Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Maret 2022 | 02.48 WIB

Berkah Bali Bebas Karantina untuk Wisman

Photo - Image

Photo

UJI coba bebas karantina untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) dipercepat satu minggu, mulai Senin (7/3). Tentu, keputusan itu adalah momentum yang telah lama dinantikan pelaku usaha pariwisata dan seluruh masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut setelah Bali dibuka untuk wisatawan mancanegara (wisman) pada 14 Oktober 2021.

Keputusan bebas karantina bagi wisman yang telah lengkap vaksin dan booster didasarkan pada tingkat positive rate yang rendah dan tingkat vaksinasi yang tinggi di Bali, juga disertai SOP yang detail serta penghapusan prasyarat sponsor. Hal itu merupakan harapan wisatawan dan pelaku usaha untuk menaikkan daya tarik dan minat berwisata ke Bali di tengah persebaran virus korona. Dalam konteks ini, theory of planned behavior (TPB) yang dikembangkan Icek Ajzen (1985) sebagai pengembangan theory of reasoned action (1967) dapat menjadi perspektif untuk merefleksikan keputusan wisman berwisata ke Bali pasca kebijakan bebas karantina.

Keputusan wisatawan menjadi masalah utama di sektor pariwisata, terutama ketika muncul risiko mengunjungi suatu destinasi oleh wisatawan selama masa pandemi Covid-19. Conner (2020) menyatakan, TPB berfungsi sebagai kerangka kerja yang berguna untuk merancang intervensi perubahan perilaku yang efektif. Hal itu diperkuat Pahrudin, Chen, & Liu (2021) yang menyatakan bahwa secara umum konstruk TPB – terdiri atas attitude towards behavior, subjective norms, perceived behavior control – berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung bagi seseorang ke suatu destinasi lokal di Indonesia.

Dalam konteks ini, dibutuhkan kolaborasi semua pihak untuk memberikan stimulasi kebijakan, promosi, dan program wisata ke Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Terutama yang memberikan nilai tambah pada aspek attitude towards behavior, subjective norms, dan perceived behavior control wisman untuk meningkatkan level keinginan berwisata menjadi keputusan berwisata ke Bali. Seperti diketahui bersama, attitude itu terkait pertimbangan baik positif ataupun negatif dan menguntungkan atau merugikan bagi wisman untuk berwisata. Sedangkan subjective norms terkait saran dan rekomendasi kepada wisman untuk berwisata. Kemudian, perceived behavior control itu terkait pengalaman masa lalu serta ketersediaan waktu dan sumber daya wisman untuk berwisata.

Ketiga konstruk tersebut memberikan pengaruh pada intention (niat) dan selanjutnya intention serta perceived behavior control berpengaruh pada behavior, dalam hal ini keputusan untuk berwisata ke Bali. Maka, bila ada sikap yang positif, dukungan dari orang sekitar, dan persepsi kemudahan untuk berperilaku, niat orang untuk berperilaku akan sangat tinggi. Niat itu sendiri merupakan kehendak individu untuk melakukan perbuatan tertentu.

Berkaca pada ilustrasi di atas, dapat direfleksikan perjalanan atau dinamika kebijakan membuka Bali untuk wisman. Sejak Bali dan Kepulauan Riau (Kepri) dibuka untuk wisman pada 14 Oktober lalu, minim penerbangan langsung ke dua destinasi tersebut. Setidaknya penerbangan langsung ke Bali dari beberapa negara selama dua bulan terakhir dengan jumlah 1.600 wisman (terbanyak dari Australia dan Rusia) dapat mengawali pemulihan perjalanan internasional ke Indonesia. Penyebabnya, ada beberapa kendala bagi wisman untuk datang ke Indonesia. Di antaranya, tempat karantina yang kurang menarik dan penerbangan langsung dari asal negara wisman sementara mereka tidak tinggal di negara asal, tetapi di negara tempat bekerja.

Kebijakan bebas karantina bagi wisman dapat dipandang memperkuat tiga konstruk TPB, terutama pada aspek perceived behavior control, serta memperkuat niat dan mendorong keputusan berwisata ke Bali (behavior). Kebijakan itu sekaligus memulihkan merek Bali yang dinyatakan Mark Hobart (2015) sebagai ’’Bali is a brand’’, yang memungkinkan untuk menjual apa saja.

Bali sebagai etalase Indonesia merupakan merek yang berkarisma untuk memantik perhatian, ketertarikan, hasrat, sekaligus mengambil keputusan pemimpin dunia untuk datang ke Bali, Indonesia. Undangan dari tuan rumah Presiden Indonesia pada KTT G20 di Roma, Italia, mengingatkan masyarakat dunia, melalui pemimpin negara-negara maju, bahwa Indonesia aman dan sanggup menyambut wisatawan mancanegara di tengah persebaran virus korona. Lebih-lebih, saat ini ketika kepemimpinan Presidensi G20 di tangan Presiden Jokowi, strategis bagi pemulihan pariwisata Indonesia umumnya, Bali khususnya, mempertegas, mempertajam, dan mengonkretkan berbagai upaya yang selama ini telah dilakukan untuk menggerakkan pariwisata Bali khususnya dan Indonesia umumnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengampanyekan kesiapan wisatawan dalam berwisata di masa next normal, baik pada saat pre-trip, trip, hingga post-trip. Wisatawan wajib memastikan kondisi kesehatan tubuh sebelum traveling dalam keadaan prima dan memastikan negatif Covid-19 melalui swab atau rapid test. Hal itu juga diberlakukan pada kebijakan bebas karantina bagi wisman, tiga hari setelah kedatangan diwajibkan untuk tes PCR. Pada saat perjalanan, protokol kesehatan harus diterapkan dengan self-discipline, memberikan apresiasi kepada penyedia jasa pariwisata yang tersertifikasi CHSE dan cashless dalam melakukan transaksi. Setelah melakukan perjalanan, kondisi kesehatan juga diharapkan prima dan tetap negatif Covid-19 melalui swab dan rapid test.

Momentum bebas karantina bagi wisman ke Bali dalam kaitannya dengan next normal itu menjadi bagian dari persiapan KTT G20 di Bali serta untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi kedisiplinan penerapan protokol kesehatan di sektor pariwisata. Juga menjadi contoh bagi kesiapan penyedia jasa dalam mata rantai industri pariwisata di seluruh Indonesia. Terutama untuk memenuhi harapan dan kecemasan wisman terhadap berwisata yang aman, nyaman, dan mengesankan di Indonesia. Kiranya kebijakan bebas karantina bagi wisman ke Bali tersebut benar-benar menjadi momentum pulihnya industri pariwisata dan lapangan kerja pariwisata di Indonesia. (*)




*) DEWA GDE SATRYA, Dosen Prodi Pariwisata School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore