa gejala, sehingga pasien Covid-19 mampu memperluas penyebaran tanpa disadari.

Hingga saat ini, penyebaran virus Covid-19 di seluruh dunia, sedikitnya telah menginfeksi 42 juta orang dengan jumlah kematian mencapai 1,1, juta orang.

Berdasarkan data WHO selama 2 minggu terakhir, wilayah penyumbang kasus baru tertinggi adalah wilayah Eropa dengan peningkatan 33 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Meskipun tidak secara substansi, peningkatan kasus baru juga terjadi di wilayah Amerika, Mediterania Timur, dan Afrika, khususnya di beberapa negara seperti India, Amerika Serikat, Prancis, Brasil, dan Inggris Raya. Sedangkan penurunan kasus baru dan kematian juga dilaporkan di Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Perkembangan kasus virus Covid-19 masih terus meningkat di berbagai negara, bahkan di beberapa negara yang telah mengalami penurunan, justru terjadi lonjakan kasus gelombang kedua. Namun, diantaranya juga terdapat beberapa negara yang berhasil menghindari virus Covid-19, diantaranya Palau, Micronesia, Marshall Islands, Nauru, Kiribati, Tuvalu, Samoa, Vanuatu, dan Tonga.

Palau merupakan negara kepulauan yang berlokasi di Samudera Pasifik dan dekat dengan Papua Barat dan Maluku Utara, serta Filipina. Negara ini terkenal dengan destinasi wisata Danau Ubur-ubur, sehingga negara ini berjalan dengan mayoritas pendapatannya di sektor pariwisata. Pada tahun 2017, lembaga keuangan dunia IMF menunjukkan, sektor pariwisata di Palau menyumbang 40 persen dari Produk Domestik Bruto.

Namun pasca meluasnya pandemi Covid-19, perbatasan Palau ditutup sejak akhir Maret 2020, sehingga temuan kasus Covid-19 dapat diantisipasi dan dicegah. Meskipun di sektor kesehatan Negara Palau masih nol kasus, namun dampak lain yang menyebabkan tantangan bagi negara ini khususnya di sektor ekonomi. Adanya gejolak perekonomian selama pandemi Covid-19 menyebabkan ancaman baru. Salah satu hotel mewah yang menjadi sandaran pariwisata Negara Palau ditutup, bahkan hanya dihuni oleh warga setempat sebagai lokasi karantina. Apabila pandemi tidak kunjung mereda hingga akhir tahun 2020, Negara Palau akan mengalami kebangkrutan.

Guna mengantisipasi kerugian selama pandemi Covid-19, pemerintah setempat mengumumkan akan membuka kembali penerbangan ke Negara palau mulai 1 September 2020 untuk perjalanan penting, dan menawarkan bantuan tunai kepada warganya.

Nauru merupakan negara kepulauan kecil, yang berada di Samudera Pasifik dengan luas 21 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 orang. Sedangkan Kiribati adalah negara yang terdiri dari kumpulan terumbu karang yang berbentuk melingkar, salah satu yang terkenal yakni Pulau Banaba.

Dikutip dari Gulf News, 14 Juni 2020, bahwa mayoritas negara-negara di Samudera Pasifik masih mengalami nol kasus. Ini karena letaknya yang cenderung jauh dari negara lainnya, khususnya negara pusat penyebaran Covid-19.

Disamping masalah di sektor pariwisata, permasalahan lainnya yang akan mengancam stabilitas perekonomian negara nol kasus Covid-19 seperti di industri perikanan. Sebagai upaya untuk mencegah masuknya virus Covid-19, kapal-kapal yang berasal dari negara terjangkit dilarang untuk bersandar di pelabuhan kota tersebut. Sedangkan untuk kapal tanker bahan bakar dan kapal kontainer - kapal pemasok kebutuhan utama – harus menunggu 14 hari di perbatasan laut sebelum memasuki wilayah pelabuhan. Hal ini terjadi di wilayah Negara Kepulauan Marshall, dimana negara ini mengkhususkan diri pada perdagangan ikan akuarium yang mengalami penurunan angka ekspor hingga 50 persen, sebagaimana dijelaskan pada laporan media AS.

Di sisi lain, tidak sepenuhnya negara nol kasus mengalami kendala di sektor perekonomian. Seperti Negara Vanuatu dengan jumlah penduduknya mencapai 300.000 orang. Vanuatu mengklaim, warganya berharap agar perbatasan ditutup selama mungkin untuk mencegah masuknya virus Covid-19.

Menurut pemberitaan yang dimuat bbc.com, 24 Agustus 2020, sekitar 80 persen warga Vanuatu berdomisili di luar ibu kota, sehingga kehidupannya bergantung pada sistem ekonomi tradisional setempat atau tidak terpengaruh dengan tingkat impor dan ekspor maupun sistem ekonomi dunia.

Melansir data yang dihimpun oleh tirto.id, 2 Juli 2020, kondisi perekonomian global tahun 2020 perubahan proyeksi ekonomi yang ditetapkan IMF pada Juni 2020, menyatakan dunia akan mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai minus 4,9 persen, yang diiringi dengan angka kemiskinan ekstrem mencapai 71 juta jiwa, akibat adanya gelombang PHK selama kuartal II tahun 2020 di angka 195 juta pekerja.

Pemerintah di negara-negara dunia telah menggelontorkan dana sebagai stimulus untuk menggerakkan lagi perekonomian dunia. Beragam kebijakan moneter juga turut ditetapkan seperti pemotongan tingkat suku bunga, injeksi likuiditas, dan pembelian aset. Bahkan beberapa negara yang telah mengalami pemuncakan kasus Covid-19, berangsur-angsur mulai membuka kembali siklus perekonomiannya, meskipun langkah ini masih memicu polemik.

Ini karena membuka peluang masuknya virus Covid-19 dan munculnya gelombang kedua grafik virus Covid-19. Namun diperkirakan tidak akan terjadi penutupan ekonomi kembali, dengan harapan agar perekonomian dapat pulih. Sedangkan dari sudut pandang sektor kesehatan diharapkan masyarakat dapat “berdamai” dan “hidup berdampingan” dengan virus Covid-19 dengan menerapkan new normal life.

 

Fajar Dinar Putri S

Mahasiswa Magister Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore