Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 23.03 WIB

Megawati dan Keluarga Antarkan Guruh Soekarno Putra ke Peristirahatan Terakhir di TPU Karet Bivak

Presiden ke-5 RI sekaligus kakak kandung Guruh, Megawati Soekarnoputri bersama bersama Ketua DPR RI Puan Maharani dan segenap keluarga dan kerabat saat prosesi pemakaman Guruh Soekarno Putra di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu (26/9/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Presiden ke-5 RI sekaligus kakak kandung Guruh, Megawati Soekarnoputri bersama bersama Ketua DPR RI Puan Maharani dan segenap keluarga dan kerabat saat prosesi pemakaman Guruh Soekarno Putra di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu (26/9/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri mengantarkan adik bungsunya, Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra, ke peristirahatan terakhirnya di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat (Jakpus), pada Sabtu siang (26/9). Mega didampingi oleh putranya Prananda Prabowo dan Puan Maharani.

Guruh dimakamkan di samping makam ibundanya, Fatmawati. Megawati bersama keluarga besar tampak hadir sejak awal prosesi pemakaman berlangsung. Beberapa tokoh PDI Perjuangan seperti Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hasto Kristiyanto, Gubernur Jakarta Pramono Anung, dan Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, juga hadir.

Rano bahkan mewakili keluarga Guruh membacakan pesan terakhir sebelum jenazah dikebumikan. Menurut Rano, mendiang bukan manusia biasa. Sepanjang hidupnya, pria yang meninggal dunia di usia 73 tahun itu telah menorehkan tinta emas. Khususnya pada bidang seni dan kebudayaan.

”Hari ini Indonesia kehilangan seorang seniman besar. Indonesia kehilangan seorang maestro budaya. Keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan seorang pejuang partai dan kaum marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat,” kata dia.

Guruh, lanjut Rano, adalah putra Bung Karno dan Fatmawati. Orang tuanya adalah tokoh bangsa. Namun, Guruh tidak berada di bawah bayang-bayang nama besar Bung Karno dan Fatmawati. Dia memilih jalannya untuk terus menggali kesenian dan kebudayaan yang sudah digelutinya sejak lama.

”Dia memilih menciptakan jalannya sendiri. Dan jalan itu bernama kebudayaan. Mas Guruh mencintai Indonesia dengan cara yang sangat indah. Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia, dia menyanyikannya, dia menciptakan panggung untuknya, dia menggali kekayaan tradisinya, dan dia mempersembahkan hidupnya,” kenang Rano.

Pada dekade 1970-an, kiprahnya berkembang menjadi lebih luas. Guruh mendirikan The Flower Poetman, aktif di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, serta mendalami berbagai seni tari dan musik tradisional. Pada 1980-an, Guruh semakin aktif menghasilkan pertunjukan berskala nasional dan internasional.

Beberapa karya pentingnya antara lain Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia, Gilang Indonesia Gemilang, serta berbagai pertunjukan yang dibawa ke luar negeri. Karya-karya itu, lanjut Rano, akan abadi meski Guruh sudah berpulang. Dalam setiap karya tersebut, almarhum terus hidup.

Selain keluarga besar dan tokoh-tokoh PDI Perjuangan, beberapa menteri seperti Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Agama Nasaruddin Umar juga tampak hadir dalam prosesi pemakaman Guruh. Terlihat pula mantan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore