Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Juni 2025 | 22.52 WIB

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Haji Mabrur

Gubernur Khofifah saat menjalankan ibadah di Masjidil Haram, Makkah. (Pemprov Jatim)



KITA
, umat Islam, patut bersyukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan karunia-Nya. Tahun ini, kita kembali dipertemukan dengan bulan yang agung: Dzulhijjah 1446 H.

Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan istimewa dalam Islam yang patut kita syukuri. Bulan ini membawa keberkahan yang luar biasa. Seperti disampaikan oleh As-Syaikh Afifuddin Al-Jailani, cicit dari pendiri Tarekat Al-Qadiriyah dan Grand Custodian Maqam Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam sebuah siaran dakwahnya.

Mengutip ayat “Demi waktu pagi dan demi sepuluh malam pertama,” beliau menjelaskan bahwa para ulama tafsir sepakat: sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah adalah momentum yang sangat baik untuk memperkuat ibadah, apalagi saat ini bertepatan dengan musim haji.

“Allah SWT bersumpah bahwa siapa pun yang mengerjakan amal baik di hari-hari ini, maka catatan kebaikannya akan terus mengalir, tak hanya selama sepuluh hari, tapi sepanjang masa,” ujar beliau.

Amalan yang dianjurkan antara lain bersedekah, berpuasa, mendirikan salat—bukan hanya salat rawatib, tetapi juga salat sunnah seperti tahajud dan qiyamul lail. Kita juga dianjurkan memperbanyak zikir, bershalawat, dan beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT.

Jejak Para Auliya di Bulan Dzulhijjah

Sejarah mencatat, para wali Allah (auliya’illah) selalu mengisi bulan ini dengan amalan terbaik. Salah satunya adalah As-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a., pendiri tarekat Al-Qadiriyah dan tokoh besar sufisme.

Beliau lahir di Jailan, selatan Laut Kaspia, wilayah Iran, pada 1077 M, dan wafat di Irak pada 1166 M, dalam usia 91 tahun.

Dikenal sebagai sosok alim, ahli hadis, ahli Al-Qur’an, dan juga ahli ruqyah, beliau sangat menanti kehadiran bulan Dzulhijjah. Puasa dan sedekah menjadi bagian dari amalan utama beliau.

Yang luar biasa, meski telah wafat hampir 900 tahun lalu, warisan amalnya masih terasa. Setiap hari, sekitar 600 orang mendapat makanan—dua kali sehari—dari dapur umum yang didirikan atas namanya. Ini adalah contoh nyata bahwa hubungan yang baik dengan Allah (hablumminallah) selalu melahirkan kemanfaatan sosial yang nyata, dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah.

Menyambut Puncak Haji

Kini, kita berada di puncak musim haji. Saya berdoa agar seluruh jemaah haji Indonesia, dan jemaah dari seluruh dunia, mendapatkan keselamatan dalam perjalanan ibadahnya. Berangkat dengan selamat, pulang pun dengan selamat.

Ratusan ribu jemaah mulai bergerak menuju Arafah, dan saya yakin, 100 persen dari mereka berharap hajinya berjalan lancar dan mendapatkan predikat mabrur.

Makna Haji Mabrur

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore