Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Oktober 2026 | 21.30 WIB

Asap Masih Pekat, 570 Hektare Lahan Masih Terbakar di 6 Provinsi

Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin) - Image

Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin)

JawaPos.com - 570 hektare lahan yang tersebar di enam provinsi menjadi prioritas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah itu berdasarkan Dashboard Karhutla 2026 di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Akan tetapi beberapa daerah terdampak, asap masih pekat dan mengganggu aktivitas masyarakat. Tidak hanya itu, asap karhutla membuat beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia terganggu.

Lantas, benarkah asap tersebut hanya berasal dari 570 hektare lahan yang saat ini masih terbakar dan tengah ditangani oleh pemerintah?

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Meski luasan lahan yang terbakar tinggal ratusan hektare, karakter lahan juga bisa berpengaruh terhadap sebaran asap. 

”Pertama, karakteristik lahan gambut dan kedalaman lapisan yang terbakar. Kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Gambut merupakan material organik yang dapat terbakar secara perlahan di bawah permukaan tanah, terutama ketika kondisinya kering,” terang Berton saat dihubungi pada Selasa (13/10). 

Kondisi itu membuat api mudah merambat masuk ke lapisan yang lebih dalam. Saat bersamaan, di permukaan lahan bisa saja kobaran api yang besar di lapisan dalam tidak tampak. Alhasil pembakaran terus terjadi dan menghasilkan asap dalam jumlah signifikan.

Menurut Berton, kondisi tersebut kerap menyulitkan petugas di lapangan. Sebab, api semakin sulit dipadamkan dan tidak cukup hanya dengan menyiram bagian permukaan. Selain karakteristik lahan, hal kedua yang juga perlu diperhatikan adalah durasi pembakaran dan karakteristik asap yang dihasilkan.

”Lahan gambut yang terus membara selama berhari-hari dapat menghasilkan asap secara berkelanjutan,” ucap Berton. 

Yang ketiga, arah dan kecepatan angin. Berton menyebut, hal itu juga akan berpengaruh terhadap sebaran asap yang dihasilkan dari kebakaran di lahan gambut. Angin bisa membawa partikel asap ke permukiman, kota, dan wilayah lain yang jaraknya cukup jauh dari sumber kebakaran.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore