alexametrics

Nadiem Suka Dipanggil Mas Menteri karena Tidak Mengintimidasi

3 Juli 2020, 14:26:48 WIB

JawaPos.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim atau yang akrab disapa Mas Menteri mengungkapkan lika-liku hidupnya sehingga menjadi seorang pejabat tinggi negara.

Dirinya mengaku bahwa sejak dini telah ditanamkan untuk membuat sesuatu yang bisa berdampak kepada negara. Di mana yang menjadi cerminannya adalah keluarganya yang selalu memberikan kontribusi kepada negara selama tiga generasi.

“Ada beberapa kombinasi (mendidik), orang tua saya selalu mendorong untuk melakukan sesuatu yang berdampak pada negara, karena 3 genarasi keluarga saya ada kontribusi untuk negara dari jaman kemerdekaan. Jadi itu yang ditanamkan, di brainwashing lah dari kecil, jadi bukan hanya sukses secara bisnis tapi harus ada kontribusi pada masyarakat Indonesia,” ungkapnya melalui webinar, Jumat (3/7).

Dia juga menuturkan bahwa dirinya diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Jadi, dia pun dengan bebas berinovasi tanpa adanya batasan untuk melampaui potensi dirinya yang ada kala itu.

“Diberikan otonomi (hak) kemerdekaan untuk mencoba hal-hal yang berbeda dan juga diberikan toleransi untuk gagal di beberapa area dan itu gak apa-apa, bukan malah dihukum, jadi saya udah biasa beberapa kali gagal dan ternyata dukungan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan potensi kita,” jelasnya.

Selain itu, dirinya pun tidak sama sekali pernah bermimpi untuk menjadi menteri. Ia mengaku bahwa dirinya adalah orang yang realistis dan tidak pernah berpikir untuk masuk ke dalam pemerintahan.

“Jelas tidak, menjadi menteri pendidikan saya tidak pernah punya cita-cita bergabung di pemerintah. Saya waktu kecil dibilang aneh karena saya gak punya cita-cita konkret, saya melakukan yang terbaik di depan saya. Jadi terus terang saya gak pernah punya cita-cita konkret tapi saya selalu menjadi yang terbaik di bidang apapun, saya kompetitif nggak mau kalah,” tuturnya.

Saat jadi menteri pun, dia enggan dipanggil Pak Menteri, sebab menurutnya usianya juga masih begitu muda dibandingkan yang lainnya. Maka dari itu, dirinya lebih suka disapa Mas Menteri. “Jauh lebih cocok dipanggil mas mungkin formalitas sudah terlalu tinggi, ada baiknya itu santun dan keramahan tapi formalitas menutup opini-opini atau pembicaraan yang lebih terbuka. Saat memposisikan dengan Mas Menteri jauh lebih terbuka mengungkapkan permasalahan apa adanya. saya kepingin apa adanya dalam mengungkapkan permasalah pendidikan dan secara emosional lebih dekat. Jadi orang tidak terintimidasi dengan kata Mas Menteri,” tuturnya. (*)

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Saifan Zaking

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads