
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung melakukan penyegelan terhadap lokasi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat, Selasa (8/9).
JawaPos.com - Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) berkurang. Berdasarkan pemantauan per malam sebelumnya, Senin (7/9), jumlah hotspot di Ketapang tercatat tinggal 13 titik.
Hal ini diungkapkan saat Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar). Raja Juli mengecek kondisi di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Selasa (8/9).
Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada meskipun jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Ketapang terus mengalami penurunan. Ia menyebut penurunan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai unsur dalam penanganan karhutla.
“Sekali lagi dari data yang ada per malam tadi, hotspot di Ketapang, berkat kerjasama semua pihak, Pak Bupati, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, dan seterusnya, angkanya terus turun, tinggal 13 hotspot,” kata Raja Juli.
Meski jumlah titik panas telah berkurang, Raja Juli menegaskan kondisi tersebut bukan alasan untuk menghentikan upaya pemadaman. Sebaliknya, sisa hotspot yang ada harus segera ditangani agar tidak kembali meluas.
“Tetapi jangan sampai penurunan angka hotspot ini membuat kita justru menganggap kerjaan sudah selesai. Membuat kita menjadi berleha-leha,” tegasnya.
Ia kemudian meminta seluruh unsur yang terlibat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menuntaskan titik api yang masih tersisa.
“Justru momentum mumpung 13, semua harus mengejar ya titik-titik apinya dan diselesaikan dipadam, dipadamkan," urainya.
Raja Juli juga menyoroti karakteristik lahan gambut yang membuat proses pemadaman karhutla menjadi lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar telah berakhir.
Menurut dia, bara atau sumber api masih dapat bertahan di bawah permukaan gambut meski dari atas tidak lagi terlihat kobaran api. Kondisi tersebut berpotensi memicu munculnya kembali api, terutama ketika angin bertiup.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022