Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Desember 2019 | 22.43 WIB

Kita dan Mickey Mouse

BUDI DARMA - Image

BUDI DARMA

TENGOKLAH film-film animasi pendek Mickey Mouse. Tengok pula komik-komik dengan tokoh yang sama.

Ada tikus lucu bernama Mickey Mouse. Ada pasangannya, Minnie Mouse namanya. Ada pula Donald Bebek dan lain-lain.

Mengapa ada tikus lucu itu? Tidak lain, karena pada suatu hari, ketika Walt Disney sedang bekerja, sekonyong-konyong ada seekor tikus lucu mengintip. Kemudian, tanpa rasa takut, tikus itu berlari-larian di meja kerja Walt Disney.

Tikus itulah yang kemudian menjadi maskot perusahaan hiburan Disney.

Dan, tikus itu juga yang memberi inspirasi bagi Walt Disney untuk menciptakan Mickey Mouse yang muncul kali pertama pada tahun 1930.

Dalam film animasi, Mickey Mouse bukanlah satu-satunya tikus lucu dan menggemaskan. Ada tikus lain, yaitu Jerry dan musuh bebuyutannya, kucing bernama Tom, ciptaan William Hanna dan Joseph Barbera. Tom and Jerry, muncul kali pertama pada tahun 1940, produksi MGM, salah satu saingan berat Disney films.

Karena sama-sama tikusnya, khalayak kadang-kadang tidak membedakan antara Mickey Mouse dan Tom and Jerry. Mickey Mouse dianggap sebagai Jerry dan Jerry dianggap sebagai Mikey Mouse.

Lalu, ada anggapan bahwa tikus-tikus itu lari-lari demi kepentingan lari-lari itu sendiri. Bersembunyi demi kepentingan bersembunyi itu sendiri. Dan, melompat-lompat demi kepentingan melompat-lompat itu sendiri.

Melompat-lompat demi kepentingan melompat-lompat itu sendiri, ibaratnya, adalah gambaran masyarakat Indonesia sekarang. Sedikit-sedikit menyindir, sedikit-sedikit demo, sedikit-sedikit melapor, sedikit-sedikit mengancam, sedikit-sedikit menyerang, seolah-olah tidak ada perbedaan antara yang esensial dan yang remeh.

Mereka yang suka nyinyir dengan kata-kata yang kelewat batas mungkin merasa dirinya hebat dan merasa orang-orang lain bebal. Demikian juga para demagog yang suka bersuara keras di televisi.

Tetapi, mungkin semua omongan dan sikap mereka bagi masyarakat pada umumnya dianggap sama dengan tindakan-tindakan Mickey Mouse.

Sekarang tengoklah Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, dan silakan perhatikan kalimat ini: ”mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan.”

Di satu pihak, kemerdekaan itu nyata. Di lain pihak, kemerdekaan seolah-olah hanyalah fatamorgana. Bayangkanlah seandainya kita berdiri di lapangan luas, maka yang kita lihat adalah cakrawala.

Begitu kita berusaha mendekati cakrawala, cakrawala itu menjauh. Dengan demikian, sambungan kalimat di atas, yaitu bersatu, berdaulat, adil dan makmur, adalah proses yang terus berjalan tanpa pernah menemukan titik akhir.

Tiga kata tersebut pada hakikatnya saling berkelindan. Tanpa persatuan tidak akan ada kedaulatan dan tanpa kedaulatan tidak mungkin ada masyarakat adil dan makmur, kecuali kalau kita menjual kedaulatan kita kepada pihak asing. Lalu, siapa yang mampu menjual kedaulatan? Dan siapa pula yang mampu menghancurkan Indonesia? Tidak lain adalah orang-orang pandai kita sendiri.

Gempuran narkoba terhadap Indonesia tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang biasa. Demikian pula megakorupsi dan jaringan perdagangan manusia.

Menurut BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), jumlah serangan siber cenderung naik. Tahun 2015, ada 28 juta serangan siber. Dan, pada tahun 2018, ada 232.447.974 serangan, mayoritas sumbernya dari Indonesia sendiri dan serangan dilakukan oleh orang Indonesia sendiri untuk memperlemah Indonesia sendiri. Hanya orang-orang terpilihlah, tentunya, yang mampu melakukan serangan itu (Jawa Pos, Serangan Tembus 232 Juta, 20/9/2019, halaman 16).

Bukan hanya itu. Kita adalah penurut, bukan pemberontak. Kalau ingin tahu contoh bangsa pemberontak, lihatlah Korea Selatan, negara bekas jajahan Jepang.

Penjajahan masa lalu ditebus dengan balas dendam untuk membuktikan bahwa bangsa Korea Selatan bukanlah bangsa sembarangan.

Lihatlah, misalnya, dunia hiburan, Korea Selatan mendominasi dunia. Kendati mobil Jepang lebih dominan, mobil Korea Selatan juga menyebar ke seluruh dunia.

Sekarang tengoklah industri hiburan kita, antara lain sinetron. Hampir semua pemainnya bule atau setengah bule, dan laku karena kita menghargai bule. Lihatlah selebriti lain, misalnya penyanyi, model fashion, dan juga beberapa perempuan kaya.

Rambut hitam di-toning jadi blonde, kulit sawo matang di-white cleansing supaya tampak seperti bule. Tanpa sadar, kita merasa rendah diri terhadap bekas penjajah kita, dan karena itulah kita berlagak seperti bekas penjajah kita.

Sikap meniru-niru itulah yang oleh Homi Bhabha dinamakan ”mimicry”. Menyulap identitas dengan kepalsuan. (*)

*) Sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore