Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Desember 2021 | 04.55 WIB

Airlangga dan Ganjar dalam Kosmologi Politik Jawa di Pilpres 2024

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima Investment Award 2018 yang diberikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kamis (12/7) malam. - Image

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima Investment Award 2018 yang diberikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kamis (12/7) malam.

JawaPos.com - Otak-atik calon presiden 2024 sudah mulai hangat dibicirakan oleh berbagai forum. Tidak hanya dari segi elektabilitas yang berdasar hasil survei. Tapi juga dibahas dari kosmologi politik Jawa.

Salah satunya seperti yang disorot oleh Politikus Partai Gerindra, Arief Poyuono. Ia meyakini Jongko Jayabaya sebuah ramalan dari Raja Kediri, Prabu Jayabaya (1135-1157 M) akan terjadi. Karena di dalamnya memberikan petunjuk pemimpin memiliki nama dengan akhiran yang jika diakronimkan menjadi "Notonegoro".

Menurutnya, dalam serat Jongko Jayabaya yang ditulis oleh Prabu Jayabaya tersebut, terdapat perhitungan atau ramalan mengenai pemimpin di Indonesia yang terkandung dalam kata 'Notonegoro'.

"Noto memiliki arti menata dan Negoro memiliki arti Negara," ujar Arif Poyuono dalam sebuah diskusi di Jalan Raden Saleh Raya Nomor 47, Jakarta Pusat, (5/12).

Arief menyebut akhiran NO merujuk pada Soekarno, TO pada Soeharto, kemudian NO yang kedua melekat pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sementara BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Megawati Sukarnoputri tidak masuk dalam hitungan, karena mereka tidak sampai lima tahun memimpin.

"Kita lihat negara kita tahun 99-2004, apa yang terjadi? Maluku Utara bergetar, Poso bergetar, bom di mana-mana, ya karena pemimpin itu tidak ada di dalam Jongko Joyoboyo," ujarnya.

Sosok yang kemudian masuk ramalan kembali kepada NO karena yang menjadi presiden setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jokowi yang punya nama kecil Mulyono.

"Jokowi saat lahir nama aslinya Mulyono. Namun ibunya lalu mengganti nama jadi Joko Widodo. Jadi Jokowi masuknya di No, Mulyono," jelas Arief.

Berdasarkan urutan Notonegoro dari Jangka Jayabaya tersebut, setidaknya kata Arief ada tiga nama Ganjar, Airlangga atau Gatot Numantyo. Dari tiga nama, ada dua yang masuk radar calon presiden potensial menurut survei.

"Hanya dua tokoh yang masuk Jongko Joyoboyo, Notonogoro sebagai penerus Jokowi. Yaitu Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo," ujar Arief.

Arief bahkan mengatakan, baik Airlangga, Ganjar juga telah memenuhi syarat berikutnya sebagai presiden yakni harus orang Jawa, lahir di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Jadi seperti itu. Saya bukan enggak percaya sama lembaga survei, saya sangat percaya lembaga survei. Tetapi saya juga mempercayai berkah kata-kaya leluhur orang Jawa, dan harus Jawa," kata Arief.

Oleh karenanya, Arief yakin selain kedua nama itu akan sulit menjadi presiden. Nama-nama seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Prabowo Subianto, Moeldoko, Bambang Soesatyo, Sandiaga Uno, bahkan Puan Maharani disebutnya berada di luar Jongko Joyoboyo.Apabila bukan Ganjar atau Airlangga yang jadi Presiden, maka kemungkinan Jokowi kembali akan menjadi Presiden karena menggenapi Notonegoro dari Jangka Jayabaya.

"Kalau Airlangga atau Ganjar tidak bisa, Jokowi lagi tiga periode. Kan sekarang kita mau ada presiden tiga periode, masih ada pendukungnya, kemungkinan bisa terjadi. Kalau di amendemen, presiden boleh tiga periode," pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore