Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2024 | 19.56 WIB

Menjamurnya Pembangunan Pasar Tradisional dengan Fasilitas Modern di Bali, Efektifkah?

Nyoman Ratih Prabandari, Dosen Program Studi Arsitektur, Universitas Warmadewa

Nyoman Ratih Prabandari *)

PASAR Tradisional yang dikemas dengan infrastruktur modern semakin menjamur di Bali. Masing-masing daerah berlomba-lomba membangun ‘citra’ mereka melalui proyek revitalisasi ruang pasar yang dicanangkan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sejak tahun 2011 ini.

Pasar Tradisional-Modern dan Program Revitalisasi Pasar di Bali
Pada mulanya, program Revitalisasi Pasar berusaha untuk menyelesaikan persoalan manajemen pasar, pengelolaan perdagangan, dan pengaturan zonasi Pasar tradisional agar tampil lebih bersih dan higienis. Program ini juga berujung pada renovasi bangunan dan seluruh prasarananya, untuk mengurangi citra kumuh, sehingga pasar tradisional mampu bersaing dengan pasar modern dan mampu memperkokoh eksistensinya sebagai basis perekonomian rakyat.

Dalam tulisan ini, terminologi tipe bangunan Pasar Tradisional yang dikemas dalam bentuk bangunan pasar modern disebut sebagai Pasar Tradisional-Modern. Pasar ini memiliki sistem bangunan modern selayaknya supermarket.

Infrastruktur modern dengan penggunaan eskalator, ataupun elevator untuk mencapai tiap lantai pada bangunan. Penggunaan material bangunan yang modern dan dibangun dengan bentuk yang masif, sehingga kesan bangunan yang dihasilkan lebih modern, bersih, dan cenderung mewah untuk bangunan publik sekelas pasar tradisional.

Kemunculan Trend Pasar Tradisional-Modern di Bali
Kemunculan trend Pasar Tradisional yang dikemas dengan infrastruktur modern ini bermula dari Pembangunan Pasar Badung yang menjadi pilot project program revitalisasi pasar tradisional di Bali. Revitalisasi Pasar Badung yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat berhasil meraup atensi publik.

Ketika peresmiannya pada tahun 2019, Pasar Badung mendapat sambutan serta antusiasme yang positif dari masyarakat, khususnya dari segi kemewahan fasilitasnya dan arsitektur bangunan yang berbeda dari pasar tradisional pada umumnya, notabene menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Kemewahan ini didukung dengan penggunaan fasilitas penunjang yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya, seperti adanya eskalator, lift bagi pengunjung maupun barang, ketersediaan wi-fi, dan fasilitas modern lainnya.

Dilansir pada laman setkab.go.id., pada tanggal 22 maret 2019, Pasar Badung digadang-gadang sebagai pasar dengan arsitektur paling bagus yang pernah ada di Indonesia oleh Presiden. Akuisisi dari orang nomor 1 di Indonesia ini cukup memberikan pengaruh terhadap kunjungan ke Pasar Badung yang baru, dengan motif kunjungan untuk berbelanja, maupun hanya sekedar melihat-lihat dan menikmati suasana pasar rakyat yang baru dengan fasilitas modern di dalamnya.

Melihat antusiasme itu, pemerintah daerah di Bali berlomba-lomba merenovasi pasar tradisional, yang menjadi ikon kabupaten setempat, dalam skala besar sehingga menghasilkan bangunan pasar rakyat megah dan modern dengan harapan juga dapat menjadi alternatif destinasi wisata di masing-masing daerah.

Setelah peresmian Pasar Badung tahun 2019 silam, disusul dengan revitalisasi dan peresmian Pasar Tradisional-Modern lainnya di beberapa daerah di Bali. Pada Bulan Maret tahun 2021, Pasar Banyuasri diresmikan dan menjadi pasar terbesar di Bali mengalahkan posisi Pasar Badung pada waktu itu. Disusul kemudian dengan peresmian Pasar Gianyar di Bulan Desember tahun 2021, yang kini menjadi pasar termegah di Bali, bahkan di Indonesia.

Tidak hanya pasar tradisional yang menjual kebutuhan sehari-hari, pasar seni yang menjadi salah satu ujung tombak pariwisata Bali pun juga tidak luput dari revitalisasi menjadi pasar tradisional-modern, terlebih intensinya yang memang bertujuan untuk menarik wisatawan untuk datang dan berbelanja ke pasar tradisional di Bali.

Pada tahun 2023, tiga pasar seni yang baru juga diresmikan, diantaranya Pasar Seni Sukawati, Pasar Seni Ubud, dan Pasar Tematik Klungkung. Hingga kini, proses pembangunan revitalisasi ruang pasar tradisional terus berlanjut. Fenomena keberadaan Pasar Tradisional-Modern di Bali ini pun kian menjamur seiring berjalannya waktu.

Pasar Tradisional-Modern, Kebutuhan Masyarakat atau Legacy Pemerintahan?
Melalui Program Revitalisasi Pasar Rakyat oleh Kementerian Perdagangan RI, pasar tradisional yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat kecil, kini bertransformasi menjadi Pasar Tradisional-Modern, yang secara fisik sudah hampir menyaingi supermarket, hypermarket, ataupun bentuk pasar modern lainnya.

Adanya pandangan bahwa bangunan akan membentuk psikologis dan mengubah perilaku penggunanya, khususnya perilaku pedagang yang terbiasa berada di lingkungan kumuh pasar yang lama. Dengan kondisi bangunan yang berbeda, harapannya pedagang dapat mengemban budaya bersih sehingga pengunjung yang datang ke Pasar Tradisional-Modern tersebut juga merasakan kenyamanan dalam berbelanja.

Pandangan seperti ini lumrah terjadi di ranah perancangan arsitektur. Hal yang sama Lukito (2018), dalam bukunya yang berjudul Revitalisasi Pasar Tradisional melalui Pendekatan Desain, pernah menyebutkan bahwa manusia adalah faktor utama dalam pembentukan arsitektur, namun perilaku manusia juga dipengaruhi oleh bentukan arsitektur, sehingga terdapat interaksi timbal balik antara manusia dan lingkungannya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore