
Photo
HARI Gizi Nasional kita peringati hari ini (25/1) dan stunting masih menjadi tema utama di samping masalah obesitas. Upaya penurunan stunting makin kencang digaungkan mengingat target nasional penurunan stunting ke angka 14 persen harus tercapai pada 2024 alias dua tahun lagi.
Diperlukan kerja ekstrakeras untuk berada pada angka tersebut mengingat hasil studi status gizi Indonesia (SSGI) tingkat nasional 2021 menunjukkan prevalensi balita stunting berada pada kisaran 24,4 persen. Bila menilik tren dua tahun ke belakang, di mana prevalensi stunting hanya dapat diturunkan 3,3 persen, target di atas sulit terkejar meski tidak mustahil.
Lalu ada apa dengan kepulan asap rokok dan mengapa stunting berada dalam pusarannya? Tak bisa dimungkiri, terdapat ungkapan lama yang masih relevan hingga masa kini, yaitu ”Indonesia adalah surga bagi perokok”. Bagaimana tidak, Indonesia berada di urutan kedua untuk jumlah batang rokok terbanyak yang dikonsumsi setelah Tiongkok pada tahun 2018 atau naik tiga peringkat dari 2006. Hal itu disebabkan Amerika, Rusia, dan Jepang mengalami penurunan konsumsi rokok.
Sementara itu, hasil studi yang dilakukan penulis terhadap 163 ibu hamil, berlanjut hingga bayi lahir dan berusia 6 bulan di DKI Jakarta tahun 2017–2019, juga mengungkap fakta bahwa 71,2 persen bayi tinggal dengan perokok. Dan ayah adalah kontributor utama paparan asap rokok terhadap bayi. Hasil studi tersebut tak berbeda jauh dengan studi oleh peneliti lain belasan tahun silam di mana prevalensi ayah perokok saat itu mencapai kisaran 73 persen dari ratusan ribu rumah tangga miskin perkotaan di Indonesia.
Secara keseluruhan, jumlah perokok usia di atas 15 tahun adalah 89,6 juta orang atau 33,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Data itu sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Besarnya jumlah perokok di Indonesia membawa berbagai konsekuensi kesehatan, termasuk terhadap mereka yang tidak merokok atau perokok pasif, terutama ibu dan balita. Pada balita, paparan asap rokok sangat mungkin terjadi mengingat mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah.
Sayangnya, balita tidak bisa memilih tinggal dengan perokok atau bukan. Dan si balita harus dihadapkan pada risiko yang berbahaya untuk kesehatannya. Beberapa studi membeberkan dampak buruk balita yang terpapar asap rokok. Antara lain berisiko mengalami sudden infant death syndrome (SIDS), yaitu sindrom yang mengakibatkan kematian mendadak pada bayi, gangguan pernapasan, kanker, dan penyakit lainnya. Selain itu, balita berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan berat dan panjang badan serta gangguan perkembangan otak.
Dalam studi systematic review pada sebuah jurnal internasional di mana penulis menjadi first author, terdapat hubungan signifikan antara ayah yang perokok dan risiko stunting pada anak di beberapa studi. Ada berbagai mekanisme potensial terkait bagaimana paparan asap rokok memengaruhi pertumbuhan anak. Asap rokok berisi lebih dari 4.000 zat kimia yang beberapa di antaranya merupakan bahan karsinogenik utama yang dapat melintasi plasenta dan secara langsung memengaruhi pusat hipotalamus anak. Sehingga hal itu dapat mengakibatkan penurunan kecepatan pertumbuhan badan.
Peneliti lainnya menyebutkan bahwa pertumbuhan panjang badan yang lebih rendah pada bayi yang terpapar asap rokok mungkin disebabkan kadmium dalam asap rokok, yang mengakibatkan hambatan pembentukan tulang dan memperlambat pertumbuhan panjang badan. Selain karena kandungan asap rokok yang berbahaya, studi lainnya juga mengungkap bahwa sejumlah besar pendapatan sang ayah tersedot untuk konsumsi rokok. Dengan demikian, jatah untuk pembelian bahan makanan yang bergizi dan berguna untuk pertumbuhan anak menjadi berkurang.
Padahal, masa 1.000 hari pertama kehidupan (selama kehamilan hingga anak usia dua tahun) merupakan periode unik untuk meraih kesempatan menetapkan fondasi bagi kesehatan dan pengembangan yang optimal di seluruh masa hidupnya. Gizi dan pola asuh yang tepat selama periode emas tersebut tidak hanya akan memengaruhi kemampuan anak bertahan hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang serta keluar dari lingkaran kemiskinan.
Karena itu, diperlukan sinergi dalam upaya penanggulangan stunting dan pengendalian rokok. Dalam menurunkan paparan asap rokok, diperlukan program perubahan perilaku merokok yang menyasar keluarga balita untuk meningkatkan adopsi rumah bebas asap rokok. Hal tersebut untuk mengurangi paparan asap rokok pada ibu dan anak. Selain itu, perlu juga mempromosikan penurunan penggunaan rokok dalam keluarga, terutama rumah tangga yang memiliki anak balita.
Masyarakat dapat berpartisipasi melalui inisiasi pembentukan komunitas rumah bebas asap rokok tingkat dasawisma, RT/RW, atau melalui organisasi keagamaan. Semua itu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya rumah bebas asap rokok.
Yang tak kalah penting, penegakan regulasi yang telah ada. Seperti larangan merokok di kendaraan umum, sarana pendidikan, tempat-tempat umum, dan lainnya. Perlu juga menyediakan pelayanan rehabilitasi untuk berhenti merokok di rumah sakit dan pusat kesehatan lainnya. Untuk kabupaten/kota yang belum memiliki regulasi pengendalian rokok, mereka perlu didampingi secara konsisten supaya segera menerbitkan peraturan tersebut.
Tak luput pula perlunya kampanye pengendalian rokok dan rumah bebas asap rokok secara masif melalui media massa, termasuk di dalamnya media sosial. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Dengan mendorong anggota keluarga untuk berhenti merokok (dan atau dengan menurunkan tingkat prevalensi merokok pada populasi secara menyeluruh), beban masalah yang berujung stunting dapat diturunkan pula pada level populasi. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
