Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Januari 2022 | 21.46 WIB

Kurikulum Prototipe jadi Dasar Kurikulum Nasional 2024

BERGANTUNG NILAI RAPOR: Pemerintah resmi meniadakan ujian nasional. Sebab, pandemi Covid-19 terus merebak. Sebagai gantinya, siswa harus menjalani ujian sekolah serta mendapatkan nilai bagus di rapor. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

BERGANTUNG NILAI RAPOR: Pemerintah resmi meniadakan ujian nasional. Sebab, pandemi Covid-19 terus merebak. Sebagai gantinya, siswa harus menjalani ujian sekolah serta mendapatkan nilai bagus di rapor. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi berencana untuk menjadikan kurikulum prototipe sebagai kurikulum nasional pada 2024 mendatang. Adapun, kurikulum prototipe ini merupakan kerangka dasar dari rancangan kurikulum nasional.

Maksud dari hal tersebut adalah sekolah diberikan kepercayaan untuk berinovasi secara mandiri dalam mengembangkan metode pembelajaran. Hal ini pun dinilai sebagai terobosan tepat dari kurikulum nasional.

"Kurikulum di tingkat nasional itu sifatnya kerangka dasar. Untuk itu, ada lagi kurikulum di tingkat satuan pendidikan yang dibedakan karena kesadaran kurikulum itu harus kontekstual," ucap Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo secara daring, Minggu (23/1).

Dia mengatakan, sekolah memiliki kewenangan dalam membangun pembelajaran yang seoptimal mungkin bagi para peserta didik. Pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan dari anak, daerah serta sumber daya yang ada di satuan pendidikan tersebut.

"Karena perbedaan yang besar (di sekolah) itu, pusat tidak bisa menetapkan semuanya sama. Maka yang kita buat kerangka dasar dan struktur dasar," ungkap Nino, panggilan akrabnya.

Struktur dasar ini bersifat fleksibel sehingga dapag mengakomodasi kebutuhan pembelajaran di sekolah. Dalam kata lain, satuan pendidikan memiliki ruang improvisasi pada penerapan kurikulum.

Ia menuturkan, pihaknya tidak mematok pembelajaran kontekstual masing-masing sekolah harus seperti apa. Hal terpenting adalah pembelajaran yang sifatnya berorientasi pada siswa.

"Kalau tidak begitu berarti yang harus selalu diubah-ubah ya di tingkat pusat. Kalau kita merancang kurikulum nasional yang fleksibel tentu bisa bertahan lama, tidak cepat diubah-ubah. Yang berubah biarlah di tingkat satuan pendidikan, tiap semester bahkan mesti diimprovisasi terus menerus," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore