Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Mei 2021 | 02.48 WIB

Refleksi Hari Buku Nasional: Buku vs Internet

Photo - Image

Photo

AKU rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,’’ kata Bung Hatta ketika akan diasingkan ke Boven Digoel di Papua. Maka, dia minta kepada pemerintah Hindia Belanda bisa membawa koleksi bukunya.

Akhirnya Bung Hatta diizinkan membawa buku-buku itu. Tetapi, membawanya ke Papua, di tahun 1935, bukanlah soal mudah. Sebab, buku yang dibawa bukan puluhan judul, tetapi 16 peti besi yang totalnya empat meter kubik. Pengepakannya saja butuh tiga hari. Berhari-hari pula untuk sampai ke Papua dari Batavia via kapal.

Pada 28 Januari 1935, Bung Hatta sampai di Tanah Merah (sekarang ibu kota Boven Digoel). Repot juga membawa 16 peti buku itu dari pelabuhan ke tempat pengasingan. Untung ada orang Kaya-Kaya. Mereka menggotong peti itu. Mereka diberi ongkos satu uang kelip untuk tiap-tiap petinya. Waktu itu nilai uang kelip 5 sen. Bentuknya bundar dan berlubang di tengahnya. Berkat bantuan orang Kaya-Kaya itu, Bung Hatta bebas mengisi hari-hari pengasingannya di Boven Digoel dengan membaca buku.

Tapi, itu dulu. Sekarang? ’’Aku rela dirawat di rumah sakit, asal internetnya lancar,’’ kata teman saya ketika dia harus dirawat di rumah sakit sebelum pandemi. Ya, internet..., bukan buku.

Buku dan internet ini menjadi perenungan saat memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) saban tanggal 17 Mei. Tujuan peringatan Harbuknas antara lain untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Namun, tujuan memacu minat baca buku memperoleh tantangan dari kemudahan internet. Pasalnya, aktivitas berinternet menenggelamkan minat baca buku tersebut. Banyak yang berpikiran demikian: daripada baca buku, mending berinternet.

Bayangkan, awal tahun 2021 ini, pengguna internet di negeri kita sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Angka itu dimuat dalam laporan yang dirilis HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk ”Digital 2021”.

Masih di laporan yang sama, pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di internet. Aktivitas yang paling digemari adalah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial.

Sungguh, internet merupakan tantangan berat ketika minat baca kita sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca! Fakta inilah yang menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Minat baca adalah ketertarikan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan, memperhatikan, merasa menikmati, dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga individu tersebut melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri.

Fakta lain adalah pandemi membuat penjualan buku tersendat. Mengutip ikapi.org, sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50 persen dari biasanya. Kemudian 29,6 persen penerbit mengalami penurunan penjualan 31–50 persen; sebanyak 8,2 persen penerbit turun 10 persen sampai 30 persen; dan hanya 4,1 persen penerbit dengan kondisi penjualan relatif sama dengan hari-hari biasa.

Inilah wajah perbukuan kita. Sudah dihantam internet, didera pandemi pula. Urusan pandemi memang musti bersabar saja. Tetapi, urusan dengan internet masih bisa kompromi. Mau tak mau di era internet ini pelaku perbukuan masuk ke e-book. Atau bisa juga kampanye minat baca lewat internet.

Saya berandai-andai, mereka yang punya jutaan follower dijadikan duta baca, setidaknya bisa menggiring milenial untuk ikut-ikutan baca buku. Watak anak muda kerap mengikuti idolanya. Sang idola baca buku [posting di IG-nya], fans akan ikut baca buku itu pula. Tapi, itu andai. Terwujud atau tidak bergantung kebijakan regulator.

Saya juga berandai-andai, regulator membuat kebijakan agar anak-anak sekolah digiring untuk tetap menggunakan buku sebagai media pembelajaran, ketimbang disubsidi pulsa untuk membuka materi online. Setidaknya, ke sekolah mereka masih membawa buku atau belajar di rumah pun masih buka-buka buku. Bukan buka-buka HP.

Walau berandai-andai, tetap disayangkan bilamana tidak berupaya bersama meningkatkan minat baca buku. Penggiat literasi sudah mengerahkan berbagai jurus untuk meningkatkan minat baca. Sebab, Milan Kundera, sastrawan Ceko, pernah bilang begini, ”Langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapus memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat.”

Baca Juga: Kongsi Pecah, Bisnis MLM Macet, Modal Rp 3,5 M Hilang

Bisa dibayangkan apa yang dikatakan Kundera itu. Kian sedikit yang baca buku, pelan-pelan peradaban bangsa akan musnah. Apalagi ditimpali oleh Joseph Brodsky, penyair Uni Soviet-Amerika Serikat, pemenang Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1987, ”Membakar buku adalah kejahatan. Tapi, ada hal yang lebih jahat dari itu, yakni tidak membaca buku.” (*)




*) Toto Tis Suparto, Editor dan Penerbit Buku ala Self Publisher

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore