Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2020 | 02.48 WIB

Obat Covid-19, Inovasi Penyembuhan Bumi

Photo - Image

Photo

’’… Des Lebens Ruf an uns wird niemals enden. Wohlan denn Herz, nimm Abschied und gesunde”. (Hermann Hesse, dalam puisinya Stufen, 1941).

DALAM pekan ini Jawa Pos telah melansir pemberitaan berhari-hari mengenai obat Covid-19 temuan Universitas Airlangga (Unair) bersama TNI-AD dan Badan Intelijen Negara (BIN). Pewartaannya dibarengi dengan pendar optimisme rektor Unair, sang provokator penelitian, berjudul Inovasi atau Terjajah Kembali (17/8) maupun direktur RS Unair atas tulisan berjudul Harapan Baru Melawan SARS CoV-2 (19/8).

Saya membaca dengan ejaan yang penuh perhatian, bukan semata karena sebagai bagian civitas academica, melainkan juga mengapresiasi kontribusi solusi mengatasi pandemi produk riset ilmiah pendidikan tinggi. Kehadiran obat Covid-19 mengikuti bahasa Carl Sagan dalam bukunya The Demon-Haunted Word (2018) menjadi persaksian bahwa ’’sains menerangi kegelapan” dan senapas pesan seorang pendeta kepada penduduk Oakland: ’’Jangan biarkan virus ini menginfeksi jiwa kita” (Cynthia Gorney, 2020).

Inovasi dan kolaborasi penemuan obat Covid-19 niscaya menjadi tapak kolektif penyelamatan kehidupan, mengingat virus (ini), menurut Joshua Lederberg, ahli biologi molekuler penerima penghargaan Nobel atas hasil kerjanya tentang bakteri, merupakan ’’ancaman terbesar bagi kelanjutan dominasi manusia di planet ini” (Robin Marants Henig, 2020). Komunitas internasional pada akhirnya menerima realitas bahwa pandemi Covid-19 telah mengguncang tatanan normal dan menebarkan rasa gelisah, resah, serta cekam yang menikam. Beberapa negara mengambil langkah lockdown, sedangkan Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan orientasi tunggal ’’warga sudi menepikan diri”.

Covid-19 tampak melengkapi sejarah panjang peradaban manusia yang tidak bebas dari pagebluk. Pada 2003 Asia bergulat dengan SARS, MERS mendekap Timur Tengah pada 2012, serta ebola melanda Afrika Barat pada 2014. Jauh dalam kurun 541–750, Kekaisaran Bizantium mengalami wabah Justinian sehubungan dengan persebaran penyakit pes pada masa kekuasaan Justinian I. Sebanyak 30–50 juta warga terhempas oleh pes sehingga Bizantium lumpuh. Ada pula peristiwa black death tahun 1347–1351 yang ’’menggulung” Eropa dengan korban 25 juta penduduknya diserbu penyakit serupa.

Tidak sampai di situ mengingat sejarah mencatat wabah cacar, kolera, flu spanyol, dan HIV-AIDS yang masih ’’berkoloni” di muka bumi hingga saat ini. Bahkan, penyikapan terhadap Covid-19 mempunyai implikasi ekologis yang serius apabila mismanajemen: timbulan limbah medis, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah infeksius akibat pandemi, ancaman krisis air bersih, energi listrik dan pangan karena peningkatan konsumsi, dan melemahnya daya beli masyarakat. Hal itu kian menyempurnakan penderitaan bumi dalam menanggung bencana hidrometeorologi, pemanasan global, dan perubahan iklim. Sebuah gambaran nyata mengenai ’’sakit ekologis” bumi. Alan Weisman (2007) menyindir dalam tanya: guna menyelamatkan bumi, haruskah memang sampai menunggu manusia tak ada lagi di dunia ini. The World without Us.


Situasi ini mengajarkan kepada kaum cendekia dan profesional, termasuk dari Unair, TNI-AD, dan BIN, untuk bangkit mengambil prakarsa kolaboratif yang menghasilkan obat Covid-19. Bagi saya, langkah ini dilakukan karena kita tidak hendak menjadi sosok seperti kisah pasukan Jerman di Perang Dunia II. Bacalah surat-surat yang dibuat tentara Jerman ketika menyerbu Rusia, yaitu Franz Schneider dan Charles Gullans, yang dihimpun dalam buku Last Letters from Stalingrad. Dalam situasi terkepung dan terjebak perangkap yang sangat mengerikan, tentara tersebut menulis surat: ’’… of course, I have tried everything to escape from this trap, but there only two ways left: to heaven or to Siberia …” Kemudian dia lanjutkan: ’’Waiting is the best thing, because, as I said, the other is useless.”

Benarkah jalan terbaik menghadapi sebaran virus korona adalah menunggu (seperti laskar Jerman kala itu) tanpa gerakan ilmiah ’’melawan korona”? Inovasi obat Covid-19 yang dilakukan sesuai standar sains dan teknologi merupakan jawaban yang representatif sekaligus persembahan memaknai 75 tahun merdeka. Kata Goenawan Mohamad (2020): kemerdekaan adalah sebuah keputusan –tepatnya: keputusan bertindak. Berarti obat Covid-19 adalah manifestasi keputusan ’’merdeka dari korona” yang beriringan dengan penelitian vaksin Covid-19.

Pandemi ini membuka kampus berjejaring dan berdedikasi merawat kehidupan di bumi. Semangat 1442 Hijriah memberikan pula landasan spiritual fastabiqul khairat –berlomba-lomba dalam kebaikan (QS Al-Baqarah: 148). Inilah momentum Unair memberikan kejernihan sikap bahwa masa depan selalu bersinar terang. Inovasi obat Covid-19 melambangkan sains tidak pernah takluk terhadap pagebluk. Ada peribahasa Jawa yang menjelma menjadi selongsong sabda:

Mabur tiru manuk,

Tut wuri ilining banyu,

Ora wegah mbrangkang,

Ngendhani urip mung

ongkang-ongkang

Peribahasa Jawa itu mengajarkan agar kita dapat bertransformasi berani terbang seperti burung, siap hanyut (berinovasi) di derasnya arus sungai, rela merangkak untuk menghindari hidup yang lontang-lantung (tidak berguna) dengan bekerja sama. Leluhur mengajarkan: sopo tekun golek teken bakal tekan (siapa saja yang konsisten mencari tongkat (berkreasi) akan memenangi kehidupan. Inovasi Unair, TNI-AD, dan BIN terekam telah memberikan keyakinan saintifik (nonklenik) untuk mengelola pandemi Covid-19.

Sinergisitas kelembagaan yang berbasis riset ini bolehlah ’’menuai kritik” sekadar sejumput pengharapan. Sebuah ekspektasi yang menyadari bahwa setiap nyawa rakyat sangatlah berharga sehingga menyelamatkannya adalah keberpihakan. Orientasi obat Covid-19 itu sejurus waktu merupakan panggilan tugas seperti dalam bait puisi sastrawan besar yang lahir di Jerman dan meninggal di Swiss, Hermann Hesse (1877–1962) seperti tersebut di atas dalam terjemah indah Agus R. Sarjono (2015):

Panggilan hidup tak kan pernah punah.

Marilah kalbu, pamit, sembuhlah! (*)




*) Suparto Wijoyo, Akademisi hukum lingkungan, koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=zXEvtRwQl-U

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore