
Fabian Rafky Wijaya
OBAT seharusnya menyembuhkan. Namun di tangan yang salah, ia bisa menjelma jadi racun yang perlahan mencabut kewarasan, bahkan nyawa.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan bagaimana tramadol dan chlorpromazine (lebih dikenal sebagai excimer) tak lagi hanya menjadi bagian dari lemari obat rumah sakit. Ia mulai merambah ke jalanan, masuk ke tangan-tangan penasaran yang mengira euforia sesaat bisa menjadi jalan keluar dari stres, kelelahan, atau sekadar keinginan ‘coba-coba.’
Padahal, tramadol bukan obat sembarangan. Ia adalah analgesik dari keluarga opioid, dipakai dokter untuk mengatasi nyeri pascaoperasi atau nyeri kronis yang membandel.
Di sisi lain, excimer adalah obat antipsikotik yang ditujukan untuk mengelola gangguan mental berat seperti skizofrenia dan bipolar. Dua obat berbeda, tapi satu kesamaan: bila disalahgunakan, keduanya bisa menjadi bom waktu dalam sistem saraf manusia.
Tramadol kerap dicari karena efek euforianya. Yang tidak banyak orang tahu, efek itu datang dari manipulasi sistem reward otak—mengacaukan cara kita merasakan kenikmatan dan motivasi.
Tramadol mengikat reseptor μ-opioid dan mendorong pelepasan serotonin serta norepinefrin. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan kimiawi yang dalam jangka panjang menjerumuskan otak ke dalam lingkaran kecanduan. Bahkan, pengguna bisa mengalami kejang, depresi pernapasan, hingga kematian akibat overdosis.
Excimer, walau tak sepopuler tramadol di kalangan pengguna rekreasional, punya daya rusak yang tak kalah serius. Obat ini bekerja dengan memblokir dopamin—zat kimia otak yang mengatur gerak dan emosi.
Penyalahgunaan chlorpromazine bisa menyebabkan gangguan motorik, tremor, hingga kondisi langka tapi mematikan yang disebut sindrom neuroleptik maligne. Bukan cuma merusak otak, tetapi juga mencabut kendali atas tubuh.
Masyarakat kerap terjebak dalam narasi bahwa penyalahgunaan narkoba hanya soal ganja, sabu, atau ekstasi. Padahal, bahaya baru justru datang dari obat legal yang bisa dibeli dengan resep, atau bahkan diselundupkan dari jalur resmi. Tramadol dan excimer adalah contoh nyata bagaimana obat yang seharusnya menolong justru membunuh perlahan jika disalahgunakan.
Sayangnya, edukasi mengenai bahaya ini belum merata. Terlalu sedikit kampanye yang menyinggung risiko penggunaan berlebihan obat resep. Di sisi lain, akses terhadap obat-obat ini kadang terlalu longgar. Penegakan hukum saja tidak cukup. Harus ada upaya kolektif: edukasi dari tenaga kesehatan, regulasi yang tegas, dan kesadaran dari masyarakat.
Tramadol dan excimer bukan musuh bila digunakan sesuai aturan medis. Tapi ketika jatuh ke tangan yang salah, mereka bisa lebih mematikan dari yang kita kira. Sudah saatnya kita berhenti memandang enteng penyalahgunaan obat resep—karena nyawa tidak bisa ditebus hanya dengan penyesalan.
*) Fabian Rafky Wijaya, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
