alexametrics

Aksi Nyata Perguruan Tinggi Mewujudkan SDGs

Oleh MUHAMMAD MIFTAHUSSURUR *)
24 Mei 2022, 19:48:47 WIB

TUJUAN pembangunan berkelanjutan (TPB) atau sustainable development goals (SDGs) menjadi agenda global yang melibatkan 193 negara anggota PBB, termasuk Indonesia. TPB merupakan komitmen global yang terdiri atas 17 goals utama yang agendanya disepakati pada UN Conference on Sustainable Development 2012. Secara umum fokus goals itu untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi bumi atau lingkungan, serta memastikan pada tahun 2030 tercapai kesejahteraan dan kedamaian di dunia.

Dengan demikian, hanya kurang dari delapan tahun TPB atau SDGs akan berakhir. Sebelum agenda SDGs ini disepakati, sejak 2000–2015 masyarakat dunia telah mengenal millennium development goals (MDGs). Agenda-agenda besar tersebut menjadi kesepakatan bersama secara global untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dunia.

Untuk mencapai 17 goals dalam TPB itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara semua negara, termasuk negara maju dan berkembang, agar sukses mencapai agenda tersebut. Ketidakpastian global saat ini, seperti pandemi serta konflik di Ukraina, juga menjadi suatu tantangan dalam pencapaian agenda besar itu.

Peran Perguruan Tinggi dalam Menyukseskan SDGs

Di tengah keterbatasan ini, perguruan tinggi hadir sebagai salah satu institusi penting dalam membantu mempercepat tercapainya ke-17 tujuan SDGs. Khususnya melalui penerapan tridarma perguruan tinggi, yaitu melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kemen PPN/Bappenas) secara umum mengelompokkan ke-17 goals SDGs ini ke dalam empat pilar. Yaitu (1) Pilar pembangunan sosial; (2) Pilar pembangunan ekonomi; (3) Pilar pembangunan lingkungan; dan (4) Pilar pembangunan hukum dan tata kelola.

Times Higher Education (THE) Impact Rankings merupakan lembaga pemeringkatan dunia yang menilai implementasi keberhasilan universitas berkaitan dengan pelaksanaan SDGs. Pada 28 April 2022 mereka merilis ranking perguruan tinggi di seluruh dunia yang memiliki kontribusi pada capaian SDGs. Penilaian pada pemeringkatan ini didasarkan pada penelitian, pengajaran, pengelolaan, serta pengabdian kepada masyarakat yang terkait dengan ke-17 tujuan SDGs.

Universitas Airlangga (Unair) bersama Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) masuk dalam lima terbaik di Indonesia. Lima universitas itu secara umum unggul pada sejumlah indikator SDGs. Yakni indikator nomor 1 berupa tanpa kemiskinan, indikator 6 (air bersih dan sanitasi layak), serta indikator 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).

Khusus bagi Unair, dari 17 indikator itu unggul pada indikator 1 berupa tanpa kemiskinan, indikator 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), indikator 6 (air bersih dan sanitasi layak), serta indikator 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan). Karya nyata Unair antara lain adalah Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA). RSTKA adalah fasilitas kesehatan yang ditujukan untuk memberikan akses kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di pulau terpencil. Selain itu, pada 8 Maret 2022, Unair telah meresmikan SDGs center yang bertujuan untuk mendukung terwujudnya universitas yang mengacu pada konsep SDGs.

Beberapa negara di Skandinavia dengan capaian skor SDGs negara yang cukup tinggi seperti Swedia dan Denmark bisa menjadi cerminan implementasi agenda besar SDGs tersebut. Mereka telah cukup lama melakukan sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk menyukseskan agenda SDGs. Khususnya pada indikator atau isu yang lebih advanced seperti inovasi dan teknologi terkait penanganan perubahan iklim yang jadi indikator 13 dalam SDGs.

Di Swedia, misalnya, perguruan tinggi diminta membantu melakukan riset yang terkait dengan perubahan iklim (climate change) dan sustainability. Isu sustainability di negara tersebut menjadi prioritas serta diimplementasikan pada berbagai sektor. Lebih dari itu, kalangan industri juga diminta memastikan proses bisnisnya sustainable dan ramah lingkungan.

Selain riset, perguruan tinggi di kawasan Skandinavia juga menyediakan kurikulum pembelajaran terkait dengan isu sustainability. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa serta meningkatkan atmosfer penciptaan inovasi yang mendukung pencapaian SDGs. Maka, bukan merupakan suatu hal yang baru lagi saat kita melihat charging station kendaraan listrik dengan mudah dapat ditemukan di jalan atau kompleks perumahan. Bahkan, pembangkit listrik tenaga surya dan angin sangat mudah kita temukan saat mengitari jalan-jalan di negara-negara Skandinavia.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah pemeringkatan THE Impact itu sudah dapat mencerminkan semua kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs? Jawabannya tentu belum. Namun, minimal sudah ada indikator-indikator penilaian dari aktivitas perguruan tinggi yang memiliki keterkaitan dengan agenda-agenda SDGs. Telah ada sekitar 300 indikator untuk menilai kontribusi kampus terhadap pencapaian SDGs.

Kolaborasi Perguruan Tinggi, Industri, dan Pemerintah

Praktik baik di negara Swedia harus diadopsi oleh pemerintah dan perguruan tinggi di Indonesia, terutama terkait dengan isu perubahan iklim yang saat ini tengah ramai diperbincangkan di seluruh penjuru dunia. Perubahan iklim memiliki dampak yang serius terhadap negara kepulauan seperti Indonesia. Di antaranya potensi kenaikan muka air laut yang dapat mengancam wilayah pesisir dan pantai serta memengaruhi produksi bahan pangan pokok.

Sedikitnya ada tiga kontribusi dan aksi nyata yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia bersama perguruan tinggi. Pertama, dalam hal pendidikan. Perguruan tinggi harus memastikan bahwa materi tentang SDGs masuk dalam kurikulum kampus. Jika memungkinkan, program studi khusus tentang sustainability perlu dibuka. Kedua, joint research SDGs bersama pemerintah pusat dan daerah. Penelitian dari para pakar SDGs dapat ditindaklanjuti dengan menghasilkan kontribusi dan aksi nyata yang berdampak baik kepada masyarakat.

Ketiga, pionir pengelolaan organisasi bernuansa SDGs. Perguruan tinggi dapat menjadi contoh tata kelola organisasi yang berorientasi pada SDGs. Dengan adanya kolaborasi ini, harapannya kontribusi perguruan tinggi di Indonesia terkait SDGs dapat maksimal. Tentunya hal itu juga harus ditunjang dengan kolaborasi internasional, terutama terkait dengan inovasi dan teknologi agar pencapaian tujuan SDGs dapat terealisasi pada tahun 2030. (*)


*) MUHAMMAD MIFTAHUSSURUR, Wakil rektor bidang internasionalisasi, digitalisasi, dan informasi Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads