
Photo
JawaPos.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim atau yang akrab disapa Mas Menteri mengungkapkan lika-liku hidupnya sehingga menjadi seorang pejabat tinggi negara.
Dirinya mengaku bahwa sejak dini telah ditanamkan untuk membuat sesuatu yang bisa berdampak kepada negara. Di mana yang menjadi cerminannya adalah keluarganya yang selalu memberikan kontribusi kepada negara selama tiga generasi.
"Ada beberapa kombinasi (mendidik), orang tua saya selalu mendorong untuk melakukan sesuatu yang berdampak pada negara, karena 3 genarasi keluarga saya ada kontribusi untuk negara dari jaman kemerdekaan. Jadi itu yang ditanamkan, di brainwashing lah dari kecil, jadi bukan hanya sukses secara bisnis tapi harus ada kontribusi pada masyarakat Indonesia," ungkapnya melalui webinar, Jumat (3/7).
Dia juga menuturkan bahwa dirinya diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Jadi, dia pun dengan bebas berinovasi tanpa adanya batasan untuk melampaui potensi dirinya yang ada kala itu.
"Diberikan otonomi (hak) kemerdekaan untuk mencoba hal-hal yang berbeda dan juga diberikan toleransi untuk gagal di beberapa area dan itu gak apa-apa, bukan malah dihukum, jadi saya udah biasa beberapa kali gagal dan ternyata dukungan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan potensi kita," jelasnya.
Selain itu, dirinya pun tidak sama sekali pernah bermimpi untuk menjadi menteri. Ia mengaku bahwa dirinya adalah orang yang realistis dan tidak pernah berpikir untuk masuk ke dalam pemerintahan.
"Jelas tidak, menjadi menteri pendidikan saya tidak pernah punya cita-cita bergabung di pemerintah. Saya waktu kecil dibilang aneh karena saya gak punya cita-cita konkret, saya melakukan yang terbaik di depan saya. Jadi terus terang saya gak pernah punya cita-cita konkret tapi saya selalu menjadi yang terbaik di bidang apapun, saya kompetitif nggak mau kalah," tuturnya.
Saat jadi menteri pun, dia enggan dipanggil Pak Menteri, sebab menurutnya usianya juga masih begitu muda dibandingkan yang lainnya. Maka dari itu, dirinya lebih suka disapa Mas Menteri. "Jauh lebih cocok dipanggil mas mungkin formalitas sudah terlalu tinggi, ada baiknya itu santun dan keramahan tapi formalitas menutup opini-opini atau pembicaraan yang lebih terbuka. Saat memposisikan dengan Mas Menteri jauh lebih terbuka mengungkapkan permasalahan apa adanya. saya kepingin apa adanya dalam mengungkapkan permasalah pendidikan dan secara emosional lebih dekat. Jadi orang tidak terintimidasi dengan kata Mas Menteri," tuturnya. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
