
Ilustrasi : Pilpres 2019
JawaPos.com - Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan elektabilitas alias tingkat keterpilihan kedua paslon yang bertarung di pilpres cenderung stagnan. Padahal, saat ini masa kampanye telah dilakukan secara masif oleh kedua belah pihak.
Menanggapi hal itu, Pipin Sopian selaku Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi mengaku tidak setuju dengan anggapan bahwa elektabilitas jagoannya cenderung stagnan. Buktinya, di media sosial, pasangan yang disingkat PADI itu selalu unggul dari Jokowi-Ma'ruf.
"Di Media Sosial kami alhamdulillah unggul. Itu gerakan organik rakyat menghendaki Prabowo-Sandi menang dan mewujudkan Adil Makmur pada 2019," kata Pipin kepada JawaPos.com, Senin (10/12).
Atas dasar itu, kader PKS itu menilai bahwa trend pemilih Prabowo-Sandi pun terus meningkat. Pipin mengaku pihaknya telah menerjunkan relawan maupun timses untuk bekerja keras merebut suara masyarakat.
"Strategi kami adalah bersatu dan membersamai rakyat dengan menyalurkan aspirasi mereka," tukasnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebutkan bahwa stagnannya elektabilitas kedua paslon yang bertarung di pilpres karena kampanye belum menyentuh hal-hal yang substansial. Sebaliknya, masa kampanye kali ini lebih banyak diisi oleh aksi saling sindir.
"Dua bulan kampanye menambah angka swing voter. Saya menduga itu efek dari kampanye dua paslon yang belum menyentuh substansi perseoalan dan lebih banyak saling nyinyir," katanya.
Selain itu, kata dia, stagnannya elektabilitas kedua paslon menunjukkan, kampanye kedua paslon belum bisa mempengaruhi rakyat. Dia juga menyoroti peran cawapres yang belum signifikan untuk menambal elektabilitas.
Atas dasar itu, dia mengajak kedua paslon untuk mengisi sisa masa kampanye dengan mendidik dan menyentuh persoalan yang ada di masyarakat. Bukan malah saling cari kesalahan dan menghujat.
"Jadinya rakyat apatis terhadap pemilu. Tunjukkan kampanye yang simpati," pungkasnya.
Sebelumnya, hasil survei terbaru survei LSI Denny JA menunjukkan, elektabilitas kedua paslon tidak mengalami peningkatan signifikan, malah cenderung stagnan selama dua bulan masa kampanye. Peneliti LSI Rully Akbar menilai, hal itu terjadi karena tidak adanya adu gagasan antara tim kampanye masing-masing paslon.
Menurut Rully, hingga saat ini tim kampanye pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, masih berkutat pada isu-isu sensasional dan tidak substantif.
Berdasarkan hasil survei November 2018, elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf berada pada angka 53,2 persen. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,2 persen.
Sementara, responden yang masih belum menentukan pilihan sebesar 15,6 persen. Elektabilitas kedua pasangan, kata Rully, tidak banyak bergerak jika dibandingkan sebelum masa kampanye.
Pada Agustus 2018, LSI mencatat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 52,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 29,5 persen. Sedangkan responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 18,3 persen.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
