alexametrics

Biar Fokus, Main ‘Biasa’ Saja

Oleh PONARYO ASTAMAN*
5 September 2019, 12:13:03 WIB

GANYANG Malaysia! Kalimat yang digelorakan Bung Karno itu selalu saja menggema ketika ada persinggungan antara Indonesia dan Malaysia. Dalam segala hal. Dalam segala bidang. Contoh kasusnya juga begitu banyak. Mulai kasus perbatasan negara sampai kasus klaim batik, reog, dan rendang.

Begitu pula halnya di olahraga, wabil khusus sepak bola. Pertandingan yang mempertemukan Indonesia dengan Malaysia dipastikan selalu seru. Dalam level apa pun. Jauh sebelum pertandingan pasti sudah ramai. Suporter pasti tersedot perhatiannya. Melebihi perhatiannya ke pertandingan-pertandingan lain. Selalu ada gengsi tersendiri di dalamnya ketika Indonesia bertemu Malaysia.

Kualitas Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan Malaysia membuat pertandingan semakin seru. Apalagi, satu sama lain saling mengalahkan. Dan Indonesia pernah beberapa kali takluk oleh Malaysia di kandang sendiri. Saat kita mendapat dukungan begitu banyak penonton di stadion.

Contohnya saat saya masih bermain. Dalam semifinal Piala AFF 2004 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, ketika seisi stadion begitu bergemuruh mendukung Indonesia, kita justru kalah 1-2. Sebaliknya, saat Indonesia bermain di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, ketika berlaga di bawah tekanan puluhan ribu suporter tuan rumah, kita justru menang telak. Menang 4-1.

Di event SEA Games, kita juga pernah dipermalukan di kandang sendiri. Tengok saja kekalahan menyakitkan Indonesia di final SEA Games 2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di depan publik sendiri, Indonesia kalah lewat drama adu penalti.

Di level timnas senior, yang paling hangat tentu final Piala AFF 2010. Di babak penyisihan kita menang besar 5-1. Tapi, saat bertemu lagi di final, kita justru yang tertunduk.

Jadi, apa yang harus dilakukan ketika bertemu Malaysia lagi? Menurut saya, setiap melawan Malaysia, kita seharusnya bermain “biasa” saja. Biasa dalam tanda kutip itu berarti para pemain tidak boleh terprovokasi apa pun yang berkembang di luar lapangan. Hakikat sepak bola itu kan ditentukan dalam pertandingan sepanjang 2 x 45 menit di area seluas 60 x 100 meter.

Sepak bola itu aturannya simpel. Kalau mau menang, kita harus mencetak gol sebanyak-banyaknya dan jangan sampai kebobolan. Dan bermain di mana saja aturannya akan tetap sama. Maka, tugas pemain adalah fokus dalam 2 x 45 menit tersebut.

Tidak perlu terprovokasi, tidak perlu “overmotivasi”. Sebab, dengan main “biasa” saja agar bisa tetap fokus itu, kans memenangi pertandingan jauh lebih besar. Itulah yang terjadi di penyisihan grup Piala AFF 2010. Indonesia saat itu tidak terbebani gemuruh penonton. Dan itu sebenarnya dipahami betul oleh Simon McMenemy, pelatih kita. Dalam beberapa kali kesempatan dia menjelaskan, faktor mental yang paling menentukan ketika melawan Malaysia.

Jadilah Zlatan Ibrahimovic atau Cristiano Ronaldo yang menyebalkan untuk lawan, tapi tetap fokus dan bisa memenangi pertandingan. Jangan seperti Wayne Rooney dan David Beckham yang mudah terprovokasi hal kecil sehingga menjadikan timnya menelan kekalahan.

*) Mantan Kapten Timnas Indonesia

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Miftakul Fahamsyah

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ttg

Close Ads