Suko Widodo
SEARCHGPT, ”masakan” terbaru dari ”dapur” OpenAI, mulai disebut-sebut. Belum sepenuhnya jelas sosoknya. Setidaknya bagi kami yang hingga tulisan ini dibuat masih berada dalam antrean waiting list. Informasi di laman OpenAI hanya menyebut bahwa SearchGPT ini adalah cara baru dalam mencari informasi di internet. Selama ini pencarian informasi masih didominasi Google sebagai mesin pencari.
Masih dari informasi OpenAI, fitur SearchGPT ini dirancang dengan mengombinasikan kelebihan-kelebihan model AI dari OpenAI, yakni memberi jawaban yang cepat dan tepat dengan sumber-sumber yang jelas dan relevan. Karena itu, jurnalis dan media menjadi bagian dari sedikit pihak yang diberi akses terhadap purwarupa sementara SearchGPT untuk mendapatkan umpan balik dan masukan. Rencana OpenAI adalah mengintegrasikan SearchGPT dengan ChatGPT.
Berarti, sangat mungkin ini adalah upaya kompromistis OpenAI dalam memecahkan masalah legal dan etis dari penggunaan data dari jurnalisme dan pers sebagai training data. Nicholas Thompson menyatakan, pencarian (di internet) dengan AI akan menjadi kunci perilaku pengguna menjelajahi internet. Ini penting di masa seperti ini, teknologi dibuat melalui cara-cara yang menghormati dan melindungi jurnalisme. Sebagaimana diinformasikan, Nicholas Thompson adalah CEO The Atlantic, salah satu perusahaan media yang bekerja sama dengan OpenAI untuk menguji coba purwarupa SearchGPT.
Mungkin saja OpenAI mengambil pelajaran dari Google ketika mengembangkan Gemini. Meski mengatakan Gemini menggunakan informasi yang bisa diakses secara terbuka (publicly accessible), Google tidak menjawab secara jelas pertanyaan insan pers dan jurnalisme, apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam data training untuk Gemini. Sebenarnya sama dengan sikap Mira Murati, OpenAI, ketika ditanyakan hal yang serupa. Masalah training data ini masih menjadi pembahasan yang serius dalam pengembangan AI.
AI dalam Jurnalisme
Selama lima tahun terakhir, kajian jurnalisme dan AI berfokus pada jurnalis dan ruang berita memanfaatkan AI dalam pengumpulan, produksi, dan distribusi berita. Atau mengkaji AI akan berpengaruh pada profesi jurnalis atau tidak.
Survei POLIS (pusat kajian di London School of Economics) yang khusus mengkaji aktivitas perusahaan dan praktisi media dengan generative AI menunjukkan hasil bahwa lebih dari 75 persen responden memanfaatkan AI setidaknya dalam salah satu aspek dalam produksi berita sejak pengumpulan, produksi, sampai distribusinya. Namun, hanya sepertiga yang merasa yakin perusahaan media tempatnya bekerja itu siap menghadapi tantangan dari adopsi AI dalam jurnalisme.
Reuters Institute Digital News Report 2024 menunjukkan kekhawatiran dari praktisi jurnalisme tentang penggunaan AI dalam berita, khususnya pada pemberitaan politik dan konflik. Mayoritas praktisi jurnalisme ini lebih nyaman bila AI ”hanya” dimanfaatkan sebagai alat penunjang pekerjaan jurnalis semata.
Laporan Nieman pada 2023 menceritakan contoh implementasi AI di ruang berita. Sebuah kantor berita sejak 2016 ternyata memulai menulis sebagian artikel keuangannya dengan memanfaatkan machine learning. Tujuannya, memberikan lebih banyak waktu bagi para reporternya untuk lebih berfokus mengerjakan laporan dengan detail dan berita-berita mendalam (in-depth analysis).
Dengan SearchGPT, semakin tergambar jelas kehadiran AI ini akan mengubah lanskap jurnalisme. Dunia pers dan jurnalisme ketika memasuki dunia digital berarti pula memboyong skema revenue dan pendapatan dari iklan konvensional ke ranah digital. Jumlah langganan koran, misalnya, dikonversi menjadi jumlah klik dan kunjungan ke situs media. Mesin pencari menjadi pintu masuk pengguna internet menuju situs media yang bersangkutan. Ini lebih praktis bagi pengguna daripada harus menghafalkan alamat website dari sebuah berita.
Dunia pers dan jurnalisme hanya sekejap mata merasakan berkah dari mesin pencari ini, sekitar dua dekade lalu. Sebelum kedatangan media sosial. Bukan hanya karena media sosial kemudian menjadi tempat pertama bagi pengguna internet untuk menemukan informasi. Namun, ada juga sisi yang tak kalah suram di baliknya. Yakni, perubahan drastis perilaku pengguna internet. Salah satunya adalah rentang perhatian yang pendek dan semakin pendek.
Sebagian besar pengguna internet hampir pasti tidak akan menghabiskan waktu membaca atau menonton konten secara utuh. Bahkan, banyak yang merasa cukup dengan hanya membaca judul dan/atau melihat gambar. Belakangan, Reuters Digital News Report 2024 menunjukkan pergeseran perilaku ini dari teks/gambar menjadi video singkat. Naiknya engagement platform TikTok adalah salah satunya. Pun pergeseran fenomena baru saat influencer bisa menjadi sumber berita dengan video pendeknya. Dunia pers dan jurnalisme merasakan dampak yang tidak menyenangkan.
Berkah atau Bencana
Peluang dari kehadiran SearchGPT, yang biasanya disusul GPT serupa lainnya, harus bisa ditangkap dunia pers dan jurnalisme dengan baik. Menjadikannya berkah alih-alih menjadi bencana. Dunia pers dan jurnalisme tidak boleh lagi kehilangan momentum sebagaimana sebagian besar di antara kita mengalaminya dengan media sosial dalam konteks kualitas informasi.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
