
Mendikbud Nadiem Makarim dalam rapat dengan DPR, Kamis (12/12). Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim belum setahun menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Dirinya pun sebelumnya juga tidak berkecimpung di dalam birokrasi pemerintahan Indonesia.
Bahkan, pada saat pertama kali dia menjabat sebagai menteri, dirinya harus menghadapi tantangan pandemi Covid-19 yang membuat dampak masif terhadap aktivitas, seperti melemahnya perekonomian nasional dan juga tidak efektifnya pembelajaran dalam sistem pendidikan.
Padahal sebelum adanya pandemi, dirinya telah membuat berbagai terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Mulai dari penghapusan UN, Merdeka Belajar hingga yang terbaru adalah adopsi teknologi pada sistem pendidikan di masa mendatang.
Ketika ditanya mengenai bagaimana dirinya menilai kinerja dalam peningkatan pendidikan di Indonesia, Nadiem pun menjawab.
"Untuk menilai kinerja saya, ya saya sih selalu tidak puas, waktu pertama kali bicara dengan eselon 1, saya memberikan peringatan kepada mereka kalo saya kerja memang ngga akan pernah puas, jadi jangan harapkan kalau saya bilang puas," ungkap dia melalui siaran streaming, Sabtu (11/7).
Apalagi, menurut dia di pemerintahan banyak hal yang membuat dirinya frustasi. Seperti permasalahan birokrasi, administrasi, regulasi hingga menjadi seseorang yang mengambil keputusan penting.
"Menjadi profil yang sangat publik, berbagai macam keputusan berat yang kita lakukan pasti ada seseorang yang tidak setuju, bagaimana menghandle itu, itu kan bagi saya dan tim saya itu tekanan yang sangat tinggi," tutur dia.
Namun, menurut dia hal terpenting adalah untuk terus aja menjalankan program yang telah diluncurkan dengan optimal. Di mana kekuatan mental harus menjadi utama untuk semua timnya.
"Kinerja kita harus selalu lebih baik dan perlu kita perbaiki terus, tapi yang terpenting adalah kita memberikan segalanya untuk menghasilkan ini (peningkatan pendidikan), kita nggak harus putus asa," jawabnya.
Selain itu, menurut dia, yang memiliki hak dalam menilai kinerjanya adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta masyarakat Indonesia.
"Saya tidak berhak menilai kinerja diri saya sendiri, yang bisa menilai kinerja saya hanya dua, pak presiden dan masyarakat Indonesia, itu adalah dua penilai kinerja saya," pungkasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=mjzU4bBqCjs
https://www.youtube.com/watch?v=9udImu5go4Q
https://www.youtube.com/watch?v=tnYBd3revvo
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
