Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Januari 2024 | 17.22 WIB

Netralitas dan Harlah Ke-101 NU

 

NADIRSYAH HOSEN

MENYIKAPI persoalan di beberapa waktu terakhir ini terkait isu netralitas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap pilpres, saya merasa perlu memberikan suara kepedulian terhadap organisasi tercinta ini. Ada rasa kekhawatiran yang mendalam ketika PBNU yang seharusnya berada di garda terdepan menjaga tali persatuan dengan bersikap netral justru malah sengaja turut berenang di kolam politik dengan menggemakan dukungan terhadap salah satu paslon peserta Pilpres 2024 ini.

Langkah-langkah tak elegan dilakukan para petinggi PBNU yang mengumpulkan pengurus mulai dari tingkat wilayah (PWNU) hingga cabang (PCNU) seluruh Indonesia di Surabaya serta dihadiri pula oleh Ketua Umum dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar tersebut memang sangat patut untuk disayangkan.

Di mana pada pertemuan itu telah terbit ’’dawuh’’ atau instruksi tak tertulis untuk memenangkan paslon PrabowoGibran. Saya pun sebelum sampai akhirnya informasi ini tersebar luas telah melakukan kroscek dan tabayun kepada para kiai yang hadir pada pertemuan tersebut. Hasilnya? Enggak cuma satu yang ngomong. Banyak, bahkan kalimatnya diucapkan sama.

Duuarr… PBNU pun segera melakukan klarifikasi melalui Sekjen Gus Ipul yang mengatakan bahwa pihaknya menyesali pernyataan saya yang telah merilis sesuatu tanpa tabayun dulu kepada PBNU. Termasuk Ketua Umum Gus Yahya yang juga turut bersuara bahwa yang saya sampaikan itu hanyalah prasangka saja dan tidak ada bukti apa pun bahwa itu ’’pernah” terjadi.

--

Setelah ramai di mana-mana dan terlihat persoalan ini bukan masalah biasa, akhirnya salah satu Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) urun bersuara juga. Kita sama-sama bisa melihat pernyataan beliau pada acara pembukaan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama dan Halaqah Nasional Strategi Peradaban Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta, pada Senin (29/1) lalu.

Gus Mus mengatakan bahwa tugas NU adalah memenangkan Indonesia, bukan calon presiden (capres) tertentu. ’’Urusannya NU itu memperbaiki kinerja, memenangkan Indonesia, bukan memenangkan capres,’’ tegas Gus Mus.

Bahkan, kalau teman-teman lihat, Gus Mus sempat punya niat akan meninggalkan pertemuan tersebut jika ketua PBNU ataupun rais aam PBNU menyinggung pilpres saat pidato.

’’Saya ini sudah ketir-ketir. Ketika ketua umum pidato, rais aam pidato, jangan-jangan nyinggung pilpres. Begitu nyebut pilpres, saya keluar. Itu bukan urusannya NU. Untungnya tidak,” terang Gus Mus.

Gus Mus pun turut mendoakan semoga Allah merahmati Indonesia, merahmati NU, merahmati warga NU, merahmati bangsa Indonesia.

Nah, menurut saya, pernyataan Gus Mus tersebut sesungguhnya mewakili keresahan banyak kalangan warga NU yang mengetahui dan merasakan masifnya pergerakan struktur NU dari pusat, wilayah, sampai cabang mengampanyekan paslon tertentu. Ketika Gus Mus mengungkapkan rasa ketir-ketir bila rais aam dan Ketum PBNU memberikan arahan soal pilpres, itu kan sebenarnya mengindikasikan beliau paham bahwa ada arahan semacam itu yang pernah diberikan sebelumnya di salah satu hotel di Surabaya maupun di pondok pesantren tertentu, yang dihadiri struktur NU.

Kita semua tahu itu gaya khas Gus Mus menyentil PBNU. Yang kemudian saya tangkap serta pahami dari pernyataan Gus Mus di acara konbes bahwa PBNU itu tugasnya memenangkan Indonesia, bukan memenangkan capres. Sejatinya beliau hendak mengingatkan PBNU untuk istiqamah di jalur politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Jangan sampai pernyataan resmi seolah netral, tapi di belakang layar memberikan arahan dan instruksi mendukung paslon tertentu.

Bagi saya, Gus Mus sukses melakukan koreksi internal dengan gayanya yang khas, yaitu dengan humor tapi pesannya tegas. Ini yang juga saya sering suarakan bahwasanya netralitas NU itu sangat penting bagi bangsa ini.

Tidak ada urusannya dengan seperti apa yang disampaikan Gus Ipul bahwa ini ada kaitannya dengan musyawarah luar biasa (MLB), sama sekali tidak. Ini semata-mata untuk menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang berperan penting sebagai perekat bangsa.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore