Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Agustus 2020 | 19.02 WIB

Harapan Baru Melawan SARS CoV-2

Prof dr NASRONUDIN SpPD-KPTI FINASIM - Image

Prof dr NASRONUDIN SpPD-KPTI FINASIM

PADA akhir 2019 dunia dientakkan oleh hadirnya SARS CoV-2 yang kemudian diketahui sebagai penyebab Covid-19. SARS CoV-2 penyebab Covid-19 ini tergolong penyakit baru.

Semula diketahui menular melalui binatang ke manusia, tetapi pada perkembangannya menular dari manusia ke manusia. Covid-19 ini tergolong penyakit infeksi yang berbahaya karena menular dengan cepat melalui manusia.

Di era globalisasi yang seakan meniadakan batas-batas negara (unburden), pergerakan manusia begitu cepat dan begitu mudah. Kondisi tersebut memicu percepatan pergerakan virus dan mengakibatkan semua negara terpapar. Semua negara pontang-panting berusaha mencari solusi. Berbagai upaya telah diusahakan para pakar, tetapi tetap saja laju pertumbuhan dan perkembangan sebaran SARS CoV-2 tak terbendung. Akhirnya dinyatakan pandemi.

Kita tidak tahu pasti sampai kapan pandemi ini berakhir. Strategi ideal menghentikan persebaran SARS CoV-2 ini tentunya dengan vaksinasi. Strategi ideal untuk menghentikan Covid-19 ini tentunya dengan obat sebagai terapi kausal. Semua elemen masyarakat harus bahu-membahu membantu upaya pemerintah dalam rangka melawan dan membasmi Covid-19.

Baca juga: Kemenristek Tegaskan Belum Ada Obat yang Dapat Sembuhkan Covid-19



Butuh Strategi

Pada hakikatnya, ada tiga strategi dalam menghadapi, melawan, dan mengeliminasi SARS CoV-2. Yaitu dengan vaksinasi, memberi pengobatan definitif, dan menjalankan protokol kesehatan. Vaksin dan penemuan obat terpilih memerlukan waktu yang tidak singkat. Maka, protokol kesehatan merupakan pilihan tepat yang tidak bisa dihindari sambil menunggu lahirnya vaksin dan drug of choice atau obat terpilih. Sejalan dengan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan memang akan terbangun herd immunity atau kekebalan populasi.

Proses pertumbuhan kekebalan populasi ini tentu dibarengi dengan risiko yang tidak sederhana dan bahkan risiko tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan terbentuknya kekebalan populasi penduduk sangat dipengaruhi reproductive number atau angka reproduksi. Bila satu orang menulari dua orang, kekebalan populasi baru terbentuk bila sekitar 60 persen populasi terpapar SARS CoV-2. Bila satu orang menulari tiga orang, kekebalan populasi baru tercapai bila sekitar 70 persen penduduk dalam populasi memiliki kekebalan populasi dan baru penularan virus melambat, menurun, atau berhenti.

Sejak Covid-19 ini terdeteksi, para akademisi, peneliti, dan praktisi telah melakukan ikhtiar menangani Covid-19. Termasuk ikhtiar mengembangkan obat terpilih untuk melawan dan mengeliminasi Covid-19. Pengembangan itu bisa dilakukan melalui skema ABGC: Academic Business Government Community. Di beberapa pusat penelitian, lembaga perguruan tinggi dan lembaga lainnya berusaha mengembangkan obat terpilih bagi Covid-19. Salah satu skema pengembangan uji obat Covid-19 adalah yang dipandegani Universitas Airlangga (Unair).

Baca juga: Terungkap, BIN Bentuk Tim Intelijen Medis Sejak Korona Muncul di Wuhan



Temuan Kombinasi Obat Unair

Ikhtiar peneliti Unair berkait dengan pencegahan Covid-19 mendapat dukungan dan kepercayaan dari TNI Angkatan Darat (AD) Republik Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN). Produk riset obat untuk Covid-19 yang dikembangkan bersama Unair, TNI-AD, dan BIN telah berjalan sesuai standar penelitian. Bahkan telah selesai dengan menunjukkan efikasi tinggi terhadap SARS CoV-2 dan juga aman bagi pasien. Pasien yang dilibatkan juga bervariasi, melibatkan beberapa gradasi beratnya Covid-19.

Ada yang terinfeksi ringan, sedang, maupun berat. Pada pasien ringan atau kalau istilah sebelumnya orang tanpa gejala atau suspect, sebenarnya pada fase ini virus yang telah masuk ke tubuh seseorang sedang bertempur hebat dan keras dengan kekebalan tubuh manusia. Bila kemudian muncul gejala seperti panas badan, sakit tenggorokan, batuk, badan sakit semua, mual, nafsu makan menurun, sakit kepala, dan sulit tidur, itu menunjukkan bahwa kekebalan tubuh individu yang terpapar SARS CoV-2 tersebut mengalami kekalahan dalam fase pertempuran itu.

Bila hal-hal itu terus berlanjut, SARS CoV-2 akan terus berkembang biak dan menginvasi berbagai sel sasaran, jaringan sasaran, dan organ sasaran. Gradasi penyakit telah bergeser dan jatuh ke arah infeksi sedang dan berat. Pada hakikatnya, bila ada musuh, dalam hal ini virus, jangan ditunda untuk membasminya. Jadi, sedini mungkin tidak memberi kesempatan virus berkembang biak.

Gradasi infeksi sedang dan berat ya tetap harus diberi obat. Sebagai contoh kebijakan WHO dalam anjuran pemberian ARV. Pada tahun 2004 diberikan ARV bila CD4 kurang dari 200 sel. Kemudian pada 2009 direvisi bila kurang dari 350. Pada 2013 bila CD4 kurang dari 500 sel. Kini bila dinyatakan terdiagnosis HIV, dianjurkan diberi ARV. Bahkan untuk stadium III dan IV langsung diberi ARV tanpa melihat CD4 dan beban virus. Meski prinsip pengobatan virus adalah self-limited, terlalu berisiko kalau hanya mengandalkan peran tunggal kekebalan tubuh.

Baca juga: Unair Temukan Obat Covid-19



Memang kekebalan tubuh tetap harus dijaga dan diupayakan homeostasis atau berimbang. Tetapi, obat terpilih tetap diberikan agar infeksi tidak jatuh berkembang menuju gradasi berat. Kita juga harus menyadari bahwa kegagalan pada pengobatan infeksi virus, termasuk Covid-19, belum tentu akibat kegagalan membunuh dan mengeliminasi virusnya. Sering kali juga sebenarnya virusnya telah mati, tetapi dampak kematian sel, dampak kerusakan jaringan, dan dampak kerusakan organ tubuh tak tertangani karena telanjur terdampak berat. Maka, prinsip dalam pengobatan virus memerlukan dukungan nutrisi makronutrien tinggi kalori tinggi protein yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan operasional rutin tubuh. Serta menggerakkan organisasi sistem dalam tubuh agar berfungsi sempurna.

Mikronutrien sangat penting untuk mendongkrak kinerja sistem kekebalan tubuh dan meredam agar perjalanan infeksi tidak jatuh ke stadium lebih berat. Antioksidan sangat penting untuk membantu mendongkrak kinerja enzim penangkap radikal bebas yang umumnya terbentuk berlebihan pada infeksi. Bila radikal bebas terbentuk berlebihan tanpa ada yang menangkap dan membendung, dampaknya sel-sel akan mati melalui proses apoptosis dan atau nekrosis.

Bila sel-sel mati, dampaknya jaringan akan rusak dan mati, organ tubuh rusak dan tidak berfungsi. Akibat lanjut organ napas kurang berfungsi ya kemudian dibantu alat bantu pernapasan atau ventilator. Otak terganggu, kesadaran menurun, dan atau kejang. Jantung, liver, ginjal ikut rusak. Organ darah ikut rusak, timbul aneka pendarahan atau pembekuan. Maka, dengan ditemukannya obat yang bermanfaat untuk Covid-19, ini menjadi harapan baru dan bisa menjadi kebijakan baru dalam menata laksana Covid-19.

Unair, TNI-AD, dan BIN telah melakukan tindakan nyata berperan dalam mengatasi berkembangnya Covid-19. Selayaknya tindakan itu mendapat dukungan dari semua pihak sehingga kita semua bisa menemukan jalan keluar mengatasi pandemi ini. (*)

*) Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore