
Miftakhul F.S
Putar kembali ingatan tentang pemilihan pengurus. Para pemilik suara banyak yang tidak mengerti sepak bola. Mereka bisa datang dan mewakili klub atau asosiasi lebih karena mempunyai jabatan politis di daerahnya.
Bukan karena kecakapan mengurus sepak bola. Dan, sebagian di antara mereka memilih pengurus bukan didasarkan pada kapasitas. Tapi, lebih kepada uang transportasi yang bisa diperoleh.
Dan, kalau tidak menjadikan sepak bola sebagai kendaraan politik, mereka memilihnya sebagai ladang mengeruk uang. Kita bisa membacanya dari regulasi pemain.
Kompetisi kita selalu alpa memberi ruang kepada para pemain muda untuk berkembang. Kompetisi kita selalu alpa memberi tempat para pemain yang berada di usia emas –18 sampai 26 tahun– untuk turun ke lapangan.
Kompetisi kita lebih memberi ruang kepada pemain asing. Dan, ini tentu lebih menguntungkan. Sebab, ada uang yang lebih besar di sana. Memang tak bisa dimungkiri, sebenarnya kedatangan pemain asing ini baik. Mereka bisa mendongkrak level dan motivasi bermain para pemain lokal. Tapi, itu kalau yang datang punya kualitas mumpuni. Yang jadi masalah, yang datang selama ini tak semuanya mumpuni.
Kita juga bisa membacanya dari jadwal pertandingan. Betapa mudahnya saat ini kita menjumpai pertandingan yang jadwalnya sangat tidak bersahabat dengan kondisi para pemain. Mereka memainkan sepak bola pada waktu kebanyakan orang berangkat tidur. Dan, jadwal itu menegaskan bahwa pengelola sepak bola tunduk pada kepentingan uang. Bukan perkembangan sepak bola.
Sudah begitu, masih saja ada yang memainkan skor pertandingan. Mengatur-atur hasil pertandingan. Dan, yang ini, uangnya pun tidak kecil. Tidak sedikit. Tapi, saya sebenarnya menganggapnya ’’recehan’’.
Parahnya lagi, mereka juga abai terhadap pembinaan. Otoritas sepak bola tak pernah serius membuat kompetisi berjenjang dari usia dini hingga remaja. Tak pernah serius membuat panduan pelatihan untuk sepak bola usia dini sebagai fondasi terciptanya tim nasional yang mumpuni.
Lalu, kalau sudah seperti ini, pelajaran macam apa yang harus dipetik dari kekalahan di Piala AFF 2016? Sekali lagi, ingat, kekalahan di Rajamangala itu bukan yang pertama. Kita sudah 25 tahun tak berprestasi. 25 tahun!
Kita sudah tak lagi berada di tataran memetik pelajaran dari kekalahan di Stadion Rajamangala, Bangkok, pada 17 Desember lalu. Kita ini sudah berada di lingkup wajib berubah. Sekali lagi, kewajiban kita adalah berubah. Konyol rasanya kalau ternyata (sepak bola kita) tidak berubah dan masih saja bertikai. (*)
*) Wartawan Jawa Pos

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
