
Imunisasi MR di Aceh berjalan tidak mulus. Peserta yang mengikuti hanya 7 persen dari target yang diharapkan. Hal itu mengakibatkan anak-anak bumi serambi Makkah itu terancam kena rubela.
JawaPos.com - Berbagai gerakan antivaksin Measles Rubella (MR) atau campak rubella masih saja disuarakan oleh para orang tua. Alasannya macam-macam, ada yang apatis atau acuh tak acuh, ada juga yang khawatir anaknya akan demam setelah divaksin, hingga masalah polemik haram halal kandungan vaksin.
Jika saja masyarakat mau berbesar hati untuk bergotong royong melawan virus MR, maka Indonesia bisa terbebas dari ancaman virus ini. Hal itu ditegaskan oleh Disease Prevention Expert yang juga CEO dari In Harmony Vaccination dr. Kristoforus Hendra Djaya SpPD. Menurutnya, para orang tua atau masyarakat harus paham mengenai Herd Immunity yaitu Kekebalan Kawanan yang bisa melawan virus jika satu lingkungan sudah diimunisasi.
"Herd Immunity itu adalah sebuah kondisi di mana sebuah lingkungan tidak akan tertular jika angka cakupan imunisasi bisa 90-95 persen. Jadi yang belum terimunisasi 5 persen istilahnya 'Numpang Selamat' dengan yang sudah diimunisasi. Barulah virusnya bisa kalah," kata dr. Kristoforus kepada JawaPos.com, Jumat (14/9).
Herd Immunity merupakan situasi yang sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect). Sehingga masyarakat lain turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan.
Dia menambahkan suatu kawasan yang sudah diimunisasi hingga 95 persen akan membuat keluarga terlindungi atau tak mudah terpapar virus. Sehinga, kata dr. Kristoforus, seseorang yang menolak diimunisasi atau tak mengizinkan anaknya diimunisasi sebetulnya hal itu menyangkut hajat hidup orang banyak juga.
"Jadi yang dipahami masyarakat itu adalah kalau diimunisasi itu hanya memikirkan diri sendiri. Padahal dampaknya sangat luas ya untuk masyarakat. Tak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi masyarakat," paparnya.
Maka dr. Kristoforus menyesalkan jika masih ada masyarakat yang menolak diimunisasi atau bahkan mengajak masyarakat lainnya untuk menolak. Sebab, selain 32 juta anak yang belum diimunisasi, menurutnya masih ada masyarakat di atas 15 tahun yang belum menjadi sasaran imunisasi bisa saja terpapar.
"Terutama para ibu hamil yang bisa mengancam para calon bayi atau janin. Mereka dan masyarakat di atas anak usia 15 tahun kan tidak termasuk jadi sasaran imunisasi massal nasional. Itu bagaimana, jangan sampai virusnya yang menang," tegasnya.
Sekedar informasi, angka cakupan imunisasi vaksin campak rubella atau Measles Rubella (MR) dibeberapa provinsi di Indonesia masih rendah. Setidaknya ada delapan provinsi dengan cakupan imunisasi MR yang masih rendah dengan rata-rata di bawah 40 persen.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022