Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 September 2026 | 16.10 WIB

Soal Narasi Konspirasi HAARP di Balik Erupsi Gunung Api, Pakar: Tidak Masuk Akal!

Erupsi Gunung Semeru (Istimewa). - Image

Erupsi Gunung Semeru (Istimewa).

JawaPos.com - Tudingan mengenai fenomena erupsi beruntun enam gunung api di Indonesia akibat rekayasa teknologi maupun senjata konspirasi asing seperti High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dinilai sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian.

Pegiat mitigasi bencana dan pakar sains, Dr. Daryono, menegaskan bahwa seluruh aktivitas vulkanik yang terjadi murni disebabkan oleh dinamika tektonik dan proses konveksi alamiah bumi.

Pernyataan ini merespons spekulasi yang dilontarkan Deputi Bakom, Ulta Levenia Nababan.

Melalui akun media sosial pribadinya, Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya keterkaitan antara fenomena erupsi beruntun ini dengan proyek HAARP serta momentum geopolitik usai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

Meski mengakui pandangannya bersifat pribadi dan belum memiliki bukti ilmiah, narasi tersebut memicu perhatian publik.

Energi Mantel Bumi vs Sinyal Buatan Manusia

Menanggapi spekulasi tersebut, Dr. Daryono menjelaskan bahwa dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif. Skala energi ini mustahil dibangkitkan, disimulasi, apalagi dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun.

Energi yang memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Proses ini terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya lebih rendah dari batuan sekitar, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

"Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal. Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," tegas Daryono, Selasa (8/9).

Dilihat dari batuan hukum fisika, lapisan batuan padat setebal puluhan kilometer bersifat meredam gelombang elektromagnetik pada jarak yang sangat pendek.

Oleh karena itu, sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme interaksi fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman. Manusia juga tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore