Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Oktober 2023 | 16.50 WIB

Cahaya Baru dari Nobel Kedokteran 2023

Dominicus Husada - Image

Dominicus Husada

SEPERTI diperkirakan banyak orang, Drew Weissman dan Katalin Kariko memenangkan Nobel Kedokteran 2023. Dua peneliti itu telah menyabet hampir semua penghargaan kedokteran paling bergengsi di dunia di luar nobel di sepanjang 2021 hingga 2023. Karya monumental mereka adalah pada pengubahan basa nukleotida mRNA dari uridin menjadi pseudouridin.

Teknologi vaksin mRNA telah dimulai pada era 1990-an. Hingga sekitar 2005 vaksin tersebut mempunyai kelemahan karena menimbulkan reaksi keradangan yang hebat pada hewan sehingga tidak ideal untuk digunakan pada manusia. Karya Weissman (Amerika Serikat/AS) dan Kariko (Hungaria) membuat keradangan sangat menurun serta menaikkan jumlah protein yang dibentuk. Vaksin menjadi jauh lebih poten dengan efek simpang minimal.

Vaksin mRNA juga adalah salah satu hal paling fenomenal yang terjadi selama pandemi. Sebelum pandemi, dunia telah mempunyai vaksin mRNA untuk penyakit ebola. Tapi, secara umum dapat dikatakan, penggunaan teknologi ini pada manusia relatif terbatas. Barulah ketika virus SARS-CoV-2 mengganas, vaksin mRNA maju sebagai yang pertama dibuat, yang pertama menjalani uji klinis, dan yang pertama mendapatkan izin edar dari sebuah negara dan selanjutnya WHO.

Saat ini vaksin mRNA adalah salah satu vaksin Covid-19 yang paling banyak digunakan di dunia. AS sebagai negara utama yang membuat dan memproduksi vaksin tersebut dalam skala besar bahkan tidak lagi memberi rekomendasi untuk semua vaksin Covid-19 dengan platform yang lain.

Jika pada vaksin konvensional yang dimasukkan ke dalam tubuh adalah protein, pada vaksin mRNA yang dimasukkan adalah pembawa perintah membuat protein. Protein kemudian akan dibuat dalam sel penerima vaksin berdasar kode perintah yang ada dalam vaksin tersebut. Teknologi ini membuat produksi protein lebih banyak dan lebih efisien sehingga respons imun yang dihasilkan juga lebih baik.

Dalam aspek laboratoris, vaksin mRNA mudah dan cepat dibuat, termasuk jika memerlukan modifikasi. Hal terakhir ini tidak mungkin dilakukan dengan vaksin model lama. Itu sebabnya, vaksin Covid-19 pertama sudah siap hanya dalam waktu 63 hari sejak Tiongkok melepas sekuen kode genetik virus SARS-CoV-2. Itu juga yang membuat modifikasi vaksin, seperti ketika AS membuat vaksin bivalen, hanya memerlukan waktu singkat dalam hitungan minggu. Pada konteks pandemi, puluhan juta nyawa berhasil diselamatkan berkat kecepatan menghasilkan vaksin yang poten memberikan perlindungan.

Sebenarnya kemajuan yang dilakukan Weissman dan Kariko tidak dapat dilihat hanya sebatas pada vaksin Covid-19. Saat ini ada belasan vaksin untuk penyakit lain yang sedang menjalani uji klinis, termasuk beberapa vaksin yang sudah berkali-kali gagal dan membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun. Para ahli juga sudah membuat vaksin untuk penyakit kanker dan satu-dua di antaranya telah melewati fase II dengan hasil yang memuaskan.

Dalam beberapa tahun ke depan sebagian penderita kanker akan melihat cahaya baru yang lebih memberikan harapan ke arah ”kesembuhan”. Lebih jauh lagi, teknik ini akan memungkinkan kita juga mempunyai vaksin untuk penyakit autoimun dan alergi dan upaya ke arah tersebut juga sudah di tengah jalan.

Mungkin kendala utama saat ini ada di sektor teknologi dan harga. Hanya sedikit perusahaan dan ilmuwan yang bisa mendesain dan memproduksi vaksin mRNA. Biaya pembuatan juga masih relatif mahal sehingga harga jual vaksin sangat terpengaruh. Bisa jadi dua negara dengan penduduk terbesar di dunia, Tiongkok dan India, terbentur pada masalah tersebut sehingga tidak terlalu antusias menggunakan vaksin mRNA sekalipun mereka telah menguasai kemampuan membuat dan memproduksi dalam skala massal. WHO menghendaki teknologi vaksin ini segera disebarkan dan dikuasai banyak negara, termasuk negara yang belum maju. Beberapa negara dibuat menjadi hub yang akan membantu negara-negara lain dalam proyek ini.

Indonesia dicangkokkan sebagai negara yang akan belajar ke Afrika Selatan dalam kegiatan tersebut, suatu hal yang sebenarnya diprotes oleh Menkes yang mengusulkan supaya negeri kita sendiri ikut dijadikan negara hub. Di dalam negeri banyak perguruan tinggi dan lembaga riset telah dikoordinasi untuk menyiapkan ilmuwan yang akan mengambil bagian dalam pembuatan vaksin tersebut. Hingga pengujung 2023, hanya ada satu perusahaan di negeri kita yang relatif siap dan akan mengelola vaksin mRNA sekalipun bukan dalam hal pembuatan sejak awal.

Satu tantangan lain adalah bagaimana membuat vaksin mRNA bisa memenuhi standar halal dan hal ini relatif gampang dilakukan mengingat vaksin dibuat secara sintetis di laboratorium. Peraturan Kemenkes saat ini menghendaki semua vaksin baru untuk dibuat secara halal, satu hal yang juga menjadi tuntutan banyak negara Islam di seluruh dunia.

Kemajuan teknologi saat ini telah membuat banyak hal yang dahulu tidak mungkin menjadi bisa dilakukan. Mungkin tidak terlalu lama lagi kita akan melihat ilmuwan Indonesia mendesain vaksin mRNA untuk penyakit yang banyak dijumpai di negeri ini. Dan selanjutnya vaksin tersebut diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan lokal dengan biaya yang lebih terjangkau untuk digunakan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Karya Drew Weissman dan Katalin Kariko 20 tahun lalu sesungguhnya merupakan pembuka bagi banyak hal yang akan jauh lebih cerah di masa depan yang akan segera tiba. (*)


*) DOMINICUS HUSADA, Konsultan infeksi anak FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya, anggota Tim Peneliti Vaksin Covid-19 Unair

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore