
Tsunami di Selat Sunda terjang Anyer dan Lampung Selatan.
JawaPos.com - Indonesian Tsunami Early Warning Systems (Ina-TEWS) milik BMKG memang didesain untuk mendeteksi tsunami yang dibangkitkan gempa tektonik. Saya cukup yakin bahwa jika malam itu terjadi gempa, BMKG pasti akan mengirimkan peringatan dini.
Namun, penyebab tsunami yang menerjang Banten dan Lampung Selatan Sabtu malam lalu bukan disebabkan gempa. Bahkan, saya dengar tremor saja tidak ada. Maka, wajar jika BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami.
Hal itu bisa diatasi jika kita memiliki alat pendeteksi tsunami yang dipasang langsung di perairan lepas. Baik berupa pelampung tsunami (tsunami buoy) maupun kabel pengukur gelombang tsunami (cable based tsunamimeter: CBT).
Saya yakin, dengan bantuan buoy, masyarakat di pesisir punya golden time yang lebih panjang untuk menyelamatkan diri. Pasang saja beberapa pelampung di dekat Krakatau. Ketika gelombang tsunami terjadi, saya menghitung travel time hingga mencapai daratan mungkin 25 hingga 30 menit.
Katakanlah 10 menit untuk memproses peringatan dini, lalu menyebarkan informasi sampai diterima masyarakat, masih ada 20 menit untuk kabur menyelamatkan diri. Ketika peringatan dini kita absen seperti Sabtu malam lalu itu (22/12), tentu akan jatuh banyak korban.
Selepas tsunami Aceh, memang Indonesia sempat memiliki beberapa pelampung tsunami. Namun, kemudian jadi korban vandalisme orang-orang tidak bertanggung jawab. Akhirnya pelampung-pelampung tersebut dicopot dan Ina-TEWs mengandalkan sistem pemodelan. Baru ketika kejadian tsunami Palu, kita baru sadar pentingnya pelampung-pelampung tersebut.
Wacana penguatan sistem peringatan dini sudah ada sejak lama. Namun, sampai sekarang semua masih di atas kertas saja.
Kita butuh pelampung tsunami. Sebanyak-banyaknya. Pemerintah menugasi saya untuk menghitung jumlah yang dibutuhkan. Tapi, menurut saya, kita butuh sebanyak-banyaknya. Pilihannya, bisa pelampung yang di atas air atau kabel di bawah laut agar tidak gampang dirusak dan aman dari vandalisme.
Selain berfungsi untuk mendeteksi tsunami, buoy atau CBT bisa digunakan untuk kepentingan lain. Seperti pelayaran dan oseanografi.
Selain peringatan dini, jalur evakuasi dan shelter perlindungan juga tidak kalah penting. Mungkin untuk daerah seperti Pantai Carita, di belakangnya ada gunung dan perbukitan untuk melarikan diri. Namun, daerah Pantai Tanjung Lesung sampai Taman Jaya itu datar dan luas sekali. Tidak ada perlindungan yang cukup memadai.
Seharusnya pemerintah dan pengelola resor dan cottage di sana lebih aware dengan ancaman tsunami.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022