Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Oktober 2021 | 18.21 WIB

Berdialog dengan 170 Mahasiswa, Nadiem Siap Terima Masukan dan Kritik

Mendikbud Nadiem Makarim (Dok . Dery Ridwamsah/JawaPos.com) - Image

Mendikbud Nadiem Makarim (Dok . Dery Ridwamsah/JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim berdialog dengan 170 mahasiswa perwakilan dari 34 provinsi. Dirinya pun memberikan kesempatan kepada perwakilan mahasiswa menyampaikan masukan, kritik, maupun apresiasi terhadap program dan kebijakan Merdeka Belajar, khususnya Kampus Merdeka.

“Kita menyadari, karena ini baru yang pertama kalinya, masih banyak kekurangan. Untuk itu, kami membutuhkan banyak masukan dari teman-teman. Yang sudah jelas, kami di Kementerian harus meningkatkan efektivitas dari sistem informasi,” ungkap dia dalam acara Dialog dan Deklarasi Mahasiswa Merdeka dikutip, Jumat (29/10).

Dika, Mahasiswa peserta dialog asal Universitas Dhyana Pura, Bali mengutarakan idenya terkait pendanaan di desa untuk membantu perekonomian dan pengembangan produk-produk yang ada di masyarakat. Menurutnya, saat ini masih banyak dana yang belum bisa dijangkau untuk meningkatkan kualitas desa itu sendiri.

Menjawab hal ini, Menteri Nadiem mengatakan kepada para mahasiswa yang hadir, jika memiliki ide-ide terkait proyek di luar kampus yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya untuk mengumpulkan proposal dan mengajukan kepada pimpinan perguruan tinggi.

“Saya sangat setuju dengan pemikiran jangka panjang yang telah disampaikan. Di sinilah peran kita, kita harus bergotong royong untuk suatu hal yang positif bagi lingkungan,” jelasnya.

Lalu, Aji Agung Pangalih dari Universitas Teknokrat Indonesia, Lampung bertanya kepada Mas Menteri terkait mekanisme pendidikan karakter yang harus diterapkan, khususnya di masa pandemi. Menurutnya, saat ini terdapat suatu daerah di Lampung yang mengutamakan pendidikan karakter dibandingkan pendidikan akademik, karena kekhawatiran terjadinya kemerosotan karakter generasi muda akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui gawai.

Mengenai hal ini, Menteri Nadiem setuju bahwa pendidikan karakter menjadi hal yang utama yang kurang optimal dalam pelaksanaan PJJ. “Betapa buruknya perubahan karakter siswa-siswa kita yang terus di rumah. Mereka bosan, mereka terisolasi. Teknologi ini merupakan suatu hal yang di satu sisi potensinya besar, tetapi di satu sisi lain menjadi ancaman yang luar biasa,” ujarnya.

Untuk itu, menurut Menteri Nadiem, salah satu solusi yang diperjuangkan Kemendikbudristek adalah pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat. Sehingga, pendidikan karakter dengan pendidikan akademik kepada siswa dapat diberikan secara bersama-sama oleh gurunya.

Pada kesempatan yang sama, Mendikbudristek mengungkapkan upaya Kemendikbudristek dalam menghapuskan tiga dosa besar dalam dunia pendidikan, yaitu kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. “Dalam waktu dekat, kita akan fokus pada salah satu dosa itu dan membuat program untuk memitigasi dan menghapus epidemi kekerasan seksual,” tuturnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore