alexametrics

Adaptasi UMKM saat New Normal

OLEH : MELISSA SISKA JUMINTO *)
24 Juni 2020, 19:48:26 WIB

PANDEMI Covid-19 berdampak ke segala sektor. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan physical distancing untuk mengurangi dampak pandemi, mulai PSBB hingga penerapan new normal. Implikasinya, ada pengurangan interaksi langsung di pusat keramaian, seperti rumah ibadah, sekolah, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, restoran, hingga transportasi publik. Berbagai sektor pun terkena imbasnya, mulai pelaku industri besar hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Transformasi tidak terelakkan pada dunia bisnis. Tak terkecuali pada sektor UMKM. Tidak sedikit UMKM yang terimbas pandemi. Mulai penurunan omzet hingga masalah terkait kerja sama mitra.

Berdasar data Kemenkop UKM, jumlah usaha mikro 62.106.900, usaha kecil 757.090, usaha menengah 58.627, dan usaha besar 5.460 unit. Sebanyak 98 persen dari total jumlah UMKM itu terdampak pandemi.

Dalam kondisi normal, UMKM berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian nasional. Ekonomi Indonesia 80 persennya ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, UMKM mampu menyerap lebih dari 96 persen dari total 170 juta tenaga kerja. Asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Akumindo) pada 2019 mencatat kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 65 persen atau sekitar Rp 2.394,5 triliun.

Berbagai perubahan terjadi saat pandemi. Mode komunikasi, pola kerja, hingga dinamika tim internal berubah. Begitu juga pola perilaku konsumen bisnis, banyak yang menjadi baru dan bergeser. Kondisi itu menuntut pelaku UMKM untuk cepat tanggap dalam merespons perubahan.

Namun, di tengah perubahan itu, bisa dibilang tetap ada hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita ambil terkait mempertahankan operasional bisnis dalam situasi sulit. Apabila kita memperhatikan dampak pandemi pada bisnis, sebenarnya ada bisnis yang justru naik melesat. Atau sebaliknya, jadi jauh menurun dan terpaksa tiarap. Tapi, satu yang pasti, kita bisa belajar untuk bersiap. Sekalipun pada hal-hal yang mungkin tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Tidak ada yang bisa melihat krisis ini datang dan kita tidak selalu dapat memprediksi bencana. Namun, kita bisa mencoba bersiap untuk skenario terburuk sebagai bagian dari membangun ketahanan. Pelajaran lain adalah mendorong strategi digitalisasi yang bisa membantu bisnis beradaptasi dengan kecepatan yang diperlukan. Ini adalah pendorong utama ketahanan di era baru yang disebut new normal.

Sebab, kita bisa sama-sama melihat, pada saat banyak sektor UMKM konvensional yang terpuruk dan lesu roda bisnisnya kala pandemi ini, tidak sedikit bisnis yang justru melejit, terutama mereka yang bergerak di dunia digital alias online.

Saat ini, sudah ada pergeseran pemasaran produk UMKM dari offline ke online, tapi jumlahnya baru mencapai 8 juta UMKM atau 13 persen dari seluruh UMKM. Untuk mendukung pemanfaatan teknologi di sektor UMKM, Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan tambahan 2 juta pelaku UMKM bisa go digital hingga akhir 2020.

Pemerintah mulai menerapkan kondisi new normal. Pertimbangannya, ekonomi tetap berputar. Banyak sektor diharapkan bisa tetap atau kembali berjalan dengan mengikuti anjuran protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

Untuk sektor UMKM, pemerintah melalui Kemenkominfo telah meminta kepada para pelaku UMKM untuk mulai beralih menjajakan produk mereka ke platform digital. Contoh UMKM yang memperkuat kanal digital menghadapi pandemi ini adalah Klinik Kopi (Jogja), yang awalnya offline, kini lebih dari 90 persen penjualannya dialihkan dan berasal dari online. Ada juga Holycow (Jakarta), yang awalnya sepenuhnya menjual steak di restoran offline kini membuka kanal penjualan online.

Untuk bertahan di era new normal, UMKM perlu mempersiapkan sejumlah hal. Pertama, inovasi menjadi kunci beradaptasi. Dengan kreativitas dan gesit berinovasi, sebetulnya pebisnis bisa menciptakan peluang bisnis baru yang menguntungkan. Misalnya, inovasi dari sisi kanal penjualan, dari offline bersinergi dengan online, adopsi digital menjadi sangat vital. Atau juga, berinovasi dari sisi produk.

Kemampuan menyesuaikan atau bahkan mengubah model bisnis dengan sangat cepat, adaptasi mengatasi hal-hal tidak terduga, serta memiliki rencana fleksibel terbukti telah membuat sebuah usaha bisa bertahan dan lebih tangguh daripada yang lain. Contoh UMKM yang berinovasi dari sisi produk, kafe yang menjual kopi literan untuk teman work from home (WFH). Salah satunya Dua Coffee. Atau usaha-usaha yang banting setir fokus bisnisnya dengan memproduksi kebutuhan yang banyak dicari selama pandemi. Misalnya, yang tadinya menjual produk kecantikan kini mengerahkan mayoritas tim produksinya untuk membuat hand sanitizer, seperti Herborist. Tadinya produsen fesyen kini juga menjual masker mulut, seperti Batik Kultur. Tadinya menjual kartu ucapan kini juga menjual masker mulut, seperti DWskellington. Tadinya party planner kini memproduksi face shield, seperti Littlethoughtsplanner.

Pergeseran strategi untuk mengoptimalkan layanan delivery order, drive-thru, atau menggencarkan promo berlangganan juga bisa dilakukan. Selain itu, kita bisa mengampanyekan nilai-nilai lebih layanan bisnis. Mulai promo khusus untuk yang belajar atau bekerja di rumah hingga mengampanyekan komitmen bisnis yang mendukung sanitasi dengan meyakinkan konsumen bahwa produk yang dijual benar-benar steril. Dengan demikian, konsumen merasa tenang dan aman saat menggunakan produk.

Kolaborasi antarpihak juga sangat penting pada masa sekarang, dalam hal ini antara pemerintah, swasta, dan penggiat usaha lokal. Demi memberikan panggung seluas-luasnya kepada UMKM lokal di tengah new normal. Misalnya melalui gerakan #SatuDalamKopi, yakni kampanye untuk mengembangkan industri kopi saat pandemi, hasil kolaborasi Kemenperin, Kemenparekraf, dan Tokopedia.

Atau juga gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia, inisiasi dari pemerintah bersama para pelaku platform digital yang berada di naungan asosiasi e-commerce, untuk mendorong pengembangan UMKM, yang bukan semata karena dampak pandemi, tapi memang sudah waktunya UMKM lebih maju dan merambah jalur digital guna mengembangkan usahanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 akan tetap ada dalam jangka lama. Tidak ada yang bisa memperkirakan kapan pandemi akan berakhir.

Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol apa yang bisa kita kontrol. Setidaknya kita bisa terus disiplin menerapkan hidup sehat dan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan Kementerian Kesehatan dalam menghadapi kenormalan baru.

Di sisi lain, sesungguhnya new normal ini kita harapkan bisa menjadi momentum untuk peluang baik bagi para penggiat usaha lokal untuk bangkit dan maju. Sudah waktunya UMKM Indonesia menjadi raja di negeri sendiri.

Terima dan hadapilah kenyataan dengan fokus pada hal yang mungkin dilakukan. Tingkatkan diri dan bisnis karena kesiapan akan perubahan adalah keniscayaan. Sudahkah Anda mempersiapkan diri? (*)


*) Melissa Siska Juminto, Chief Operating Officer Tokopedia

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads