
Peneliti ICW Donal Fariz, saat diwawancarai awak media
JawaPos.com - Kasus dugaan korupsi berjamaah kembali lagi terjadi. Kali ini terjadi di Kota Malang, Jawa Timur. Sebanyak 22 anggota DPRD Malang telah ditetapkan tersangka oleh KPK karena diduga terlibat suap dalam perkara APBD-P Malang.
Peneliti Indonesia Curruption Watch (ICW), Donal Fariz mengatakan, dugaan korupsi berjamaah tersebut terjadi lantaran belum adanya pembenahan dari partai politik terhadap para kadernya.
"Ini kan problem masih yang tidak hanya terjadi di pusat atau di daerah, pembenahannya juga tidak hanya di tata kelola pemerintahan, tetapi dari sektor kepartaian," ujar Donal kepada JawaPos.com, Senin (3/9).
"Karena kalau soal kewenangan DPRD itu enggak banyak juga dibatasi, tidak sebebas dalam pengadaan barang dan jasa. Terlibat dalam pembahasan anggaran tapi tidak bisa detaul juga," tambahnya.
Menurutnya dari sektor pemerintahan sudah banyak perbaikan yang dilakukan. Namun berbanding terbalik di tingkat partai. Pasalnya kader-kader partai terus saja ada yang tersangkut korupsi.
"Menurut saya pemerintahan sudah banyak dilakukan perbaikan, tapi di sektor kepartaian belum dibenahi. Misalnya soal pendanaan partai, demokrasi di internal partai juga harus dibenahi," katanya.
Sebelumnya, kasus suap APBD-P Kota Malang tahun 2015-2016 telah menyeret sejumlah petinggi eksekutif dan legislatif di Kota Malang, mulai Wali Kota nonaktif Mochammad Anton, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pengawasan Bangunan Jarot Edy Sulistyo, hingga dua Ketua DPRD yakni M. Arief Wicaksono dan Ketua DPRD pengganti, Abdul Hakim.
Dalam pengembangan penyidikan, KPK menetapkan 22 anggota DPRD dalam kasus tersebut, setelah sebelumnya menetapkan puluhan Anggota DPRD Kota Apel tersebut sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Mereka di antaranya, Asia Iriani (PPP), Indra Tjahyono (Demokrat), Choeroel Anwar (Golkar), Moh Fadli (Nasdem), Bambang Triyoso (PKS), Een Ambarsari (Gerindra), Erni Farida (PDIP), Syamsul Fajrih (PPP), Choirul Amri (PKS), dan Teguh Mulyono (PDIP).
Kemudian Imam Ghozali (Hanura), Letkol Purn Suparno (Gerindra), Afdhal Fauza (Hanura), Tutuk Haryani (PDIP), Soni Yudiarto (Demokrat), Ribut Haryanto (Golkar), Teguh Puji Wahyono (Gerindra), Harun Prasojo (PAN), Hadi Susanto (PDIP), Priatmoko (PDIP), Diana Yanti (PDIP), Sugiarto (PKS).

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
