
TIDAK PENUH LAGI: Perawatan pasien di RS Hermina Podomoro kemarin (15/9). BOR RS rujukan Covid-19 turun hingga 25,04 persen. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
JawaPos.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui saat ini ada lonjakan kasus Covid-19 Omicron dan mulai membuat angka keterisian tempat tidur rumah sakit (BOR) mulai naik. Rupanya penyebabnya adalah karena warga yang bergejala ringan pun memilih dirawat di rumah sakit.
Kepada JawaPos.com, Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, menyebutkan angka BOR di DKI Jakarta yakni ruang isolasi DKI Jakarta terisi 38 persen, BOR ICU DKI Jakarta yakni 13 persen, BOR isolasi nasional 7 persen, dan BOR ICU nasional 3 persen.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, alasan dan situasi rumah sakit mendadak penuh di tengah lonjakan varian Omicron. Hal itu karena masyarakat masih trauma dengan ganasnya varian Delta. Sehingga walaupun gejala ringan tetapi tetap memilih untuk dirawat di RS.
"Yang sekarang dirawat di rumah sakit sebetulnya tidak semua perlu dirawat. Kalau perlu dirawat sebetulnya hanya jika dia memerlukan oksigen berdasarkan data kita itu jumlahnya hanya sekitar 5 sampai 6 persen. Yang sekarang ada di rumah sakit karena sebenarnya kalau dia tidak ada gejala informasi sendiri di rumah dia bisa sembuh atau kalau ada gejala batuk sedikit demam itu juga tidak perlu di rumah sakit," kata Menkes Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (27/1).
Maka jika masuk kategori ringan pasien bisa dirawat di rumah sendiri. Lonjakan kasus positif angka 7 ribu hingga 8 ribu sehari dua hari ini, kata dia, sebetulnya sebagian besar tidak perlu dirawat di rumah sakit. Ternyata itu karena masyarakat masih trauma varian Delta.
"Kita memahami karena orang-orang masih trauma di bulan Juli lalu bahwa kalau kita kena meski ke rumah sakit. Sebetulnya guidancenya kalau saturasi masih di atas 94-95 dia bisa dirawat di rumah," tegas Menkes Budi.
Masyarakat dengan gejala ringan dapat mengakses layanan telemedicine. Pasien akan dirawat secara remote oleh dokter telemedicine dan obatnya akan dikirimkan langsung kepada mereka.
"Jadi nanti kita akan melihat dalam waktu singkat kenaikan jumlah kasus yang cukup tinggi. Ciri-ciri kedua dari varian Omicron ini dia hospitalisasinya lebih rendah. Tingkat keparahannya juga lebih rendah sehingga kita juga akan melihat yang masuk ke rumah sakit jadi lebih banyak orang-orang yang terkena Omicron dirawat di rumah atau isoman," ungkap Menkes Budi.
"Itu sebabnya strategi pemerintah dalam menghadapi gelombang omikron ini sedikit berbeda dengan menghadapi gelombang Delta karena Delta keparahannya tinggi sehingga kita harus mempersiapkan rumah sakit dengan sangat hebat karena tekanannya tinggi sekali. Sedangkan omicron yang tinggi penularannya tapi keparahannya rendah karena sebagian besar adalah OTG atau asimtomatik atau dia sakitnya ringan," tutupnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
