
Ilustrasi seismograf yang merekam aktivitas gempa bumi Foto: (Gulf News)
JawaPos.com - Potensi penggunaan gas radon sebagai alat pendeteksi dini gempa bumi kembali menjadi sorotan hangat di kalangan praktisi kebencanaan. Namun, benarkah pelepasan gas dari dalam bumi ini bisa menjadi indikator yang valid dan akurat?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, membedah secara mendalam validitas ilmiah di balik metode yang sudah diteliti selama lebih dari setengah abad ini. Menurutnya, meski menjanjikan secara teoretis, ketergantungan pada satu parameter ini masih menyimpan banyak kelemahan fundamental.
Gagasan mengenai gas radon sebagai prekursor (tanda-tanda) gempa sejatinya bukan hal baru. Penelitian intensif telah dimulai sejak akhir tahun 1960-an. Hipotesisnya sederhana: ketika tekanan pada batuan meningkat menjelang gempa, akan muncul mikroretakan.
Secara mekanis, retakan ini membuat gas radon, hasil peluruhan uranium di dalam batu, lebih mudah lolos ke tanah, air tanah, hingga atmosfer.
"Tokoh-tokoh pionir seperti Ulomov, Tatsuo Wakita, dan John C. King sempat mencatat adanya anomali konsentrasi radon yang mendahului beberapa peristiwa gempa besar," ujar Daryono dalam keterangannya, Selasa (30/6). Catatan inilah yang sempat memicu optimisme besar di kalangan komunitas ilmiah dunia kala itu.
Namun, seiring bertambahnya data observasi selama puluhan tahun, para ilmuwan mulai bersikap skeptis. Validitas metode ini ditinjau ulang secara ketat.
Salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah sulitnya memisahkan sinyal tektonik murni dari gangguan (noise) lingkungan sekitar. Berdasarkan studi literatur geofisika, banyak anomali radon yang tercatat ternyata bukan dipicu oleh pergerakan lempeng bumi.
Lonjakan konsentrasi gas tersebut justru kerap dipengaruhi oleh faktor meteorologi dan hidrologi setempat, seperti curah hujan, perubahan tekanan atmosfer, kelembapan, hingga suhu udara.
Selain faktor cuaca, sifat alami gas radon juga menjadi batasan serius. Radon memiliki waktu paruh yang sangat singkat, yaitu hanya sekitar 3,8 hari saja.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
