
Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah di rumah tahanan Merah Putih KPK, Jumat (24/7/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Mantan Wakil Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Agus Santoso, mendorong Tim 9 Kejaksaan Agung (Kejagung) dapat mengusut secara menyeluruh asal-usul kepemilikan 74 kilogram emas dan uang tunai senilai Rp 476 miliar yang ditemukan saat penggeledahan oleh penyidik Kortas Tipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya. Menurut Agus, penyidik memiliki kewenangan untuk menelusuri sumber dan kepemilikan aset bernilai fantastis yang diduga berkaitan dengan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Menurutnya, pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan aset yang ditemukan dengan profil kekayaan serta sumber penghasilan pihak yang bersangkutan.
"Dari pemberitaan penggerebekan di beberapa tempat usaha dan rumah yang terkait dgn kepemilikan aset FA tersebut semestinya bisa ditelusuri untuk pembuktian kepemilikan aset yang di luar kewajaran. Misal dari kepemilikan aset rumah dan aset modal usaha yang bersangkutan," kata Agus dikonfirmasi, Selasa (4/8).
Agus menjelaskan, salah satu langkah yang dapat ditempuh penyidik ialah mencocokkan temuan aset tersebut dengan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Apabila harta itu tidak tercantum dalam laporan kekayaan, kondisi tersebut layak menjadi bahan pendalaman dalam proses penyidikan.
"Kalau tidak dilaporkan maka bisa dipertanyakan dan didalami tentang alasan mengapa aset-aset itu tidak dilaporkan di LHKPN," tegasnya.
Selain menyoroti LHKPN, Agus juga menilai pola penyimpanan dana dalam bentuk emas batangan maupun valuta asing dapat mengindikasikan praktik penempatan dana di luar sistem perbankan atau un-banked placement. Menurutnya, pola seperti itu kerap dikaitkan dengan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
"Ini pola placement di luar bank atau disebut sebagai un-banked placement dan pola pricous metal placement," ujarnya.
Ia menambahkan, penyimpanan kekayaan dalam bentuk logam mulia maupun mata uang asing dapat menjadi cara untuk menyamarkan asal-usul aset sekaligus menjaga nilainya. Agus mengatakan, apabila pihak yang diperiksa memiliki jaringan usaha seperti money changer, toko emas, atau peleburan emas, maka aspek tersebut patut menjadi fokus penyelidikan.
"Jadi jika yang bersangkutan memiliki jaringan bisnis berupa Money Changer dan Toko Mas atau Peleburan Mas, ya patut diduga bahawa yang bersangkutan dan jaringannya sudah mempersiapkan ekosistem bisnis untuk melakukan upaya pencucian uang hasil kejahatan agar bisa masuk ke sistem ekonomi yang sah," jelasnya.
Menanggapi pernyataan kuasa hukum tersangka Don Ritto yang mengklaim uang ratusan miliar dan emas 74 kilogram merupakan milik kliennya, Agus mempertanyakan alasan aset dalam jumlah sangat besar dititipkan kepada pihak lain. Menurutnya, pola tersebut kerap ditemukan dalam praktik penyamaran kepemilikan aset hasil kejahatan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022