Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Mei 2023 | 02.14 WIB

Semangat Syawal dan Pembelajaran Bisnis

Dr. Gancar Candra Premananto,  Dosen penggerak Manajemen Spiritual dan Ketua Departemen Manajemen FEB Universitas Airlangga. (Istimewa) - Image

Dr. Gancar Candra Premananto, Dosen penggerak Manajemen Spiritual dan Ketua Departemen Manajemen FEB Universitas Airlangga. (Istimewa)

Oleh Dr. Gancar Candra Premananto *)

AKTIVITAS mudik di bulan Syawal tahun 2023 diperkirakan melibatkan 123,8 juta masyarakat. Dengan perkiraan uang beredar mencapai Rp 8,3-8,5 Trilyun. Perputaran uang yang terjadi diharapkan juga memberi dampak bagi perekonomian daerah sekitar 0,2%-0,4% dari data baseline.

Dari data yang tersaji membuktikan bahwa aktivitas mudik turut mendorong roda perekonomian baik secara agregat maupun ke daerah-daerah. Di luar hal tersebut, banyak hal dari semangat bulan Syawal yang dapat diaplikasikan dalam manajemen berwirausaha.

Semangat Berproses Menempuh Tujuan
Mudik Lebaran di bulan Syawal, tentunya sudah direncanakan jauh-jauh hari, karena mudik memerlukan kesiapan finansial dan mental. Dan para pemudik sudah memahami berbagai risiko mudik yang dilakukannya, risiko macet, risiko kesulitan mendapatkan ransum makanan selama perjalanan risiko kendaraan dll.

Tujuan mudik adalah bersilaturahmi dan berbahagia dengan keluarga tercinta. Dan hal itu butuh proses yang tidak terjadi secara tiba-tiba. Hal ini dapat menjadi pembelajaran dalam menjalankan bisnis, bahwa butuh perencanaan terhadap pilihan bisnis kita dengan mempertimbangkan berbagai risiko.

Pemahaman terhadap berbagai risiko harus dapat diantisipasi oleh pelaku wirausaha, untuk direncanakan aktivitas memitigasi kemungkinan terjadinya risiko. Tidak ada bisnis yang tanpa risiko, bahkan bila ada yang menwarakan bisnis dengan bebas risiko, haruslah diwaspadai sebagai upaya untuk melakukan penipuan.

Wirausahawan juga harus menyadari tidak ada bisnis yang instan sukses. Kesuksesan membutuhkan perencanaan, dan proses manajemen. Untuk itu seorang wirausaha juga harus dapat menyesuaikan pilihannya dengan kesiapan dan kemampuan finansial dan mentalnya seperti usaha untuk mudik yang tidak perlu memaksakan diri melakukan sesuatu di luar kemampuan dirinya.

Semangat Silaturahmi
Syawal mengajarkan kepada kita untuk meningkatkan silaturahmi. Dan silaturahmi memang menjadi ajaran agama, “Beribadahlah pada ALLAH SWT dengan sempurna, jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara.” (HR Bukhari) dan juga “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam bisnis, membangun silaturahmi dengan semua stake holder sangatlah penting. Bagi pemilik usaha umumnya diperlukan jejaring bisnis yang memungkinkan terjadinya kerja sama bisnis, selain juga perlunya ada asosiasi untuk usaha sejenis.

Dengan konsumen silaturahmi dilakukan dalam bentuk komitmen menjalankan customer relationship marketing (CRM), Adapun silaturahmi yang baik dengan supplier dijalankan dengan melaksanakan supply chain management (SCM). Dengan demikian, semangat bersilturahmi, harus terus dibangun oleh seorang wirausahawan, kepada semua stakeholder usahanya, sebagai tips sukses melapangkan rezeki seperti disampaikan hadist Bukhari dan Muslim.

Semangat Menampilkan hal Terbaik
Salah satu sunnah ketika lebaran adalah memberikan penampilan terbaik."Pada setiap hari raya, Rasulullah SAW menyuruh kami agar mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai minyak wangi terbaik yang kami punyai, dan menyembelih kurban hewan termahal yang mampu kami sediakan." (HR AI-Hakim).

Demikian juga saat berbisnis dengan mitra dan pelanggan. Pemasar harus mampu menunjukkan hal terbaik dari produknya dibanding pesaing. Seorang wirausaha yang baik harus mampu selalu menampilkan yang terbaru dan terbaik dari produk dan layanannya. Wirausahawan yang baik, harus mampu melakukan inovasi-inovasi baru agar konsumen tidak bosan dan terus penasaran untuk mencoba produknya.

Semangat Berbagi
Data di awal, menunjukkan bahwa aktivitas mudik memberi dampak perekonomian bagi masyarakat secara umum, termasuk di daerah. Lebaran tidak meninggalkan aspek berbagai kepada sesama. Idul Fitri diadakan keharusan zakat fitrah dan zakat maal. Sedang di Idul adha adanya anjuran untuk berqurban. Saat hari raya selain aktivitas transedental secara vertikal juga ada aktivitas berbagi secara horizontal.

Semangat berbagi harus dibawa dalam kehidupan bisnis wirausaha. Karena pengusaha kelas dunia bahkan tergabung dalam Giving Pledge yang rela mendonasikan Sebagian besar dananya untuk kegiatan sosial. Dan kelompok tersebut membuktikan adanya Charity Paradox, bahwa semakin berbagi, bahkan sang pengusaha malah semakin kaya bukan malah miskin. Iblislah yang mengajak manusia kikir karena takut miskin (QS AL Baqarah 268), namun ajaran agama selalu mengajak berbagi agar manusia sukses dan bahagia (QS As Saba: 39), bahwa “Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”

Penutup
Untuk menjadi pembelajar manajemen, kita dapat belajar dari manapun, dan butuh sensitivitas kita untuk melihat berbagai ilmu dari berbagai hal di sekitar kita. Dalam hal ini kita dapat memaknai semangat Syawal menjadi sebuah pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam manajemen berwirausaha.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore