JawaPos Radar

Pilpres 2019

Masuk Bursa Cawapres, Nasdem Bandingkan Susi dengan Presiden Brasil

06/04/2018, 15:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Masuk Bursa Cawapres, Nasdem Bandingkan Susi dengan Presiden Brasil
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memenangkan lomba olahraga air melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga S Uno, di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/2). (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih enggan membocorkan ihwal calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampinginya. Namun, nama Menteri Keluatan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti disebut-sebut layak mendampingi mantan Walikota Surakarta itu.

Menanggapi masuknya nama Susi dalam bursa cawapres Jokowi, Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya menuturkan, pihaknya akan mendukung sepenuhnya siapapun calon yang akan menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019.

Ia menuturkan, partai besutan Surya Paloh ini menerima apapun yang terbaik untuk mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Masuk Bursa Cawapres, Nasdem Bandingkan Susi dengan Presiden Brasil
Deklarasi pencapresan Joko Widodo saat Rakernas PDIP di Bali. (Muhammad Tan Reha/Jawapos)

“Siapapun yang disodorkan Pak Jokowi kami terima. Kami ikut Pak Jokowi saja. Jadi, enggak nawarin nama kami. Siapa yang terbaik menurut Pak Jokowi kami pun ikut," kata Willy kepada wartawan, Jumat (6/4).

Lebih lanjut, Willy menegaskan, dirinya pun tidak mempermasalahkan status pendidikan pemilik Susi Air itu yang hanya tamatan SMP. Bahkan, dirinya menyamakan dengan Presiden Brazil ke-39 yang juga tidak memiliki pendidikan tinggi.

"Cara berpikir yang salah membedakan (menilai) orang berdasarkan pendidikan. Kita ingat Luiz Inácio Lula da Silva. Luiz Inácio Lula da Silva tamat SD,” tukasnya.

Luiz Inácio Lula da Silva, menurut Willy, memiliki integritas, kredibilitas, rekam jejak dan kemampuan kepemimpinan yang baik. Ia menuturkan, kriteria itu sama dengan yang dimiliki Susi Pudjiastuti.

“Banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita enggak sekolah. Politik itu enggak butuh sekolahan. Yang butuh politik itu keberpihakan dan rekam jejak. Jadi, kalau kita masih di alam demokrasi ini terjebak mendiskriminasi orang berdasarkan jabatan,” ungkapnya.

“Nah orang baik itu enggak tergantung sekolahan. Orang sekolah professor, doktor, koruptor,” sambungnya.

Karena itu, Willy menuturkan, saat ini berbagai kemungkinan masih sangat terbuka terkait cawapres Jokowi. Dirinya pun masih menunggu keputusan final dari jagoannya itu.

(aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up