Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Desember 2016 | 22.52 WIB

Konyol kalau Tak Berubah dan Masih Bertikai

Miftakhul F.S - Image

Miftakhul F.S

SEDARI awal sejatinya kita menyadari bahwa Indonesia bakal sulit berprestasi di Piala AFF 2016. Lha wong baru mau terjun ke lapangan saja, tim nasional (timnas) sudah dikalahkan. Oleh anak bangsa sendiri pula.



Semua tahu bahwa pelatih timnas tak leluasa memilih pemain. Sebab, operator ’’kompetisi’’ dalam negeri dan klub-klub bersepakat hanya melepas maksimal dua pemain.



Semua juga tahu, Indonesia hampir tak bisa tampil di Piala AFF. Sanksi FIFA baru dicabut Mei lalu. Hanya enam bulan sebelum pergelaran Piala AFF.



Tapi, begitulah sepak bola. Selalu mampu membangkitkan luapan emosi. Meski sadar bahwa gelar juara sulit direngkuh, kita tetap mendukung timnas segenap jiwa raga. Harapan juga kita sematkan di pundak para pemain. Sekalipun kita juga sadar bahwa selama ini timnas lebih sering mendatangkan kekecewaan.



Dukungan kita semakin menggelora tatkala Garuda –julukan timnas Indonesia– mampu menembus semifinal lalu bablas ke final. Dan, ekspektasi kita akan datangnya gelar pertama di level senior selama seperempat abad terakhir kian meninggi begitu di pertandingan pertama final, Indonesia mampu menang 2-1 atas Thailand di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor.



Tapi, akhirnya kita pun kembali kecewa. Dahaga kemenangan selama 25 tahun ini belum tertuntaskan. Kendati begitu, banyak di antara kita yang tetap mengapresiasi Boaz Solossa dkk. Menganggap kekalahan kali ini sebagai pelajaran.



Apresiasi yang tidak berlebihan. Di lapangan, para pemain memang menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Saya, juga kita semua, tak menyangsikan itu. Setiap kali mengenakan kostum dengan lambang Garuda, para pemain Indonesia memang seperti itu dan sudah seharusnya begitu.



Tapi, kembali mengganggap kekalahan ini sebagai pelajaran, jujur ini terdengar kurang manis. Ingat, kita ini sudah lima kali gagal juara saat sudah berada di final. Lima kali. Pelajaran apa lagi yang harus dipetik.



Yang harus disadari adalah sepak bola negeri ini sudah salah jalan. Cara bermain kita sudah jauh tertinggal. Bukan saja oleh Thailand. Tapi, juga dari Vietnam yang kita kalahkan di semifinal.



Pemahaman taktik, kerapian memainkan bola, dan pemanfaatan ruang para pemain kita tak lagi sebanding dengan mereka. Pendek kata: ketika mereka memainkan bola, kita justru dipermainkan bola. Belum lagi kalau kita bicara fisik.



Para pemain tentu tidak sepenuhnya salah. Tapi, cara mengelola sepak bola kita yang keliru. Selama ini kita mengembangkannya hanya dengan menyandarkan pada pengalaman.



Apa yang didapatkan para pelatih kita di masa menjadi pemain dulu itu yang diputar kembali dan diberikan kepada pemainnya. Latihan pun begitu-begitu saja. Monoton. Juga tak mampu meningkatkan kemampuan para pemain.



Kita benar-benar tak pernah serius melibatkan ilmu pengetahuan. Padahal, negeri ini memiliki banyak fakultas olahraga. Ilmu kepelatihan olahraga dan sepak bola saat ini juga semakin mudah diakses. Tapi, pelaku sepak bola negeri ini tak pernah serius memanfaatkannya.



Salah satu parameter yang paling gampang untuk mengukurnya, coba hitung, berapa banyak kesebelasan sepak bola kita yang memiliki pelatih fisik? Atau, kalau kurang, coba hitung seberapa banyak para pemain pergi ke gym? Masih kurang? Lihat ada tidak kesebelasan yang memiliki ahli gizi?



Saat di lapangan kondisinya seperti itu, yang duduk di kursi kepengurusan pun terlihat tak pernah serius memikirkan sepak bolanya. Sepak bola masih saja dijadikan kendaraan politik. Menjadi alat untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Editor: Fim Jepe
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore