
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute. (dok. Pribadi)
Oleh: Perdana Wahyu Santosa *)
Rupiah tidak meminta simpati, melainkan hanya meminta kebijakan yang konsisten. Ketika Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate hingga 5,75 persen pada 18 Juni 2026, sebagian pelaku pasar terkejut dan segera menghitung dampaknya terhadap kredit, saham, obligasi, serta cicilan. Itu wajar, karena suku bunga yang naik memang tidak pernah terasa ringan. Namun, dalam keadaan rupiah tertekan oleh dolar kuat, gejolak energi, dan keluarnya modal portofolio, pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi apakah kenaikan bunga menyakitkan.
Pertanyaannya: berapa biaya yang harus ditanggung negara jika bank sentral terlambat bertindak?
Kita perlu membaca langkah-langkah BI secara proporsional. Kenaikan suku bunga bukan merupakan tanda bahwa pemerintah dan bank sentral kehilangan kendali. Justru sebaliknya, itu sinyal bahwa otoritas tidak membiarkan pasar berjalan sendiri. Dalam ekonomi terbuka seperti Indonesia, kurs rupiah bergerak bukan hanya oleh ekspor-impor, tetapi juga oleh persepsi investor, imbal hasil global, harga minyak, geopolitik, serta keyakinan terhadap disiplin fiskal. Ketika semua faktor itu bergerak bersamaan, kebijakan moneter harus lebih sigap daripada biasanya.
Tentu, suku bunga bukan obat untuk semua penyakit. BI Rate tidak bisa langsung menambah ekspor, membangun pabrik, memperbaiki logistik, atau membuat devisa hasil ekspor lebih lama tinggal di dalam negeri. Namun, BI Rate dapat membeli waktu yang berharga: waktu untuk menenangkan ekspektasi, menahan tekanan inflasi impor, dan mencegah pelemahan rupiah menjadi kepanikan. Dalam krisis kepercayaan, waktu sering kali lebih mahal daripada bunga.
Ada alasan kuat mengapa BI mengambil posisi pro-stabilitas. Rupiah yang melemah tajam tidak berhenti di meja transaksi valuta asing. Ia memasukkan harga bahan baku impor, obat-obatan, energi, mesin, pupuk, makanan, biaya logistik, hingga biaya pendidikan di luar negeri.
Bagi rumah tangga, kurs lemah muncul sebagai kenaikan harga kecil yang berulang. Bagi dunia usaha, ia hadir sebagai margin yang menipis dan kebutuhan lindung nilai yang semakin mahal. Menjaga rupiah, pada akhirnya, bukan hanya menjaga investor; ia juga menjaga daya beli masyarakat.
Namun, dukungan terhadap langkah BI tidak boleh berubah menjadi pemujaan terhadap bunga tinggi. Di sinilah nuansanya penting. Kenaikan BI Rate memang diperlukan ketika rupiah bergerak terlalu liar, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi.
Bunga yang terlalu tinggi dapat menekan kredit, memperlambat investasi, menurunkan valuasi saham, dan meningkatkan biaya utang pemerintah. UMKM yang membutuhkan modal kerja, keluarga yang ingin mengambil KPR, dan perusahaan yang merencanakan ekspansi akan ikut merasakan dampaknya. Stabilitas penting, tetapi stabilitas yang membunuh denyut ekonomi juga bukan tujuan.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
