alexametrics

Jebakan Rogue Journals

Oleh: Budi Darma *)
26 Juli 2019, 15:24:04 WIB

SIAPA saja yang bergabung dengan WhatsApp (WA) Group, akademisi atau apa pun namanya, pasti akan merasa sesak napas. Sebab, hampir setiap hari ada informasi yang masuk mengenai seminar internasional di sini dan di sana, bulan ini dan bulan itu, pembicaranya ini dan itu lengkap dengan fotonya, terutama pembicara dari luar negeri, bayarnya sekian dan sekian, nanti dapat ini dan itu, khususnya sertifikat, dan –inilah yang penting– semua berorientasi kepada Scopus, jurnal milik perusahaan Elsevier, yang oleh pemerintah diakui sebagai jurnal unggulan. Seorang akan ’’dibaptis’’ sebagai akademisi ulung manakala artikelnya pernah dimuat di Scopus dan mungkin juga seorang akademisi yang tidak menerbitkan artikel di Scopus dianggap sebagai akademisi paria alias akademisi dalit.

Titik penting selalu itu-itu saja, yaitu ’’seminar internasional’’, pembicara dari luar negeri, khususnya bule, dan semuanya mengalir kepada Scopus. Apakah seminar internasional itu benar-benar internasional, apakah benar para pembicaranya kelas wahid, dan apakah benar Scopus adalah satu-satunya jurnal paling hebat, entahlah. Ada seminar dengan satu pembicara dari negara tetangga, apa lagi kalau negara tetangga ini bisa menyewa seorang bule untuk menjadi tenaga kontrak bagaikan pemain sepak bola nasional yang pemain utamanya adalah orang-orang sewaan, maka seminar itu sudah menjadi seminar internasional yang sangat bergengsi. Pembicaranya boleh lah orang-orang lokal, apa lagi para pesertanya. Kalau ada seorang peserta, satu saja, tidak perlu banyak-banyak, datang dari luar negeri, kadar internasional seminar tersebut makin melambung ke angkasa. Dan tentu saja, ungkapan no free lunch alias ’’tidak ada makan siang gratis’’ pasti berlaku: peserta harus merogoh kocek. Kalau perlu, merogoh koceknya dalam-dalam untuk membayar biaya seminar, biaya hotel, biaya transportasi, dan lain-lain demi selembar sertifikat. Dengan sertifikat itu, seorang peserta akan menjadi akademisi unggul. Meskipun, sebelum karyanya masuk Scopus tetap diangap sebagai akademisi paria atau akademisi dalit.

Tetapi, tidak apa-apalah. Kan tokoh orientasi seminar itu –seperti yang didengung-dengungkan melalui selebaran digital–tidak lain dan tidak bukan adalah Scopus. Dengan menjadi peserta, apa lagi pembicara terpilih, pasti jalan menuju kemuliaan dan keunggulan Scopus akan lebih mudah tercapai, dari kelas paria alias dalit, melejit menjadi akademisi unggul kelas internasional, global, dan mondial. Hebat sekali, memang.

Jangan khawatir, tengoklah legenda Romulus dan Remus, pendiri Kota Roma, setelah peradaban Yunani Kuno yang berpusat di Olympus rontok termakan perkembangan zaman sebelum akhirnya bangkit kembali dalam era Rennaisance. Di Kota Roma-lah peradaban baru ditancapkan dengan tokoh-tokoh hebat, antara lain Julius Caesar dan kelompok filsuf Horace alias Horatius. Ars longa, vita brevis, itulah salah satu gagasan penting Horace: seni panjang umurnya, sedangkan manusia pendek umurnya, berdengung ke mana-mana, sampai sekarang. Gagasan tersebut disambut dengan gegap gempita oleh para pemikir besar, antara lain Francis Bacon, salah seorang penggagas untuk mencari kebenaran turunlah ke bumi, bukan hanya melayang-layang tanpa mengetahui bumi dalam makna yang sebenarnya.

Lalu, apa kata Romulus dan Remus mengenai Roma? Jalan menuju ke Roma bukan hanya satu. Tapi, untuk menuju ke Roma ada banyak jalan. Roma di sini bisa berarti denotatif, yaitu Roma sebagai fisik, bisa juga, dan inilah yang lebih hakiki, bermakna konotatif, yaitu Roma sebagai simbul keberhasilan dan kejayaan. Maka, janganlah khawatir karena jalan menuju ke Roma itu banyak alias jalan menuju Scopus yang dipuja dan dipuji itu juga bukan main banyak.

Kok bisa? Janganlah berlagak belagu alias janganlah berlagak kura-kura dalam perahu, yaitu tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Demand and supply; kalau ada permintaan, pasti ada persediaan. Itulah adagium ekonomi yang paling utama. Ada keinginan untuk masuk ke Scopus, apa lagi diiming-imingi berbagai kemudahan, antara lain lewat seminar internasional. Itulah demand, pasti ada supply, yaitu pihak-pihak penyedia. Maka, orang-orang nakal pun berkelebatan sebagai ujung tombak dari rogue journals.

Istilah rogue sangat populer pada awal abad ke-19, yaitu tahun delapan belasan sekian, dan artinya adalah begal, khususnya begal jalanan. Maklumlah, waktu itu jalan-jalan masih sepi, jarak yang bagi kita sekarang dekat dahulu luar biasa jauhnya. Dan karena itulah, orang-orang nakal memancing di air keruh. Dan air keruh pun sekarang terjadi: iming-iming untuk masuk ke Scopus supaya diakui sebagai akademisi kelas internasional, global, dan mondial. Jebakan-jebakan pun dipasang oleh para rogues untuk memasukkan artikel ke dalam rogue journals, yang katanya tidak lain dan tidak bukan adalah saudara kandung kembar-siam jurnal Scopus.

Maka, kocek pun bisa kosong melompong, air mata pun bisa berjatuhan, dan sedu sedan pun bisa terjadi, karena ada yang sudah membayar banyak, kalau perlu dengan utang, ternyata artikelnya masuk ke rogue journals alias jurnal abal-abal. Memang kasihan, sudah banyak universitas di Amerika yang tidak sudi lagi menjalin kerja sama dengan Elsevier karena ditengarai ada hal-hal tidak beres yang disembunyikan, sementara kita masih melantunkan puja dan puji kepada jurnal Scopus. (*)

*) Sastrawan dan Profesor Pascasarjana UNESA

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads