Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Februari 2024 | 18.09 WIB

Ibadah Memilih dan Memilih Ibadah

 

Hamid Fahmy Zarkasy

NABI Ibrahim AS dikisahkan pernah dibakar hidup-hidup oleh tentara Raja Namrud. Saat api sedang dinyalakan untuk membakar Nabi Ibrahim, seekor burung pipit bergegas mengambil air dari danau untuk memadamkan api itu. Seekor burung gagak heran melihat burung pipit tersebut dan bertanya, ”Bagaimana mungkin kamu bisa memadamkan kobaran api sebesar itu.” Burung pipit pun menyahut, ”Aku tahu tidak dapat memadamkan api tersebut, tapi setidaknya aku punya alasan di hadapan Rabb-ku kelak, di posisi siapa aku berdiri.”

Sementara itu diceritakan, di dekat api itu ada seekor cicak yang meniup-niupkan angin dari mulut mungilnya agar nyala api tersebut membesar. Niatnya sudah tentu agar Nabi Ibrahim terbakar habis.

Apa yang penting dalam kisah itu adalah pesan bahwa dalam hidup ini ada dua pilihan memilih membela yang benar atau yang mungkar. Ini relevan dalam konteks pemilihan pimpinan negara atau presiden (pilpres) pada tahun 2024 ini. Namun, alasan dan niat memilih kepala negara tidak sesederhana alasan burung pipit. Sebab, kita harus punya ilmu untuk memilih pemimpin yang baik dan tahu maslahat-mudaratnya dari pilihan tersebut. Itu nalar dan pesannya.

Bagaimana kita membedakan calon pemimpin yang baik dari yang buruk? Tuhan memberi manusia indra, akal, dan kehendak yang dibantu oleh wahyu untuk memperoleh pengetahuan untuk memilih. Wahyu Alquran memberikan petunjuk kualitas pemimpin yang baik adalah yang beriman dan beramal saleh (QS An-Nur: 55). Ukurannya bisa dirujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW bahwa iman itu mempunyai 77 cabang (syu’ab al-iman) yang berupa perbuatan. Semakin banyak amal kebajikannya, semakin tinggi imannya.

Tanda keimanan tertinggi adalah keikhlasan. Menurut Nabi SAW, pemimpin yang ikhlas adalah apabila dia ”diminta”, bukan ”meminta” menjadi pemimpin (Al-Hadith/hadis). Kesalehan lainnya adalah dalam ucapan. Ujaran seseorang ”saya suka berjudi” atau ”merampoklah rumah orang di saat sedang kebakaran”, ”menipulah kamu asal sopan”, dan semacamnya menunjukkan kualitas keimanan dan kesalehannya.

Praktisnya seperti pernyataan Umar bin Khattab bahwa pemimpin harus orang yang kuat, tegas, dan bijaksana. Pernyataan Umar 1.400 tahun lalu itu seperti diulang lagi oleh Jim Rohn, pengusaha, penulis, dan motivator asal Amerika. Katanya, ”Tantangan kepemimpinan adalah menjadi kuat, namun tidak kasar; bersikap baik, tapi tidak lemah; berani, tapi jangan menggertak; bijaksana, tapi tidak malas; bangga, tapi tidak sombong; punya humor, tapi tanpa kebodohan.”

Jika muslim masih bingung memilih dua pilihan, Islam mengajarkan salat Istikharah. Jika tidak tahu memilih dan tidak mau Istikharah, ia tidak jauh berbeda dari cicak. Memilih karena untuk dapat jabatan, kekuasaan, atau materi. Berarti ia telah memilih tidak untuk ibadah. Dia kalah mulia dari burung pipit.

Jika seseorang itu niat memilih untuk ibadah, ia akan memilih karena kriteria yang diajarkan Alquran dan Al-Hadith. Karena niatnya ibadah, prosesnya ikut syariat agar bernilai maslahat. Jika ajaran Islam ini dipersonifikasikan pada seseorang, akan menjelma menjadi pemimpin yang adil. Sebab, the core of leadership is justice. (*)


*) HAMID FAHMY ZARKASYI, Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Ponorogo

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore