
Dony Lesmana (dok. Pribadi)
MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), perhatian warga Nahdliyin kembali tertuju pada arah organisasi dan sosok yang akan dipercaya memimpin jam'iyah terbesar ini.
Muktamar seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, mengevaluasi perjalanan organisasi, sekaligus meneguhkan kembali semangat khidmah kepada umat. Namun, di tengah dinamika menuju Muktamar NU, muncul pula keresahan mengenai kerasnya perebutan pengaruh dan jabatan.
Berbagai dugaan praktik transaksional dalam proses mencari dukungan tentu harus dibuktikan secara objektif. Jangan sampai isu berubah menjadi fitnah atau tuduhan tanpa dasar. Tetapi, jika isu tersebut terus menjadi pembicaraan di tengah warga NU, ada satu pertanyaan penting yang layak direnungkan bersama: apakah kita sedang mencari penghidupan di NU, atau benar-benar sedang berusaha menghidupkan NU?
Muktamar NU bukan hanya tentang siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU atau siapa yang dipercaya menjadi Rais Aam. Muktamar adalah momentum menentukan arah perjalanan organisasi. Di dalamnya terdapat amanah para ulama, pesantren, santri, badan otonom, lembaga pendidikan, lembaga sosial, kader, serta jutaan warga Nahdliyin.
Karena itu, ukuran seorang calon pemimpin NU seharusnya tidak berhenti pada banyaknya dukungan. Lebih dari itu, harus dilihat keilmuan, integritas, kapasitas, ketulusan, rekam jejak pengabdian, dan kesediaannya menjaga amanah.
Perbedaan pilihan adalah hal biasa. Adu gagasan juga bagian dari dinamika organisasi. Yang menjadi persoalan adalah ketika kontestasi berubah menjadi perebutan kepentingan. Apalagi jika muncul persepsi bahwa dukungan dapat diperoleh melalui uang, fasilitas atau transaksi tertentu. Jika memang ada dugaan seperti itu, mekanisme organisasi harus mampu memeriksanya secara adil. Jika terbukti, harus ada tindakan sesuai aturan. Jika tidak terbukti, nama baik pihak yang dituduh juga harus dipulihkan.
Menjaga marwah NU bukan berarti menutup persoalan. Sebaliknya, keberanian meluruskan persoalan adalah bagian dari menjaga marwah organisasi. Ada pertanyaan sederhana yang seharusnya diajukan kepada siapa pun yang ingin memimpin NU, mengapa ingin menjadi pemimpin NU?
Apakah karena ingin mengabdi kepada umat atau karena jabatan memberikan akses, pengaruh, fasilitas dan keuntungan tertentu?
Pertanyaan ini penting karena jabatan di NU bukan hadiah. Jabatan adalah amanah. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada umat dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022