
IQBAL AJI DARYONO
MENDENGAR istilah ”imperialisme bahasa”, rasanya memang bikin ngeri seketika. Kita tiba-tiba merasa sangat terancam. Cemas akan hancurnya bahasa kita, dan kehancuran itu pasti mengantarkan kita kepada situasi kehilangan bahasa, bahkan kehilangan karakter bangsa!
Ketakutan demikian sangat beralasan. Setiap hari kita menyaksikan ekspresi-ekspresi bahasa asing, khususnya Inggris, lebih disukai daripada tuturan bahasa kita sendiri. Kata meeting lebih sering diucapkan ketimbang ”rapat”, weekend lebih kerap dilontarkan alih-alih ”akhir pekan”. Wajar saja kalau kemudian kita takut bahasa Indonesia akan punah karena dilahap bahasa Inggris.
Pertanyaannya, betulkah situasinya semengerikan itu? Saya kok ragu.
Mari kita berangkat dari pemahaman bahwa bahasa merupakan produk budaya. Karakter bahasa sama dengan karakter produk budaya lainnya: cair, luwes, bisa merasuk dan terserap ke mana-mana, bisa saling memengaruhi dan saling dipengaruhi. Tidak ada budaya yang benar-benar asli dan steril dari pengaruh budaya lain. Demikian pula bahasa, terlebih lagi bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia dikreasi dan dibangun dengan tulang punggung bahasa Melayu tinggi, dilengkapi dengan adaptasi bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Namun, jangan lupa, ada pula pengaruh bahasa ”asing” yang signifikan dalam bahasa Indonesia. Mulai bahasa Arab, Portugis, Belanda, hingga Inggris.
Artinya, sejak awal pembentukannya pun, bahasa Indonesia tidak mengingkari sifat cair sebuah bahasa. Belum lagi, pada masa kelahiran bahasa Indonesia, sejatinya konsep ”asing” itu tak jelas pula. Nusantara pra-Indonesia yang merupakan persimpangan lalu lintas dunia sudah sangat dipengaruhi manusia dan budaya Arab, India, Portugis, Belanda, Inggris, dan entah mana lagi. Jika klaim ”orang Indonesia asli” sudah sering dipersoalkan, tentu lumayan bermasalah pula jika klaim bahasa Indonesia asli itu dipancangkan.
Tidak ada bahasa Indonesia yang asli. Yang ada adalah bahasa Indonesia yang berangkat dari kekayaan khazanah bahasa yang hidup di Nusantara dan terus dikembangkan sesuai fitrah dinamis sebuah bahasa.
Dengan sejarah awal seperti itu, lantas kenapa kita takut kata meeting bakal menggantikan ”rapat”?
”Lho, Nusantara sebagai titik perjumpaan aneka ragam budaya itu terjadi pra-Indonesia. Setelah Indonesia ada, identitas kita ditegaskan. Kendali atas ketertiban berbahasa Indonesia dijalankan, dan kita bisa mengelola dinamika berbahasa dengan lebih tertata. Kita bisa menjaga bahasa Indonesia dengan pertahanan yang sangat perkasa!”
Saya tidak tahu, apakah memang mesti seperti itu. Pak Prabowo sebagai menteri pertahanan barangkali bisa ikut memikirkan mekanisme pertahanan bahasa. Namun, yang tebersit di pikiran saya, situasi persimpangan lalu lintas budaya itu sekarang kembali terjadi dan kontrol atas aktivitas berbahasa tak dapat dijalankan secara superketat lagi.
Tentu era digital, lebih-lebih lagi era media sosial, menjadi landasannya. Batas-batas negara, apalagi batas-batas budaya, semakin kabur. Komunikasi dan percampurbauran antarbudaya sedunia semakin mudah terjadi, dengan skala yang bahkan jauh lebih masif ketimbang di era Marcopolo.
Lagi pula, siapa pun sekarang ini bebas menyebarkan ekspresi bahasa lewat media sosial sehingga pembentukan konsensus bahasa tidak dapat lagi secara sepihak dijalankan dari atas ke bawah oleh otoritas semacam negara. Maka, cara kita memandang dinamika berbahasa di era ini sudah semestinya berbeda dengan era Pak Badudu.
Badan Bahasa saya kira sudah lumayan paham itu. Maka, ketika melihat kata twit sudah begitu berterima dan hidup di kalangan masyarakat penutur bahasa Indonesia, diakuilah kata itu dan dimasukkanlah ia sebagai lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau mau ngotot-ngototan dengan keaslian, tentu yang akan dipilih adalah kata ”cicit” atau ”cicitan”. Sebab, kata tweet yang dipakai Twitter memang dimaksudkan sebagai tiruan bunyi burung yang mencicit.
Bahkan, sejak lama KBBI menjalankan sikap demikian. Banyak di antara kata-kata serapan dari bahasa Inggris sebenarnya memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia, tapi toh tak urung diserap juga.
Ambil contoh, kenapa kata ”manajer” diserap? Kenapa bukan pengatur atau pengurus? Kenapa pula dari tadi saya menuliskan kata ”era”, mulai era Marcopolo hingga era Pak Badudu, dan Anda merasa baik-baik saja? Bukankah itu kata serapan juga dari bahasa Inggris, sementara kita sudah mengenal kata ”zaman”? Lagian, kenapa pula kita memakai kata ”zaman” yang serapan dari bahasa Arab, sedangkan kita sudah punya kata ”masa”?
Dan, hei, Anda takut dengan imperialisme bahasa? Kenapa tidak memilih takut saja kepada penjajahan bahasa?
Dari fakta-fakta itu, atas dasar apa kita takut menyerap kata meeting menjadi ”miting” sebagaimana sudah biasa kita tuliskan saat chatting di WhatsApp dan mengunggah twit di akun Twitter kita?
Percayalah, langkah penyerapan semacam itu tidak akan menghancurkan bahasa Indonesia. Ia juga tidak akan meremukkan karakter bangsa kita, sebagaimana selama ini mengenakan baju-celana yang bersifat ”serapan” dari budaya Eropa-Amerika toh tidak membuat kita jadi lupa bahwa kita ini orang Indonesia.
Lebih jauh, jika kita ingin bahasa kita lebih dominan dan diserap bahasa-bahasa lain di dunia, caranya bukan ngotot-ngototan menggenggam bahasa Indonesia yang ”asli”. Langkah besar yang dapat ditempuh adalah menjadikan Indonesia mendominasi dunia sehingga suatu hari nanti keindonesiaan akan identik dengan hal-hal yang wah dan keren sebagaimana seabad terakhir kita melihat Inggris dan kemudian Amerika.
Nah, tentang yang terakhir itu, biarkan Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang memikirkannya. (*)
*) Penulis buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
