
Photo
ANAK merupakan tunas bangsa. Masa depan bangsa berada di tangan mereka. Kemampuan mereka beradaptasi terhadap perkembangan sosial dan teknologi menjadi salah satu kunci utama mereka menghadapi masa depan.
Kini banyak orang tua yang menghadapi dilema dan tantangan serius akibat semakin tingginya intensitas penggunaan gadget maupun smartphone sebagai sarana hiburan dan permainan. Alat-alat tersebut dapat menjadi media transformasi pengetahuan secara cepat, sekaligus menjadi alat yang efektif untuk meredam ”kerewelan” anak.
Akan tetapi, selain adanya potensi ancaman terkait konten negatif, penggunaan media gadget maupun smartphone oleh anak dapat membatasi aktivitas fisik dan menghambat perkembangan psikologis anak akibat terbatasnya aktivitas sosialisasi dan proses interaksi dengan orang tua maupun lingkungan sekitar. Karena itu, dalam peringatan Hari Anak di berbagai negara seperti Inggris, Australia, hingga Korea Selatan, otoritas pemerintahan setempat acap kali memberikan perhatian besar melalui imbauan hingga mengeluarkan rumusan kebijakan tertentu untuk mengatur skema pembatasan penggunaan gadget pada anak.
Bahkan, pemerintah Taiwan, misalnya, memberlakukan konsekuensi hukum bagi orang tua yang membiarkan anak usia dini bermain gadget atau perangkat elektronik sejenis dengan memberikan denda yang cukup tinggi, yaitu £1.000 (CNN, 2015). Kebijakan serupa telah diberlakukan di Tiongkok dan Korea Selatan. Demikian pula Australia yang masih menggodok pengetatan peraturan penggunaan gadget pada anak di bawah usia 10 tahun.
Beragam jenis pendekatan dan kebijakan itu mengindikasikan bahwa fenomena kecanduan gadget pada anak kini telah menjadi persoalan kompleks yang amat meresahkan. Hasil survei lembaga pendidikan anak Michael Cohen Group menunjukkan bahwa 60 persen anak-anak usia di bawah 12 tahun di Amerika Serikat (AS) mengalami paparan smartphonedalam kategori sering dan 38 persen orang tua menyatakan bahwa anak mereka sangat sering mengakses gadget. Persentase itu akan terus meningkat.
Meskipun gadget dipercaya menjadi sarana belajar yang menyenangkan dalam mengenalkan kata-kata kepada anak usia dini, banyak ahli menyatakan bahwa anak usia di bawah 5 tahun tidak membutuhkan gadget dalam belajar. Sebaliknya, penelitian yang dilakukan the University of Washington (2015) menunjukkan bahwa paparan gadget yang berlebih pada anak usia dini akan mengakibatkan menurunnya daya konsentrasi anak dan kemunduran kemampuan kognitif serta kecerdasan dalam belajar.
Bahkan, paparan gadget yang berlebih pada anak usia terkategori balita (di bawah 5 tahun) dapat berakibat terhambatnya kemampuan bahasa anak. American Academic of Pediatrics (AAP) juga mengonfirmasi bahwa penggunaan gadget yang berlebih pada anak usia dini merampas waktu interaksi dan komunikasi orang tua dan anak. Sehingga daya serap anak dalam memahami makna kata-kata beserta kecerdasan emosionalnya –yang seharusnya diajarkan orang tuanya melalui percakapan sehari-hari– menjadi terbatas dan hilang karena anak lebih sering berinteraksi bersama gadget. Hal itulah yang mengakibatkan tidak jarang anak mengalami kemunduran dalam kemampuan bahasa atau yang sering dikenal sebagaispeech delay.
Di samping itu, paparan gadget yang berlebih akan meningkatkan risiko perilaku agresif pada anak. Penelitian yang dilakukan National Institutes of Health, AS (2015), menemukan bahwa penggunaan perangkat komunikasi seperti gadget, telepon seluler, dan sejenisnya dapat merusak nilai serta perilaku anak. Hal itu terkait dengan banyaknya paparan tentang seks, pembunuhan, kekerasan, hingga mutilasi yang dikemas dalam bentuk tayangan anak. Sehingga tidak mengherankan jika anak yang terlalu banyak bermain dengan perangkat teknologi tersebut akan berisiko menderita depresi, agresif, berperilaku negatif, dan mengalami gangguan perkembangan sosial-emosional.
Implikasi lainnya, anak yang menghabiskan waktunya dengan lebih banyak bermain gadget secara otomatis juga cenderung kurang aktif secara fisik. Akibatnya, anak memiliki kecenderungan berat badan berlebih, baik yang terkategori overweight maupun obese, dan punya keterlambatan dalam kemampuan motorik dasar. Padahal, kecerdasan anak akan semakin terasah apabila anak lebih aktif bermain secara manual (Robinson, 2018). Kesadaran itulah yang memantik banyak pemerintah lokal di berbagai negara maju untuk menyediakan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang menunjang perkembangan anak seperti zona bermain, olahraga, dan sosialisasi dengan teman sebayanya.
Komitmen Orang Tua
Selain kesadaran pemerintah untuk terus mengingatkan, kondisi dan tantangan semacam itu membutuhkan komitmen dasar para orang tua untuk mengendalikan perilaku anak. Komitmen tersebut harus dimanifestasikan ke dalam laku keseharian orang tua di hadapan anak. Tidak mungkin anak menuruti perintah orang tua jika ayah dan ibu mereka sendiri menjadi bagian dari korban kecanduan gadget, smartphone, dan perangkat sejenisnya.
Selain memberikan teladan kepada anak, orang tua sebaiknya tidak mengenalkan gadget kepada anak sebelum usia sekolah. Upaya persuasif harus terus dilakukan untuk memberikan pengertian kepada anak tentang prioritas aktivitas mereka. Komitmen dan upaya persuasif orang tua itu merupakan manifestasi dari bentuk perlindungan anak yang sesungguhnya di era keterbukaan digital seperti sekarang.
Ke depan, pemerintah dan orang tua harus kembali membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya aktivitas bermain di lapangan (outdoor) pada anak sebagai solusi terbaik untuk mengajak anak kembali aktif. Permainan tradisional yang mengasah kemampuan fisik, emosi, dan mental perlu kembali digalakkan di lingkungan rumah maupun sekolah.
Pada dasarnya, bermain adalah fitrah anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui permainan, mereka belajar mengenai nilai-nilai kehidupan. Komitmen kita sebagai orang tua untuk mengendalikan dan mengarahkan perilaku mereka akan memberikan pengaruh besar terhadap kualitas daya tahan fisik, kematangan emosi, dan kecerdasan kognitif mereka. Karena itu, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2019 ini, selayaknya kita optimalkan perkembangan mereka dengan membatasi permainan gadget dan mengajak anak kembali ke habitat alam serta lingkungan sosialnya. (*)
*) Dosen ilmu keluarga & konsumen Institut Pertanian Bogor (IPB); doktor ilmu pendidikan dari The University of Queensland, Australia; kini menjadi tenaga ahli Ditjen PAUD-Dikmas di Kemendikbud

Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
