
bandung mawardi
NOVEL biasa terbaca sebagai cerita. Sidang pembaca berharap menikmati cerita-cerita mungkin melulu imajinasi. Cerita pun bermula dari olahan biografi atau sejarah. Konon, ada pengarang Indonesia menulis novel bersumber puisi atau film. Kita mengerti bahwa novel itu cerita. Pengertian berhak disangkal atau mendapatkan ralat.
Sejak masa 1970-an, para pembaca digoda puluhan novel gubahan Remy Sylado (1945–2022). Sekian novel mula-mula adalah cerita bersambung dimuat di pelbagai majalah dan koran. Dulu, puluhan novel dicap pop. Konon, cap mengartikan novel memberi hiburan. Novel adalah cerita enteng. Remy Sylado menulis cerita berbarengan pembesaran arus novel pop dan kemeriahan penerbitan majalah-majalah hiburan di Indonesia.
Kita tak membantah Remy Sylado sebagai pencerita ampuh dan memikat. Ia sering membawakan sejarah. Novel pun rekaman zaman. Sidang pembaca menemukan sejarah. Novel-novel menjadi dokumentasi manusia dan Indonesia, dari masa ke masa. Novel memang cerita.
Remy Sylado tak ingin cuma memberi cerita. Di novel-novel, ia berperan sebagai ahli bahasa atau juru penerangan bahasa. Ia kadang sengaja membuat paragraf atau menulis sekian kalimat untuk mengurusi bahasa. Siasat masih berkaitan cerita, tapi pembaca merasa sedang dihentikan sejenak untuk memikirkan bahasa.
Di novel berjudul Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa) (1999), Remy Sylado berbagi cerita mengandung masalah kemunculan istilah kelontong. Kita membaca: ’’Pedagang-pedagang kelontong Shan-Tung, sejak awal memasuki Indonesia, telah dikenal kalangan Tionghoa sendiri sebagai pendekar-pendekar ampuh yang memiliki corak silat tersendiri, bukan Shao-Lin, tapi Shan-Tung. Dengan itu mereka bisa masuk-keluar kampung, sampai ke tempat-tempat rawan antara hutan dengan hutan, dengan membawa kereta dagangan berisi segala macam keperluan, dilengkapi dengan sebuah alat musik sejenis bonang, terbuat dari besi dengan penconnya, yang ditabuhkan dan dianggap suaranya berbunyi ’klontong-klontong’.’’ (Karena dari bunyi itu pulalah pendekar-pendekar Shan-Tung ini lantas disebut ’’pedagang kelontong’’). Pada masa berbeda, kita mengetahui toko kelontong.
Di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952), susunan W.J.S. Poerwadarminta, terbaca pengertian kelontong: ’’sebangsa kelentungan jang dibunjikan apabila orang mendjadjakan barang-barang dagangan”. Pengertian untuk sebutan tukang kelontong: ’’orang jang mendjadjakan barang-barang (biasanja memakai kelontong).” Pengertian dalam kamus sama dengan pengisahan dalam Ca-Bau-Kan. Kita masih menemukan pengertian dibuat Poerwadarminta mengenai barang kelontong: ’’barang untuk keperluan sehari-hari (seperti sikat gigi, tjangkir, gelas, dan sebagainja).” Di situ, pembaca tak menemukan sebutan toko kelontong.
Poerwadarminta dalam Logat Ketjil Bahasa Indonesia (1951) mengartikan barang kelontong: ’’barang jang biasa didjual di toko-toko (sikat gigi, tjita, dan sebagainja)”. Kita bertemu toko kelontong dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain. Toko kelontong berarti ’’toko yang berjualan barang-barang kelontong.” Tukang kelontong: ’’penjaja keliling yang menjual barang-barang kelontong.” Kita mulai mengerti sebutan pedagang kelontong, berlanjut toko kelontong. Kesan saat membaca novel dan kamus-kamus tentu berbeda untuk berimajinasi babak kemunculan pedagang kelontong dan toko kelontong di Indonesia.
Kita diajak memikirkan lagi sebutan untuk orang bekerja mencari dan menulis berita. Di novel Ca-Bau-Kan, ada tokoh bernama Jan Max Awuy yang bekerja sebagai juruwarta. Kita mengutip: ’’Aneh juga orang itu. Siapa dia? Di belakang nanti orang mengenalnya lebih jauh. Dia Jan Max Awuy, putra pensiunan mersose, JAT Awoej, lahir di Tondano, besar di Cimahi, kini juruwarta koran Betawi Baroe.” Remy Sylado menerangkan bahwa juruwarta itu ’’istilah dulu untuk wartawan.” Pembaca diminta memahami kemunculan dua istilah berbeda masa. Kita mungkin berpikiran juga sebutan jurnalis.
Di Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia (2016) susunan Eko Endarmoko, kita menemukan sekian sinonim wartawan: ’’beritawan, jurnalis, juru berita, koresponden, kuli tinta, nyamuk pers, peliput, pemberita, pewarta, reporter.” Kita tak menemukan sebutan juruwarta.
Novel berjudul Ca-Bau-Kan berlatar waktu 1918–1951 itu memberi cerita sambil mengajak pembaca memikirkan istilah-istilah masuk dalam bahasa Indonesia. Sekian istilah memiliki asal usul, berlanjut ketetapan atau perubahan arti dalam kamus-kamus. Remy Sylado memiliki pengetahuan sejarah dan kebahasaan saat menaruh masalah-masalah istilah dalam novel. Ia agak menahan diri tak membuat puluhan kalimat saat menerangkan istilah-istilah lama.
Pembaca bakal menjawab penasaran dengan masalah-masalah bahasa dalam Ca-Bau-Kan bila mau membuka kamus-kamus lama dan baru. Penggunaan bahasa oleh para tokoh dalam novel pun membuat pembaca ’’wajib” mengerti sejarah dan perkembangan bahasa-bahasa di Nusantara. Bahasa digunakan para tokoh peranakan Tionghoa, Jawa, Eropa, dan lain-lain memastikan ada ajakan menilik sejarah bahasa bersinggungan politik, perdagangan, seni, agama, pers, dan lain-lain.
Novel terbukti berbagi masalah dan renungan bahasa. Remy Sylado mengisahkan: ”FD Pangemanan berkomat-kamit mengucapkan hafalan doa Masehi –yang anehnya dalam bahasa Belanda sementara dia sendiri anggota Jong Minahasa yang ikut mengumandangkan Sumpah Pemuda dalam kongres para pemuda dua tahun lalu tentang bahasanya, bahasa Indonesia.”
Selama puluhan tahun, kita jarang mau berurusan bahasa saat menikmati ratusan novel. Dulu, Poerwadarminta menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia menggunakan novel sebagai sumber mencari kata-kata. Pada masa berbeda, sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia dalam novel jarang mendapat perhatian. Pengecualian tentu Remy Sylado, pengarang tak jemu-jemu menerangkan bahasa dalam novel-novel, sejak masa 1970-an. Begitu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
