
Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim saat rapat bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/5/2021). Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim mengatakan seluruh sekolah harus menerapkan belajar tatap muka terbatas. Dia mengatakan tempat-t
JawaPos.com - Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim meluncurkan Merdeka Belajar episode ke-19. Kali ini dia memperkenalkan adanya rapor pendidikan Indonesia.
Rapor ini merupakan kelanjutan dari adanya Asesmen Nasional (AN). Kemendikbudristek diharapkan tidak berhenti pada pendataan saja. Tetapi dilanjutkan program perbaikan kualitas yang nyata.
Merdeka Belajar episode ke-19 disampaikan Nadiem di Jakarta pada Jumat (1/4). Dia menegaskan, Rapor Pendidikan Indonesia adalah kelanjutan dari program AN yang sudah dijalankan Kemendikbudristek sejak beberapa waktu lalu.
Nadiem mengatakan AN telah menjadi sistem evaluasi pendidikan mutakhir. Penyelenggaraan AN berfokus pada kompetensi literasi, numerasi, karakter, dan kondisi lingkungan belajar. Sehingga mendukung proses pembelajaran yang efektif.
"Sekarang kami menghadirkan platform Rapor Pendidikan yang berisi laporan hasil Asesmen Nasional secara komprehensif dan analisis lintas sektor yang holistik untuk masing-masing satuan pendidikan dan daerah," imbuhnya.
Rapor Pendidikan sebagai sebuah platform, mengintegrasikan berbagai data pendidikan untuk membantu satuan pendidikan dan dinas pendidikan mengidentifikasi capaian dan akar masalah. Selain itu juga untuk melakukan refleksi, lalu merancang strategi pembenahan berbasis data.
Peluncuran Rapor Pendidikan Indonesia itu direspons beragam oleh kalangan pendidikan. Sekretaris Jenderal Perkumpulan Teacherpreneur Indonesia Cerdas (PTIC) Dodi Iswanto mengatakan adanya rapor itu tentu niatnya baik. Khususnya untuk mengumpulkan data-data pendidikan di tanah air.
"Tapi kelemahan kita selama ini bukan di pendataannya. Tetapi berada pada tahap eksekusinya," kata Dodi.
Dia berharap data yang dikumpulkan dari AN tersebut, benar-benar ditindaklanjuti dengan kebijakan yang tepat. Sehingga pendataan berujung pada intervensi kebijakan atau program perbaikan pendidikan. Tidak sebatas pendataan kemudian masuk laci.
Dia mengatakan di era Mendikbud Anies Baswedan dikenal sebutan Peta Mutu Pendidikan (PMP). Kemudian program PMP itu diganti dengan Rapor Pendidikan Indonesia oleh Nadiem.
Jadi Dodi mengatakan, untuk urusan pemetaan mutu pendidikan dan perencanaan kegiatan berbasis data, sebenarnya bukan hal baru bagi Kemendikbudristek. "Sekali lagi yang harus Kemendikbudristek pastikan adalah peningkatan kualitas pendidikan," katanya.
Kemudian penuntasan masalah pendidikan di daerah segera di eksekusi dilapangan secara cepat dan akurat. Dodi mengatakan, Kemendikbudristek sejatinya punya datanya serta tahu daerah mana saja yang aksesnya sulit.
Kemudian daerah dengan mutu pendidikan nya rendah, partisipasi sekolah masih rendah, serta tata kelola pendidikannya yang masih berantakan. Serta data kasus intoleransi dan bullying terjadi.
"Tapi anehnya hal tersebut tak kunjung juga terselesaikan," pungkasnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
